Populasi Prasejarah Sundaland


Sundaland ~50 kya

Sundaland ~50 kya

Tempat lahir peradaban manusia bisa jadi bukan Timur Tengah yang selama ini diusulkan banyak kalangan akademisi, mungkin saja area dataran rendah di Kepulauan Asia Tenggara. Karena sebagian besar dataran rendah tersebut sekarang ‘tenggelam’, berada di bawah laut, sejak ribuan tahun yang lalu (lebih tepatnya karena naiknya permukaan air laut), kita sepertinya tidak menyadari signifikansi dari kemungkinan tersebut sampai awal abad ke-21.

Setidaknya ada tiga paper menarik yang dipublikasikan awal tahun ini berkaitan dengan sejarah genetik populasi Indonesia. Walaupun data yang dipresentasikan hanya sebagian, namun data tersebut bisa melengkapi puzzles yang selama ini belum terjawab, sehingga big picture-nya menjadi lebih jelas. Paper pertama adalah penelitian Gomes et al. (2015) yang mengkaji sebaran mtDNA haplogroup P di wilayah Sunda dan Sahul, dengan fokus populasi Timor-Leste, dan dari penelitian ini kita bisa mengetahui sebaran mtDNA haplogroup P di Wallacea-Sahul serta Filipina. Paper kedua adalah penelitian Karmin et al. (2015) yang mengkaji bottleneck garis keturunan paternal (NRY, y-DNA) periode Holocene, termasuk terdeteksinya subclade baru y-DNA haplogroup C (C7 dan C9) pada populasi Dayak, Dusun dan Murut di bagian selatan dan timur Borneo. Dan yang terakhir adalah paper dari ilmuwan negeri sendiri, Pradiptajati Kusuma et al. (2015), yang menganalisis mtDNA dan y-DNA populasi orang laut dalam konteks pendudukan Madagascar, yang sedikit memberi gambaran beberapa mtDNA dan y-DNA terbaru dari populasi Dayak dan orang laut di Nusantara.

Ketiga paper ini menarik dalam konteks mencari struktur populasi pertama Sunda dan Sahul, khususnya periode Pleistocene Sundaland. Big picture yang dimaksud di atas adalah bahwa Sundaland pertama kali dihuni oleh populasi yang terkait dengan populasi ‘Negrito’ yang saat ini tersebar di Semenanjung Malaysia, kepulauan Andaman, Thailand, dan sebagian daratan Indo-China, serta kemungkinan sisa-sisa populasi ‘Negrito’ tersebut terdeteksi di Filipina.

Lalu di mana posisi populasi yang mendiami Sahul? Sepertinya, populasi yang bergerak ke arah timur adalah kerabat dari populasi ‘Negrito’ yang lebih dulu mendiami Sundaland ribuan tahun. Setidaknya itulah gambaran secara umum yang diungkap oleh penanda genetik garis keturunan manusia (mtDNA dan y-DNA). Peta sebaran mtDNA khusus Australasia digambarkan lebih jelas oleh Toomas Kivisild (2015), yang juga pernah dikaji Mannis van Oven (2010), serta disempurnakan oleh usulan Kong et al. (2010).

 

Maternal ancestry Kisivild (2015)

Maternal ancestry Toomas Kisivild (2015)

Australasian mtDNA by Kong et al. (2010)

Australasian mtDNA by Kong et al. (2010)

Pemahaman populasi prasejarah Sundaland yang lebih luas dan kredibel bisa kita dapatkan ketika kita mengetahui populasi awal dengan kebudayaan, bahasa, DNA, dan lingkungan ekologisnya, dan kesemuanya ditempatkan dalam perspektif yang benar. Kunci pemahaman tersebut ada pada siapa orang pribumi (Orang Asli), yang sering disebut dengan ‘Negrito’, yang saat ini sebagian masih menghuni Semenanjung Melayu (yang dulunya merupakan bagian dari Sundaland).

Bayangkan, sekitar 70,000-45,000 tahun yang lalu, sekelompok kecil manusia prasejarah pemburu-peramu yang diam-diam berjalan di bawah hutan kerangas dengan pepohonan tinggi, rimbun, luas menghijau tak terputus. Mereka menyusuri sungai-sungai purba Sundaland, melewati lautan lumut hijau, pakis, tanaman rotan berduri yang menjulang tinggi, ephipytes yang menempel di pepohonan, dan riam daun yang tampaknya tak berujung dengan berbagai ukuran dan jenisnya. Mereka menyusuri hutan, melangkah sekitar banir kayu keras menjulang kokoh, mata mereka memindai ke bawah untuk mengamati jejak-jejak tersembunyi di semak belukar, untuk mencari daun tanaman yang dapat dimakan atau sebagai obat, sekaligus menikmati indahnya pemandangan di depan mereka, seperti binatang arboreal yang sering bergelantungan di ranting-ranting pepohonan yang sedang berpesta buah. Telinga mereka juga sangat terlatih mendengarkan tanda-tanda gangguan alam, mencari di mana lokasi binatang-binatang besar seperti babi, rusa, atau sapi liar. Di antara mereka mungkin hanya terdengar suara obrolan ringan tentang lingkungan yang baru mereka temukan, layaknya obrolan pemburu tentang peralatan mencari makan seperti tombak, pisau dan tongkat penggali, terbuat dari kayu, bambu dan rotan.

Lalu, siapakah Orang Asli ini dan apa yang mereka lakukan di hutan tropis Pleistocene Sundaland?

Manusia prasejarah pertama kali hadir di Semenanjung Melayu ketika permukaan laut surut di periode Pleistocene, dan paparan dasar laut bagian barat Asia Tenggara mulai terekspos. Paparan ini dikenal dengan paparan Sunda, atau Sundaland, membentang ke arah timur dari Kalimantan sampai Bali, ke arah utara dari Palawan di Filipina dan Vietnam di Indo China, sampai Jawa di bagian selatan. Populasi yang pertama kali mendiami Sundaland menyebar ke segala penjuru, awalnya mereka kembali ke utara dan juga bergerak ke pesisir timur, mengeksplorasi, kemudian mendiami berbagai tempat yang dianggap nyaman dan aman. Menjelajahi Sundaland kemungkinan tidak akan memakan waktu lebih dari seribu tahun.

Sebagai pembanding, untuk sampai ke ujung selatan benua Amerika, manusia memerlukan waktu beberapa ribu tahun dengan jalan kaki atau dengan perahu. Jarak dari Alaska sampai ujung selatan kira-kira lima kali jarak Bangkok ke Bali. Karena Sundaland tidak memiliki gunung atau gurun, maka tidak akan sesulit mengarungi dataran rendah Sundaland. Mereka yang bergerak ke arah Indo China atau Palawan akan menyusuri dataran rendah tersebut. Beberapa dari mereka juga akan melintasi dataran rendah yang sekarang menjadi Laut Jawa. Jika pusatnya di antara Jawa dan Sumatra, maka ketika beberapa area Sundaland mulai menjadi laut dangkal, sebaran mereka tidak akan jauh dari tanah air mereka, misalnya Semenanjung Melayu, Jawa, Sumatra, Borneo dan Bali.

Bukti arkeologi adanya hunian di Semenanjung Melayu ditemukan di Kota Tampan, di bagian barat laut Malaysia, diperkirakan berumur 40.000 sampai 75.000 tahun, yaitu dengan ditemukannya perkakas batu. Fosil Tam Pa Ling di Laos berumur 45.000-63.000 tahun (temuan baru merempatkan manusia Tam Pa Ling sekitar 46-71 ka), merupakan fosil manusia modern tertua di Asia Tenggara. Kemudian, perkakas batu juga ditemukan di gua Lang Rongrien, di Thailand selatan, diperkirakan berumur 43.000 tahun (Lang Rongrien merupakan hunian orang Sakai, yang juga berperawakan Negrito). Temuan artefak di Gua Niah, Serawak berumur 46.000 tahun menambah bukti bahwa manusia modern telah menghuni Sundaland sebelum mereka migrasi ke Australia. Gua Tabon di Palawan ditemukan bukti hunian manusia modern berupa deposit berumur 37.000 sampai 58.000 tahun.

Di luar Sundaland, potongan peralatan yang memungkinkan manusia menyeberang dari Wallacea ke Sahul ditemukan berumur 42.000 tahun di pulau Timor. Temuan lukisan dinding di Leang Timpuseng membuktikan bahwa manusia sudah mencapai Sulawesi Selatan 40.000 tahun yang lalu. Dari mana manusia tersebut? Mungkinkah mereka dalam perjalanan menuju Sahul?

Berdasarkan data genetik, yang diwakili salah satunya oleh mitokondrial DNA (mtDNA; diturunkan oleh ibu kepada anak-anaknya), menunjukkan bahwa populasi di Semenanjung Melayu dan sekitarnya memiliki diversitas yang tinggi. Keberadaan garis keturunan maternal yang cukup tua pada populasi Orang Asli, menunjukkan bahwa sejarah hunian manusia di Semenanjung Melayu lebih lama dibanding daerah di sebelah utara atau timur semenanjung. Penanda basal genetik di Asia Tenggara juga ditunjukkan oleh perbedaan keragaman inti DNA (nucleus DNA) pada populasi Orang Asli. Mereka ini juga bisa dibilang yang pernah menghuni Sundaland, menyebar dan menjelajah wilayah yang sebagian besar hutan tropis ini, mulai dari seantero Sumatra, dari Borneo sampai Bali, dan dari Palawan sampai Jawa. Jaman Es berlangsung dari 100.000 sampai 10.000 tahun yang lalu di luar daerah tropis. Hal ini menjadikan area tropis Sundaland sebagai area paling ideal sebagai tempat hunian dengan iklimnya yang sejuk bagi tumbuhan, hewan, dan juga manusia. Jaman Es terjadi dalam dua fase: fase pertama berlangsung dari 57.000 sampai 28.000 tahun yang lalu, diikuti periode singkat yang stabil, dan puncaknya yang dikenal dengan Last Glacial Maximum (LGM) yang berlangsung dari 27.000 sampai 10.000 tahun yang lalu. Pada periode LGM, terbentuk hamparan sabana di sepanjang Selat Malaka, dan area di sekitar Gua Batu dekat Kuala Lumpur terjadi pergantian musim basah dan kering. Di bagian utara Borneo terbentuk hutan hujan tropis, menjadi daerah favorit untuk hunian. Sebagaimana laut mulai merayapi pedalaman paparan Sunda, sekaligus menciptakan danau-danau dan teluk-teluk kecil di dataran rendah yang makin lama makin besar. Dan mungkin paralel dengan hal tersebut, adanya cerita Orang Asli tentang naiknya air laut dari dalam tanah, yang membuat mereka meninggalkan tanah airnya.

Prasejarah Sundaland 40.000 t.y.l.

Prasejarah Sundaland 40.000 t.y.l.

Sekitar 60.000 tahun yang lalu, Semenanjung Melayu hanya dihuni sekelompok kecil manusia modern (temuan fosil dari Tam Pa Ling, Laos, berumur 63.000 tahun setidaknya mendukung adanya hunian manusia modern di Asia Tenggara; serta umur mtDNA suku aborigin Kamboja paling tua sekitar 68 ribu tahun, Zhang et al. 2014). Walau sampai saat ini, tak satupun tahu persis bagaimana kondisi Sundaland secara umum, namun berdasarkan sejarah geologis, cuaca Sundaland saat itu lebih dingin dibanding sekarang. Karena fluktuasi suhu pada Jaman Es, iklim berubah sangat cepat, dan terjadi selama berabad-abad. Selama cuaca dingin, suhu rata-rata siang hari di dataran rendah berkisar 21oC, dibandingkan saat ini sekitar 28oC. Bayangkan cuaca siang hari di Bandung setelah hujan. Tidak terlalu dingin. Sangat sejuk dan menyegarkan. Jika Sundaland seperti Bandung siang hari paska hujan, manusia sekarang pun pasti rela dikirim ke masa tersebut untuk menjadi saksi Jaman Es. Tinggi air laut saat itu, sekitar -60m di bawah permukaan saat ini, dan sebagain dari dasar laut masih berupa daratan kering, terutama daerah antara Belitung dan Borneo. Daerah tersebut ditumbuhi hutan kerangas dan rawa dengan hutan-hutan dengan aliran sungai menuju tepi landas benua. Hutan kering tersebut dihuni hewan-hewan merumput seperti gajah, rusa, badak, seladang (kerbau) dan banteng. Bersamaan dengan perubahan iklim, kondisi geografi mengubah sejarah.

Prehistori Sundaland 60.000 t.y.l.

Ketika Orang Asli menjelajah bagian barat Sundaland, banyak area terbuka di hutan-hutan dan hanya sedikit pepohonan, daripada hutan saat ini, karena pengaruh cuaca dingin. Kemudian abad yang lebih hangat dan basah pun tiba, hutan menjadi lebat kembali. Orang Asli mulai mendiami gua-gua batu kapur dan mulai membakar pepohonan di sekitar gua untuk menciptakan lingkungan sekitarnya lebih terang. Kawasan hutan-pinggiran seperti zona transisi ekologi, ecotones yang kaya umbi-umbian dan sayuran yang bisa dimakan. Selama musim dingin, ecotones kaya sumber daya seperti itu gampang dijumpai di seantero Semenanjung Melayu. Di sanalah lokasi pilihan Orang Asli dalam mencari makan sehari-hari. Jika, asumsi Orang Asli datang dari arah barat (India) melalui pesisir pantai, maka mereka bakal sampai di bagian barat dari Thailand selatan. Mereka akan menjumpai dataran rendah memanjang ke selatan sampai Singapura. Pegunungan granit dan batu kapur di dataran tinggi di semenanjung masih utuh tak tersentuh. Mungkin hanya sesekali dijelajahi oleh Orang Asli untuk mencari tempat hunian, namun ketika mereka mulai menemukan gua batu kapur, mereka mulai menetap untuk menghindari angin, hujan dan mungkin hanya untuk menikmati tidur siang setelah berburu. Lalu, siapa sajakah Orang Asli tersebut?

Berdasarkan bukti mtDNA, maka populasi tertua yang masih mewarisi garis keturunan mtDNA tertua (macrohaplogroup N, M dan R) adalah populasi proto-Melayu (Aboriginal Malays), yaitu Temuan dan Semelai, termasuk Jakun, dengan sebaran mtDNA N21, N22, dan R (N21 terdeteksi juga pada populasi Sumatra dan Bali, dengan diversitas lebih tinggi berada di populasi Sumatra dan Bali; R terdeteksi cukup beragam di Sumba, Borneo dan Bali). Sedangkan populasi Semang (Batek, Jahai, dan Mendriq) berdasarkan garis keturunan maternal adalah generasi setelah proto-Melayu, dengan sebaran mtDNA M21, R21, dan B (pada populasi Mentawai juga terdeteksi adanya mtDNA R21. mtDNA B hanya terdeteksi di Jawa, Flores, Nias, Bali, Sulawesi dan Sumba). Senoi (Temiar) adalah Semang yang bercampur dengan populasi penutur Austroasiatik dari Indo China.

Bagaimana dengan populasi Sakai (Mani) di Thailand selatan? Sakai berkerabat dekat dengan Semang (walaupun dalam populasi Mani ditemukan mtDNA L2a, yang berbeda mutasi dengan L2a dari Afrika, yang juga merupakan mtDNA tertua di Asia Tenggara). Bisa jadi mereka telah membaur berdasarkan mtDNA mereka. Sayang sampai saat ini masih sulit untuk mendeteksi jejak mereka dari garis keturunan paternal (y-DNA). Populasi aborigin Kamboja (Tompuon, Khmer, Phnong, Stieng dan Jarai) juga memiliki garis maternal yang berumur cukup tua, terutama di bagian timur laut yang berbatasan dengan Vietnam, dengan sebaran mtDNA M59, M69, M78, dan N7 (Zhang et al., 2014). Sementara pribumi Andaman adalah garis keturunan mtDNA M dari India (M31 dan M32) dengan Y-DNA yang hanya ada di kepulauan Andaman, D-M174. Bagaimana populasi-populasi tua tersebut lebih banyak di bagian utara khatulistiwa? Sebenarnya tidak.

 

mtDNA populasi Sundaland

Sebaran mtDNA Orang Asli (populasi Sundaland) 60.000-40.000 tahun yang lalu

Macrohaplogroup N (termasuk R) dan M masih ditemukan jejaknya tertinggi di pulau Bangka dan Palembang, kemudian Jawa dan Nusa Tenggara Timur (terutama Flores, Lembata, Pantar, dan Alor), dan sedikit sekali ditemukan di Borneo dan Sulawesi. Artinya, mereka menyebar dari pusat (area Sumatra Selatan/Bangka dan Jawa; mungkinkah proto-Melayu?) kemudian beberapa ke arah Semenanjung Melayu dan Indo China, dan sebagaian lagi ke arah timur (Nusa Tenggara, dan Sahul). Perjalanan mtDNA N (dan subclade-nya) ke arah timur sampai Australia melalui jalur selatan (Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Timor, Tanimbar, pesisir Papua barat, dan akhirnya Australia) dengan sebaran mtDNA B, P, O, S, N13, N14; sedangkan perjalanan mtDNA M ke arah timur melalui jalur tengah (Gomes et al., 2015) (Borneo selatan, Sulawesi selatan, Sulawesi Tengah, Maluku, kepala burung Irian, Papua Nugini serta Melanesia) dengan sebaran mtDNA Q, M27, M28, M29. mtDNA B bisa jadi terbentuk di Wallacea (antara Nusa Tenggara atau Maluku), sedangkan mtDNA P, Q dan M29 terbentuk di pegunungan Papua barat (propinsi Indonesia) dan mtDNA macrohaplogroup M serta subclade-nya terkait dengan populasi yang mewarisi DNA Denisovan dan pygmy di Australasia.

Garis maternal mtDNA M migrasi ke arah timur bersama y-DNA haplogroup C-RPS4Y (dan keturunannya), sedangkan mtDNA P memiliki kesamaan pola sebaran dengan K2b. Y-DNA D akan mengikuti subclade mtDNA haplogroup M. Sedangkan y-DNA F selalu bersama subclade-nya y-DNA K-M526. Manusia modern di luar Afrika menurunkan y-DNA CDEF (CF dan DE); dengan sebaran CF & E (DE minus YAP) di Eurasia, dan CF & D (DE plus YAP) di Asia Tenggara. Prinsip yang sama diaplikasikan ke mtDNA. L3’M dan N-U-R di Eurasia, dengan L3 mendominasi Afrika Timur, dan M mendominasi India serta Bangladesh. U tersebar di Afrika Utara, Eropa Barat dan Skandinavia. N dan R tersebar di Eurasia dan Eropa.

Sedangkan di Asia Tenggara (termasuk Australasia), M tersebar di Asia Timur dan Tenggara. mtDNA Q yang unik di Papua dan Melanesia juga menyebar ke Nusa Tenggara, Australia dan Filipina. N dan R menyebar mengikuti sebaran populasi Negrito, P lebih banyak di Wallacea dan Sahul, sedangkan B menyebar dari Sundaland ke segala arah (bahkan manusia Tianyuan berumur 40.000 tahun memiliki haplogroup B4’5). Kedua pola sebaran mtDNA N dan M di dua area tidak saling overlapping, karena keduanya berasal dari basal yang berbeda. Anda tidak akan menemukan garis keturunan haplogroup U di Asia Tenggara dan Pasifik, sebaliknya Anda tidak akan menemukan garis keturunan haplogroup P di Eurasia. Tidak ada cukup bukti bahwa mtDNA N dan M di Asia Tenggara berasal dari leluhur yang sama dengan mtDNA N dan M di Eurasia seperti yang diasumsikan oleh para akademisi. Di kesempatan lain akan saya paparkan bagaimana hubungan mtDNA khusus regional Afrika, Eurasia dan Australasia serta populasi yang overlapping dengan ketiganya. Data y-DNA akan mengikuti pola yang hampir sama. Seharusnya kita mulai meninggalkan paradigma lama, Out of Afrika, karena sudah banyak bukti yang meruntuhkan teori berbau ‘politis’ tentang asal-usul manusia modern tersebut.

mtDNA P di Wallacea dan Sahul

mtDNA P di Wallacea dan Sahul

mtDNA macrohaplogroup N dan M di Eurasia

Eurasian mtDNA by Kong et al. (2010)

Jika Anda ingin tahu jejak populasi awal Sundaland, maka Anda mencari garis paternal C dan D yang masih ada pada populasi modern Asia Tenggara, dan garis maternal M beserta keturunannya, yang masih terdeteksi di segala penjuru Nusantara. Jika Anda melihat populasi di Papua, garis paternal C (dalam kasus ini adalah C-M38) masih bisa Anda temui pada populasi Asmat, Tehit dan Dani serta Lani. Di Wallacea, Anda masih bisa menemukan pada populasi di Sumba, Flores, dan Timor serta Maluku. Yang mencapai Australia termasuk kerabat dari C-M38, yaitu C-M347, yang menghuni sebagian besar wilayah utara benua kanguru tersebut. Jika suku aborigin Australia mengalami isolasi selama ribuan tahun dan tidak mengalami perubahan phenotype yang berarti, maka Anda bisa bayangkan seperti apa populasi awal Sundaland 50 ribu tahun yang lalu?

Berdasarkan diversitas genetik, populasi awal Sundaland menyebar ke arah utara (Semenanjung Melayu dan Thailand) dan ke arah timur (Nusa Tenggara dan kemudian paparan Sahul) sekitar 50.000 tahun yang lalu, sebelum Sundaland berubah secara keseluruhan. Berdasarkan sebaran mtDNA dan diversitasnya, bahwa pusat sebaran atau asal-usul mereka adalah area di antara pulau Jawa, Sumatra dan Borneo. Berdasarkan analisis genome mtDNA populasi Papua dan Aborigin Australia, didapatkan hasil bahwa tiga populasi relic, yaitu Orang Asli, Papua dan Aborigin Australia terpisah ketika ketiganya masih di sekitar Sundaland (Ingman & Gyllensten, 2003). mtDNA Orang Asli dan pribumi Australasia adalah keturunan langsung basal haplogroup M, N dan R. Populasi yang menuju Filipina, seperti Batak Palawan juga bagian dari populasi Sundaland dengan mtDNA M24, M80 serta M19. Sedangkan yang sampai ke Filipina seperti Mamanwa dengan mtDNA M74 dan N11b. Lalu, populasi pribumi Andaman dengan mtDNA M31 dan M32 juga merupakan populasi relic, walau mungkin tidak sampai mengembara di Sundaland, karena bersama y-DNA D-M174 memisahkan diri dari founder population di sekitar Sichuan menuju Andaman.

Keragaman mtDNA populasi aborigin Kamboja menunjukkan migrasi dari arah selatan untuk mtDNA tertua di sana (Zhang et al., 2014), diversitas mtDNA populasi aborigin Malaysia juga menunjukkan hal yang sama (Baer et al., 2010). mtDNA populasi aborigin Australia adalah subclade dari N (mtDNA O di daerah gurun Australia, S menyebar di seluruh benua, N13 dan N14 di area Kimberley) serta subclade dari M (M42 di Arnhem dan sekitar Teluk Carpentaria). Masih sulit menentukan hubungan populasi Nusa Tenggara (mtDNA N dan M serta R) dengan yang di Jawa serta Bangka/Sumatra Selatan. Diversitas mtDNA N dan M antara ketiganya belum dikaji, kita tidak tahu apakah mereka berbagi haplotype yang sama, atau perbandingan polimorfisme HVS-I antara ketiga area tersebut. Atau mungkin karena mereka tidak yakin secara persis subhaplogroup mana yang akan ditujukan pada M* dan N* tersebut.

Untuk merekonstruksi populasi pertama Sundaland memang cukup rumit, namun sedikit bagian dari populasi tersebut bisa terlacak dengan bantuan mtDNA dan y-DNA populasi saat ini. Sedikit gambaran pada skema mtDNA N di bawah:

Skema Populasi Sundaland (mtDNA N dan subcladenya)

Skema Populasi Sundaland (mtDNA N dan subcladenya)

Bersambung Gelombang Kedua… dari Sunda ke Sahul

Iklan

4 responses to “Populasi Prasejarah Sundaland

  1. Ping-balik: Dari Sunda Ke Sahul | The Forgotten Motherland·

  2. Ping-balik: Menguji Penanda Genetik Austronesia | The Forgotten Motherland·

  3. Ping-balik: Penelitian DNA Purba Akan Bergeser ke Timur | The Forgotten Motherland·

  4. Ping-balik: Sejarah Populasi Indonesia Gelombang Ketiga | The Forgotten Motherland·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s