Siapakah Manusia Tertua di Sulawesi?


Awal tahun 2016 saya berharap banyak penelitian dilakukan di Wallacea, dan temuan sekitar 300 alat-alat batu di sebuah situs yang dikenal dengan Talepu di sekitar Cabenge, Sulawesi Selatan, memberikan sinyal terealisasinya sebuah harapan. Sebelumnya, di sepanjang lembah sungai Walanae pernah ditemukan artefak serupa seperti di Paroto, Kecce, Bunane, Lenrang dan Jampu. Alat-alat batu yang sepertinya dipakai sebagai alat pemotong dan dan cukup tajam pada masanya (choppers and flake tools), yang diperkirakan berumur antara 118.000 tahun sampai 194.000 tahun, umur diambil dari fosil gigi pada lapisan sedalam 12 meter dengan menggunakan teknik baru ‘multiple elevated temperature post-infrared stimulated luminescence’ (MET-pIRIR). Temuan ini sangat menarik, karena mengisi kekosongan antara situs arkeologi di Jawa dan Flores, sebelum kehadiran manusia modern di Sulawesi 40 ribu tahun yang lalu.

The reason why paleoanthropology is so exciting is that occasionally it throws up something wholly unexpected that we can’t explain,” Robin Dennell, arkeolog

“It establishes for certain that an archaic human was living in Sulawesi … And that’s an exciting finding.” Russell Ciochon, paleoantropolog

They mostly comprise simple sharp-edged flakes of stone that no doubt would have been useful for basic tasks like cutting up meat, shaping wooden implements, and so on,” Adam Brumm, arkeolog

Talepu stone tools

Talepu stone tools

Gerrit van den Bergh bersama koleganya (enam diantaranya peneliti dari Indonesia) sudah lama melakukan penelitian di Flores dan Ngandong di Jawa berharap menemukan populasi manusia purba dengan mengikuti pergerakan Stegodon. Dengan temuan alat-alat batu buatan manusia, van den Bergh mulai yakin bahwa sebelum manusia modern sampai di Sulawesi, ada manusia purba lain yang menghuni sekitar Maros setidaknya 100.000 tahun sebelumnya. Dan van den Bergh akan terus mencari siapa kira-kira manusia purba yang membuat alat-alat batu tersebut. Alat-alat batu dari lembah sungai Walanae juga memiliki kemiripan dengan yang ditemukan di Leang Burung 2, di mana ditemukan juga sisa-sisa pendudukan manusia modern berumur 31 kya.

Karena teknologi dan tipologi alat-alat batu tersebut masih tergolong sederhana, dan bisa dibuat oleh siapa saja, van den Bergh melontarkan beberapa skenario siapa sang pembuat:

  1. Homo floresiensis atau kerabat jauhnya, dengan argumen bahwa kedua tempat, Talepu dan Liang Bua, tidak terlalu jauh secara geografi, juga keduanya berada dalam rentang waktu yang relatif berdekatan. Tahun lalu, seorang paleoklimatologis, Mike Gagan, menemukan 17 artefak berupa alat-alat batu, terbuat dari silika dan batuan vulkanik, dan lebih dari 220 fragmen tulang dalam kondisi bagus dari babi, primata, kelelawar, ular, dan tikus raksasa Hooijeromys nusatenggara. Berdasarkan pertanggalan U/Th, berhasil diperoleh umur ~ 240–180 ribu tahun untuk H. nusatenggara, ~ 110–60 ribu tahun tulang jari yang tak teridentifikasi, ~ 33–23 ribu tahun untuk fragmen tengkorak babi, dan ~ 7–3 ribu tahun H. nusatenggara. Umur tersebut berada dalam rentang waktu hidup Homo floresiensis (18 sampai 95 ribu 50-190 ribu tahun yang lalu), dan juga berada dalam rentang waktu artefak Talepu. 800-880 ribu tahun yang lalu, di Mata Menge Flores, ditemukan artefak dengan teknologi yang mirip dengan Liang Bua, dan penggunaan silika serta batuan vulkanik ternyata telah dimulai setidaknya 700 ribu tahun sebelumnya. Sehingga Brumm et al. menyimpulkan bahwa alat-alat batu tersebut dibuat oleh manusia purba dari garis keturunan yang sama dengan Homo floresiensis. Jika dikaitkan dengan Jawa, Homo erectus pembuat alat-alat batu Mata Menge lebih dekat kelompok manusia purba paska 1 juta tahun yang lalu (Sangiran 2, 21).
  2. Late surviving Homo erectus, dari Jawa, meskipun berada di sebelah barat Wallace’s Line, namun masih dalam rentang waktu yang berdekatan. H. erectus yang diperkirakan hidup sampai 35-53 ribu tahun yang lalu telah direvisi, dan dipastikan oleh peneliti lokal Profesor Etty Indriati, bahwa umur stratigrafi Ngandong dengan ESR/U-series adalah 143+20/−17 ribu tahun, dengan umur maksimum 546±12 ribu tahun. Van den Bergh kemudian menyempurnakan pertanggalan tersebut dan menghasilkan umur sedimen 102-130 ribu tahun. Van den Bergh juga menemukan artefak bekas terbakar, dan sebaran alat-alat batu mengindikasikan bahwa Homo erectus/archaic Homo sapiens/Denisovans yang hidup di sekitar bantara sungai Bengawan Solo sudah mulai menggunakan teknologi yang lebih berkembang, dan mulai berkelana lebih jauh dalam mencari sumber makanan. Kemudian temuan gigi manusia di gua Punung, Jawa Timur, dengan karakteristik transisi manusia purba (generasi akhir Homo erectus) dan manusia modern Australasia, diperkirakan berumur 143-115 kya. Karakteristik PU-198 spesimen bisa dikatakan transisi dari H. erectus Ngandong menuju karakter Homo sapiens. Periode 143-200 ribu tahun yang lalu, Jawa masih dihuni generasi akhir Homo erectus, setidaknya Ngandong 1 dan 7 serta Sambungmacan 1. Dan kelanjutan Homo erectus di Jawa masih ada (setidaknya dari temuan di Pacitan) sampai munculnya manusia modern di Sundaland. Apakah terjadi evolusi regional atau imigran, baca Model Baru.

Mata menge

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut di Pacitan, yang juga ditemukan alat-alat batu yang mirip dengan yang ditemukan di Talepu. Professor Truman Simanjuntak dalam penelitiannya tahun 2004 menyatakan bahwa manusia purba yang hidup di sekitar Song Terus adalah nomadik, mencari makanan di sekitar lembah sungai Baksoka dan jarang menempati gua karena tidak ditemukannya alat-alat batu di gua-gua sekitar Song Terus ~180 ribu tahun yang lalu. Beberapa peneliti berkesimpulan, bahwa terjadi pergantian teknologi di Jawa sekitar 50 ribu tahun yang lalu.Core tools” yang dibuat oleh generasi akhir Homo erectus/archaic Homo sapiens/Denisovans, tergantikan oleh “flake tools” yang disepakati adalah buatan Homo sapiens. Karena Pacitan lithik didominasi oleh “core tools” maka bisa disimpulkan alat-alat batu tersebut bukan buatan Homo sapiens.

3. Denisovans-like, manusia purba yang diklasifikasikan hanya berdasarkan data genetika. Karakteristik Denisovan adalah campuran antara generasi akhir Homo erectus dan Neandertal, hal ini bisa dilihat pada spesimen Sima de los Huesos, yang dengan karakter fisik seperti proto-Neandertal, namun secara genetika lebih berkerabat dekat dengan leluhur Denisovan. Dan karena sebagian besar populasi di sebelah timur Wallace’s Line mewarisi materi genetik dari Denisovan, maka sangat mungkin bahwa manusia modern bertemu Denisovan di Sunda, Sulawesi atau Flores. Van den Bergh pun telah ancang-ancang untuk mencari fosil manusia purba di sekitar Sulawesi. Atau, mungkinkah sudah ada manusia modern 118-194 ribu tahun yang lalu di Sulawesi? Large sharp-flake tools bisa diklasifikasikan sebagai teknologi buatan manusia paska Homo erectus. Anyway

“Evolving under isolation on an island under hundreds of thousands of years in isolation, the outcome may have resulted in a distinct human species, different from Homo erectus or Homo floresiensis.” Gerrit van den Bergh

Lalu, skenario mana yang menjadi favorit van den Bergh? Kedua. Skenario ini memang lebih masuk akal, bahkan bisa jadi bahwa generasi akhir Homo erectus sebenarnya adalah Denisovan. Namun spekulasi van den Bergh tentang asal manusia pembuat alat-alat batu Talepu adalah dari wilayah sebelah utara, Borneo dan Filipina, agak dipaksakan. Dasar utama dari spekulasi van den Bergh adalah arah arus lautan di Indonesia. Dan memang, di Filipina pernah ditemukan metatarsal manusia purba di gua Callao, dan baru-baru ini ditemukan potongan paha dengan fitur primitif, namun umurnya tidak lebih dari 70.000 tahun, sehingga bisa jadi manusia Callao ini adalah bagian dari mereka yang meninggalkan Sundaland ke arah utara. Sedangkan Borneo, belum ada bukti ditemukannya artefak “core tools” atau fosil Homo erectus. Jadi, kandidat utama pembuat choppers dan variasi flake tools Talepu adalah generasi akhir Homo erectus/Denisovan dari Sunda. Bagaimana mereka bisa sampai ke Sulawesi tanpa harus ‘nebeng’ tsunami seperti yang diusulkan van den Bergh?

Permukaan air laut surut sampai 135m tidak hanya terjadi pada saat Last Glacial Maximum 13-22 ribu tahun yang lalu, hal serupa terjadi 130 tahun yang lalu (MIS 5e) dan 300 tahun yang lalu (MIS 9c) serta 420 ribu tahun yang lalu (MIS 11). Sulawesi mengalami musim yang sangat nyaman untuk kehidupan manusia setidaknya 425–400 t.y.l., 385–370 t.y.l., 345–335 t.y.l., 330–315 t.y.l., 160–155 t.y.l., 75–70 t.y.l. dan 10–5 t.y.l. (Scroxton et al., 2016) Namun perlu dicatat, bahwa Homo erectus sanggup hidup di area mana saja yang sedang mengalami periode glasial maupun interglasial. Ketika permukaan air laut surut sampai 135m, glasiasi global, air laut akan mengering, dan semua terkumpul di kutub utara dan selatan. Asumsi bahwa manusia purba harus memakai rakit sederhana untuk mencapai Sulawesi adalah didasarkan masih ada perairan luas yang memisahkan Sundaland dan Sulawesi serta Flores. Jika air laut surut, maka akan banyak daratan yang menghambat aliran air laut dari Pasifik dan Samudra India untuk memasuki dangkalan rendah di sekitar Sundaland. Tidak bisa dipastikan bahwa saat glasial maksimum yang terjadi ribuan tahun, perairan antara Sulawesi dan Sundaland tidak mengering. Bisa saja semua perairan terbuka mengering. Mengingat juga Stegodon, yang merupakan binatang Asia, bisa sampai di Cabenge di Maros, dan Mata Menge serta Liang Bua di Flores, harus menyeberangi perairan luas ratusan kilometer (jarak Maros ke Flores setidaknya 400 km). Skenario paling mungkin, adalah perairan antara Sundaland, Sulawesi dan Flores juga mengering dan terdapat dangkalan yang bisa dengan mudah dilewati Stegodon, dan pada akhirnya manusia purba bisa menemukan dangkalan tersebut ketika mengikuti Stegodon buruan mereka. Selain di Cabenge dan Flores, fosil Stegodon juga ditemukan di Sumba dan Timor. Anda bisa membayangkan rute yang harus ditempuh Stegodon dari Flores ke Sumba dan Timor jika Selat Sumba tidak mengering?

Alternatif rute Homo erectus

Van den Bergh sudah mulai mencari siapa pembuat alat-alat batu Talepu, penelitian sudah direncanakan, dan semoga van den Bergh tidak meninggalkan Sulawesi menuju Borneo atau Filipina, namun bergerak lebih ke utara mendekati Danau Tempe, karena area sekitar danau adalah habitat hidup yang paling digemari oleh manusia purba di Afrika. Who knows?

“They lived in isolation for maybe hundreds of thousands of years. Evolution took a different course compared to the mainland. Life on an island was simple so you didn’t need this big brain we have today.” Gerrit van den Bergh

 

Update: Februari 2018

Penelitian dari Hantoro (2018) menyimpulkan satu point penting tentang perubahan pada keseimbangan hidrologis air tawar dan kelembaban di atmosfer. Yang terjadi pada air tawar ketika permukaan air laut surut adalah terperangkap dalam akuifer (batuan berpori, batu patahan, atau material yang tidak terkonsolidasi di lapisan bawah tanah) yang kemudian tertutup oleh sedimen aquitard (zona di mana pergerakan air dari satu akuifer ke aquifer lainnya terhambat) selama proses sedimentasi ketika permukaan laut kembali ke posisi semula (naiknya muka air laut). Sumber air bawah tanah ini sangat penting sebagai persediaan air tawar masa depan. Tentu saja proses ini tidak hanya disebabkan karena perubahan iklim yang ekstrim, gempa tektonik juga memiliki peran yang signifikan terkait proses terperangkapnya air tawar maupun air laut. Jadi ketika periode glasial, banyak air tawar tersimpan dalam tanah selama ribuan tahun. Dengan turunnya muka laut sampai 135 m di bawah muka laut saat ini, dan sebagian besar kondisi ini terjadi dalam periode 1 juta tahun, maka bisa disimpulkan banyak air tawar dan air laut terperangkap di lapisan bawah tanah, tidak ada aliran air laut selama ribuan tahun menyebabkan perairan di Wallacea praktis absen, kecuali mungkin Laut Sulawesi, sebagian kecil Laut Flores dan Laut Banda. Laut China Selatan dan Laut Flores adalah drainase terbaik ketika periode glasiasi. Kondisi ini memungkinkan fauna dan hominins untuk menyeberang dari Sunda ke Wallacea dan pada akhirnya menuju Sahul tanpa harus mengarungi perairan bebas atau pun tersapu tsunami sebagaimana dispekulasikan konsensus akademik di banyak jurnal penelitian. Sekarang kita bisa berargumen bagaimana Stegodons bisa menyeberang dari Sunda ke Sulawesi Selatan, dan kemudian ke Flores, Sumba dan Timor. Atau sebaliknya, bagaimana Varanus komodoensis bisa menyeberang dari Sahul ke Timor-Sumba-Flores dan bisa sampai ke India. Masih perlukah manusia Mata Menge dan Wallaceanthropus manggaraii (sebutan lain untuk Homo floresiensis) membuat rakit untuk sampai ke Flores? Atau menunggu tersapu tsunami, ketika mereka bisa melenggang santai ketika muka air laut surut ketika periode glasial?

You decide.

Iklan

4 responses to “Siapakah Manusia Tertua di Sulawesi?

  1. Ping-balik: Geografi Asal Homo sapiens – Cul-de-sac | The Forgotten Motherland·

  2. Ping-balik: Rute Migrasi dari Sunda ke Sahul | The Forgotten Motherland·

  3. Ping-balik: Manusia Purba Mata Menge | The Forgotten Motherland·

  4. Ping-balik: Manusia Modern Awal Eurasia Timur dan Australasia | The Forgotten Motherland·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s