Kaitan Genetik Dan Bahasa Di Sumba


Tombs in the village of Waingapu, West Sumba (Photo by R. Adams)

Tombs in the village of Waingapu, West Sumba (Photo by R. Adams)

Hampir satu dekade yang lalu, Lansing et al. (2007) mengklaim bahwa di Sumba terdeteksi kemungkinan adanya korelasi antara data genetika dan bahasa, meskipun dalam skala lokal. Klaim tersebut berdasarkan korespondensi antara sebaran cerminan kosakata turunan bahasa proto-Austronesia dan sebaran garis paternal haplogroup O, lebih jauh Lansing et al. memberi catatan bahwa meskipun masih terdapat kontroversi terhadap asal-usul geografi haplogroup O, namun konsensus sepakat bahwa garis paternal tersebut terkait dengan ekspansi periode akhir Holocene dari petani-penutur Austronesia dari Asia Tenggara daratan ke Indonesia dan Oceania. Di samping klaim tersebut, peneliti lain seperti Denham dan Donohue (2012) menganggap data Lansing et al. justru mencerminkan adanya ketidaksesuaian antara data bahasa dan genetika dalam skala lokal. Bukti yang dipaparkan Denham dan Donohue adalah genetika populasi Sumba sangat lengkap, dan data bahasa daerah Sumba yang tersedia di masing-masing desa yang diteliti.

genetika-bahasa Sumba

Lebih lanjut, argumen yang diajukan Denham dan Donohue adalah ‘jika haplogroup O terkait dengan ekspansi demik penutur Austronesia, maka konsentrasi haplogroup O terbanyak seharusnya berada di wilayah bagian tengah, pusat Sumba. Kenyataannya, sebaran haplogroup O menurun dari timur ke barat. Artinya, para pendatang penutur Austronesia memasuki Sumba dari arah timur, sekitar wilayah Rindi-Kambera, berkurang seiring perjalanan ke arah barat, dan hampir tidak ada di ujung barat. Hal ini sesuai dengan catatan sejarah, atau cerita rakyat setempat, bahwa kedatangan para utusan dari kerajaan Majapahit pertama kali dari sebelah timur. Lansing et al. juga berpendapat adanya korelasi positif antara bahasa dan jarak geografis, yang semakin kuat ketika variable keragaman genetik disertakan. Kenyataannya, korelasi tersebut tidak bisa diaplikasikan secara umum, dan bahwa fokus mereka hanya pada keragaman genetik komponen Austronesia, dalam hal ini haplogroup O, yang hanya terdeteksi sekitar 16% dari delapan desa yang diteliti.

Bisakah hasil tersebut diinterpretasikan sebagai ‘bahwa genetika dan bahasa di Sumba berasal dari leluhur yang sama’? Membandingkan sebaran haplogroup O berdasarkan keragaman genetik dengan pergeseran bahasa sangat lemah untuk diambil suatu kesimpulan. Mengingat populasi Sumba sudah menjadi bagian dari perdagangan masa lalu, bahkan sebelum kontak dengan kerajaan Majapahit. Hal ini didasarkan pada bukti bahwa sandalwood, kayu cendana, sudah menjadi produk perdagangan internasional, bahkan sampai ke Levant dan Mesir, yang menuntut para pedagang Sumba untuk aktif dalam memahami rumpun bahasa Austronesia, untuk memasarkan kayu cendana kepada para pedagang yang saat itu diduga berpusat di Jawa dan Melayu. Produk asli Sumba tersebut juga terkenal di Papua Nugini. Lansing et al. sendiri tidak mengindahkan hasil analisisnya sendiri, karena faktanya, keragaman bahasa tertinggi berada di bagian barat Sumba, bukan di tengah. Dan, Lansing et al. mengungkap bahwa pertemuan kedua populasi pendatang dan lokal terjadi sekitar 4875 tahun yang lalu, sekitar 500 tahun mendahului konsensus ekspansi Austronesia yang disepakati para ilmuwan genetika, itupun terjadi di sebelah utara kepulauan Asia Tenggara. Sedangkan Sumba berada di paling selatan dari kepulauan Asia Tenggara dan setidaknya terjadi pasca 3500 tahun yang lalu.

Whether the processes integrated in this model can explain patterns observed at continental scales remains an open question. However, a link can be postulated because large-scale patterns are contingent on processes occurring at local scales. (Lansing et al., 2007: 16025)

Pola sebaran bahasa dan penanda genetik di sebuah pulau tidak bisa diekstrapolasi sebagai pola dari keseluruhan wilayah. Di samping itu, ketidaksesuaian antara bahasa dan genetika berdasarkan data yang ada, sebaran bahasa Austronesia menunjukkan laju terendah di mana haplogroup O berada, di lokasi di mana para petani Austronesia bermukim. Karena tidak adanya data arkeologi yang cukup sebelum datangnya petani penutur Austronesia, populasi Sumba tersebar sebagai masyarakat pribumi yang mencari makan di hutan-hutan. Dan bahasa daerah mereka masih sanggup bertahan paska kedatangan para petani penutur Austronesia, terbukti hanya pergeseran leksikon, fonologi, morfologi dan sintaks yang terjadi, dan bukan pergantian bahasa secara keseluruhan.

Lansing et al. (2007) mendeskripsikan Sumba sebagai pulau dimana para petani Neolitik penutur Austronesia bertemu dengan masyarakat lokal yang kesehariannya mencari makan di hutan-hutan. Walau sebenarnya, semua wilayah di Wallacea merupakan tempat pertemuan kedua populasi beda jaman tersebut. Dalam tulisan terdahulu saya mengulas seputar keterkaitan genetika dan bahasa di Wallacea, namun belum sempat membahas tentang Sumba. Karena di Sumba, meskipun terdapat populasi yang identik dengan populasi Papua/Melanesia, hanya terdapat bahasa dalam rumpun Austronesia, atau CEMP, sedangkan sekitar 500 km di sebelah timur Sumba masih terdeteksi rumpun bahasa Papua. Catatan penting, bahwa tidak adanya korelasi pada skala tertentu, lokal misalnya, tidak menjadi penghalang adanya korelasi pada skala lainnya, seperti regional (atau sebaliknya). Perbedaan serupa, dalam skala geografis, juga diamati untuk bagian utara Melanesia, di mana pada skala regional tidak terdeteksi korelasi antara bahasa dan genetika, namun hanya terdeteksi dalam satu pulau saja (New Britain) dimana data linguistik dan genetik sangat berkorelasi (Hunley et al. 2008). Sehingga sangat penting melakukan perbandingan dalam skala geografis yang luas untuk bisa menginvestigas kaitan antara genetik dan bahasa.

Struktur Populasi Sumba

Struktur Populasi Sumba

Cox et al. (2016) menganalisis genome populasi delapan desa patrilokal di Sumba dan menghasilkan gambaran struktur populasi pulau dengan sembilan bahasa dalam rumpun CEMP, Central-Eastern Malayo-Polynesian, tersebut tidak terdapat perubahan yang berarti selama setidaknya 4785-4085 tahun. Berdasarkan analisis bahasa-bahasa daerah yang terdapat di Sumba, disimpulkan bahwa semuanya berasal dari bahasa induk tunggal, proto-Sumba, karena itu kekerabatan bahasa-bahasa yang ada sangat dekat dibandingkan bahasa dalam rumpun CEMP di luar Sumba. Dari gambar di atas, Anda bisa melihat tidak signifikannya struktur populasi Sumba yang tidak banyak berubah sejak awal. Komponen dari Asia (hijau, leluhur proto-Melayu dan Austronesia) dan Papua tidak banyak berubah. Komponen China selatan sedikit mulai masuk di K=3.

Bandingkan dengan struktur populasi Sumba, diwakili Kambera, dengan populasi lain di Asia Tenggara dalam gambar di bawah. Komponen Austronesia, biru tua, yang mendominasi Ami dan Atayal, di Kambera relatif tinggi, mengingat Kambera berada di bagian timur pulau Sumba. Di atas komponen Austronesia adalah komponen proto-Melayu, warna ungu, yang mendominasi Jawa, Sunda, Bidayuh, dan populasi proto-Melayu di semenanjung Melayu – Temuan. Sisanya komponen minor dari daratan Asia Tenggara.

Admixture Sumba in ISEA

Kemudian, dari analisis struktur populasi oleh Mörseburg et al. (2016), Sumba juga diwakili oleh Kambera, ID-SB, dibandingkan populasi sekitarnya. Anda akan mendapati komponen proto-Melayu (k5), komponen Austronesia (k6) dan komponen Papua/Melanesia (k3). Di sini komponen Papua/Melanesia tidak mendominasi genome populasi Kambera.

ADMIXTURE ISEA 2016

ADMIXTURE ISEA 2016

Jika Anda mendapati dalam berbagai jurnal penelitian bahwa komponen Asia di Sumba sekitar 70%, maka di dalamnya adalah komponen proto-Melayu dan Austronesia, serta komponen Asia Timur minor lainnya. Jika proto-Melayu mengalami spesiasi di Sundaland sebelum periode Holocene pun, maka akan tetap dibaca sebagai komponen Asia, bukan asli Sundaland. Itu sebabnya analisis Admixture dari struktur populasi hanya bisa dibaca sebagai salah satu petunjuk untuk mencari detail dari populasi yang dimaksud.  Selanjutnya, Anda harus melihat kembali uniparental markers, mutasi SNP, STR haplotype, dst.

Untuk lebih melengkapi analisis struktur populasi Sumba, kali ini dari penelitian Kusuma et al. (2016) tentang asal-usul genetik dan bahasa populasi Madagascar, semua data genotype populasi Sumba bisa Anda lihat struktur populasinya:

maanyan malagasy 3Komponen C2 merupakan komponen Papua/Melanesia, terlihat mendominasi populasi Alor, dan tentu saja mendominasi populasi Sumba, termasuk Kambera. Sedangkan hijau muda C3, komponen Igorot, mewakili komponen penutur Austronesia, dan komponen hijau tua (C13) mendominasi populasi Negrito, dan mencapai puncaknya di populasi Mentawai, awalnya merupakan komponen (C3) sampai K=13 mengalami spesiasi menjadi C13. Mungkinkah C13 populasi pribumi Sundaland? Di Taiwan, komponen C13 relatif sebanding dengan komponen C3. Kita bisa menginterpretasikan bahwa ada aliran populasi dari Sundaland menuju Taiwan, sesuai dengan sebaran mtDNA E dari bagian wilayah Sundaland.

Bukti genetik yang ada memperlihatkan bahwa populasi di desa ujung barat (Lodi), dan ujung Timur (Rindi) mengalami divergensi tidak lebih dari 4875 tyl (Lansing et al. 2007), dan para petani pendatang, dengan membawa keturunan komponen Asia mulai bercampur dengan penduduk lokal dengan komponen Papua sekitar 4085 tyl (Xu et al. 2012). Kedua bukti ini sesuai dengan cerita turun temurun, bahwa populasi Sumba saat ini merupakan keturunan dari sebuah desa yang berada di pesisir utara, dekat dengan desa Wunga (Wunga sendiri didominasi oleh Y-chromosome haplogroup S-M230, yang merupakan subclade dari K-M526. Jika pendatang awal adalah K-M526 maka kita bisa berhipotesis bahwa salah satu subpopulasi Sundaland adalah populasi proto Sumba). Namun perlu diingat, sebelum proto-Sumba, masih ada populasi dari garis paternal C-M38, merupakan keturunan populasi tertua di Wallacea, berkerabat dekat dengan suku aborigin di bagian utara Australia dengan garis paternal C-347. Atau lebih jelas dalam median-joining network NRY C-RPS4Y berikut:

network tree C-RPS4Y

Cerita rakyat lainnya adalah, bahwa leluhur populasi Sumba datang dari arah barat, menyeberangi lendu watu (jembatan batu) yang menghubungkan Sumba bagian barat laut dengan pulau terdekat, Sumbawa. Jika kita telusuri dari perspektif bahasa, lendu artinya jembatan, namun dalam bahasa Kambera menjadi lindi, dan berasal dari proto-CMP letay. Sayangnya tidak banyak referensi kata yang berarti jembatan memiliki kedekatan dengan lendu/lindi, kecuali variasi dari letay. Namun, jika kita telusuri kata watu, yang berarti batu, banyak sekali bahasa yang memakai kata tersebut seperti: Proto-Sumba-Hawu, proto-Bungki-Tolaki, Manggarai, Ngadha, Sika, Lio, So’a, Ende, Ma’anyan, Javanese, Old Javanese, Kadazan-Dusun, Iranun, Maguindanaon, Tontemboan, Tonsea, Siraya, Geser, Watubela, dan semua bahasa di Sumba kecuali di bagian timur, Sabu dan Kambera.

Dari data tersebut, bisa diduga keterkaitan Sumba dengan daerah sekitar, utamanya Jawa, Borneo dan Flores, sehingga bisa kita asumsikan bahwa garis paternal Melayu yang ada di Sumba adalah terkait dengan garis paternal yang ada di Jawa, Borneo dan Flores. Walaupun catatan tentang Sumba baru muncul dalam kitab Negarakertagama, ketika utusan Majapahit dikirim untuk mencari produk-produk kayu cendana. Namun kita tidak bisa menutup kemungkinan hubungan dagang sudah terbangun sejak awal abad kedua Masehi, ketika penduduk Wejus di pesisir selatan Borneo berdagang dengan penduduk di pesisir utara Jawa. Wejus dipercaya merupakan salah satu pelabuhan dagang Melayu.

Sumba-NRY-mtDNA

Deretan bukti merujuk pada model yang sederhana dalam menggambarkan sejarah Sumba. Sekitar 3500 tyl, petani pendatang dengan komponen daratan Asia, mencapai Sumba dan kawin dengan penduduk lokal dengan komponen Papua/Melanesia yang berpenghidupan pemburu-peramu, yang sudah mendiami Sumba setidaknya 40000 tyl, berdasarkan umur haplogroup K-M526* dan keturunannya S-M254, S-M230, dan M-P34. Dari percampuran kedua populasi tersebut, yang berbahasa proto-Sumba, kemudian terpisah dan menyebar sebagai komunitas awal petani di seantero Sumba. Seiring dengan perjalanan waktu, bahasa dan genetik dari populasi tersebut berevolusi dan mengalami rambang genetik (drift), sehingga menghasilkan keragaman yang cukup menarik jika dilihat dari autosomal genome. Fitur penting dari sejarah Sumba adalah isolasi yang dialami populasi tersebut. Namun model yang sederhana ini bisa jadi mengaburkan kompleksitas lain yang mungkin ada, seperti tradisi menikah di Sumba.

Genotype populasi Sumba, dari data Tumonggor et al. 2014

Sample dari Anakalang (47), Bilur Pangadu (54), Bukambero (50), Kodi (42), Lamboya (49), Loli (34), Mahu (45), Mamboro (52), Mbatakapidu (41), Praibakul (57), Rindi (28), Waimangura (50), Wanokaka (52), Wunga (33)

NRY: (n=649)

Haplogroup

%

Keterangan
C-RPS4Y

1.2

 Tumonggor et al, umur 41650 (17850–92100)
C-M38

49.5

  Tumonggor et al, umur 32950 (14350–70850)
C-P355

1.5

 Tumonggor et al, umur 13600 (5600–30200)
F-P14*

0.2

menurut Karafet et al. 2005 F-P14(xG-M201, H-M69, I-P19, J-p12f2, K-M9)

K * = K-M9(xL-M20, M1-M5, N1-LLY22g, O1a-M119, O2-P31, O3-M122, P-P27, S-M230)

K-P397

4.5

K-P405

0.3

M-P34

4.5

O-M122

2.2

O-P201

1.4

O-M119

9.6

O-P203

0.5

O-M110

4.5

O-M95

1.1

P-P295

3.2

S-M230

0.5

S-M254

15.1

S-P377

0.5

mtDNA: n=639

Haplogroup

%

Keterangan

B

0.3

B4a

5.8

B4a1a1a

0.6

B4b1

5.6

B4c1b3

4

Umur 13000±3350 tahun
B4c2

0.2

B5a

3.1

B5b1

5.6

Umur  9600±4650 tahun
D

2

Umur 25400±7600 tahun
D5

1.4

Umur 16200±5600 tahun
D5b1c1

4.2

E

1.4

Umur 36200±15300 tahun
E1a1a

3

Umur 9600±3250
E1b

4.7

E2

3.3

F1a

3.8

F1a1

1.3

Banyak tersebar di daratan dan kepulauan Asia Tenggara
F1a3

5.5

Hanya ada di kepulauan Asia Tenggara
F1a4

4.7

Umur 5200±1850 tahun
F3/F3b1a

0.6

Hanya dijumpai di Timor dan Filipina
M*

8.3

M7b

1.4

Asal Daic di China Selatan dan penutur Austroasiatik
M7b3

5.2

Umur 8350±5550 tahun
M7c3c

11

Umur 9100± 3550 motif ini banyak di kepulauan Asia Tenggara
M17a/dulunya M45

0.8

M73

1.7

M47

0.3

N*

0.8

N22 sangat langka dan hanya ada di Sumba 8% di studi lain
P*

1.4

Umur 54000±15950  tahun; Terdiri dari P1, P1d1 dan P4a
Q1

2.8

Umur 38200±9400 tahun
R*

1.6

Merata dari Bali sampai Timor
R9b1/R9b1a1a

0.2

Lembata, Semenanjung Indo China sampai Semenanjung Melayu
R9c1/R9c1a

2.5

Hanya ada di Timor dan Flores
R22

0.6

Hanya ada di Bali, Flores, Lembata
R23

0.2

Hanya ada di Bali

 

Banyak dari populasi Sumba mudah dibedakan secara genetik, karena proses isolasi yang dialami masing-masing populasi. Sementara Lamboya dan Loli memiliki peran sebagai populasi penghubung, populasi lain berada dalam kluster genetika masing-masing. Dua populasi yang cukup dekat secara geografi, hanya berjarak 10km, Lamboya dan Wanokaka, berada dalam kluster yang berbeda. Sebaliknya, populasi yang berjauhan, seperti Rindi, malah berada di tengah-tengah. Pola sebaran garis paternal, dalam hal ini haplogroup O, yang diduga sebagai penyebar budaya cocok tanam, tidak menggambarkan pola autosome, sedangkan mtDNA antara populasi yang berjauhan mirip satu sama lain, menunjukkan bahwa para wanita berpindah, tidak selalu mencari lokasi terdekat. Namun data autosomal tidak menemukan kaitannya dengan sebaran bahasa. Seperti Lamboya secara genetik lebih mirip Loli, dibandingkan dengan Kodi; dan Rindi yang secara geografis sangat jauh, secara genetik berada di antara penutur Anakalang, Mamboro, Wanokaka, dan Wunga.

Temuan menarik lainnya adalah bahwa isolasi secara budaya dan bahasa antara populasi Sumba tidak berdampak signifikan terhadap keragaman genetik dalam populasi tersebut. Bahkan, keragaman genetik populasi Sumba lebih tinggi dibandingkan populasi dari PNG dan Nasioi di Bougainville, kepulauan Solomon. Kedua populasi tersebut bercampur dengan penutur Austronesia, sehingga ada indikasi mereka juga terisolasi sebelum kedatangan penutur Austronesia. Keragaman genetik bisa menurun dalam kurun waktu yang lama, namun tidak demikian halnya yang terjadi di Sumba. Hal ini tidak bisa diartikan juga bahwa isolasi tidak memiliki konsekuensi. Proses endogami, menikah dengan kerabat dekat, seperti di Bali dan Nias, nampaknya menjadi sebab terjadinya kerusakan genetik yang menyebabkan tuli di sebagian kecil namun signifikan populasi di sana. Namun di populasi Rindi, dengan aturan menikah yang lebih rumit, tidak menyebabkan penurunan keragaman genetik (Guillot, et al. 2015).

Sebagai laboratorium kehidupan, Sumba bisa menjadi contoh bahwa selama ribuan tahun, populasinya bisa menjaga keragaman genetik yang cukup tinggi. Mereka berasal dari populasi yang sama, namun menjalani hidup dan bahasa yang berbeda, sehingga sesuai sebagai contoh meneliti efek dari isolasi dalam populasi skala kecil. Bahkan keragaman tersebut bisa terjaga dengan kendala bahasa yang cukup kuat. Suatu populasi bisa tetap berkerabat dekat selama mereka hanya migrasi dalam jumlah kecil selama ratusan generasi. Sebaliknya, bahasa dan budaya bisa berubah lebih cepat, dan perbedaan bahasa lebih mencerminkan hubungan sosial antar populasi dibandingkan hubungan perkawinan. Secara genetika lambat, namun secara budaya cepat, bisa menjelaskan kenapa Sumba memiliki bahasa yang beragam, sementara dampak terhadap struktur genetik populasi dan keragamannya relatif kecil. Dalam teori genetika populasi, drift bisa menurunkan keragaman genetik secara cepat dalam populasi skala kecil.

Berkurangnya keragaman genetik di Sumba bukan semata-mata hasil dari proses isolasi panjang dalam populasi yang berada dalam geografi terbatas. Seringkali, populasi dengan struktur yang mirip sejak awal adalah fitur kunci dari populasi secara global.

Ringkasnya, populasi pertama Sumba adalah populasi garis paternal C dan keturunannya, C-M38, masih berkerabat dengan suku aborigin Australia. Bisa dikatakan, bahwa mereka termasuk Australoid. Populasi berikutnya, adalah garis paternal K-M526 beserta keturunannya, mengalami spesiasi di Sundaland, di kemudian hari sering disebut sebagai Papuan/Melanesian.

MJN NRY M110 Sumba

Kemudian disusul oleh populasi penutur rumpun Austronesia dengan garis paternal O-M119 dan O-M110. Anda bisa melihat, bahwa garis paternal O-M110 memiliki leluhur yang sama dengan populasi Timor dan Taiwan, namun tidak ada populasi Sumba merupakan garis keturunan langsung populasi Taiwan. Populasi Sulawesi dan Bali mungkin memiliki leluhur yang sama dengan Taiwan, tapi tidak dengan Sumba. Bagaimana dengan garis keturunan O-M119? Dari gambar di bawah, tidak ada kekerabatan secara langsung antara populasi Taiwan dengan populasi Indonesia, termasuk Sumba. Populasi Daic di sekitar Teluk Tonkin yang perlu diinvestigasi.

O1a* STR haplotypes

O1a* STR haplotypes

Dimana populasi proto Melayu? Mungkinkah garis maternal yang terbaca sebagai proto Melayu? mtDNA M*, N22, R22, R23, E, M17a, F1a*, masih dijumpai di sebagian wilayah Sumba. M17a, N22, R22 dan R23 merupakan basal haplogroup di Wallacea, dan menjadi bagian dari populasi awal Wallacea dan Sahul. Jika sejak awal proto Melayu sudah ada di Sumba, maka tidak ada alasan bahasa proto Sumba dibawa oleh para petani penutur Austronesia. Jika Anda pikirkan kembali, komponen k6 sangat tinggi pada populasi dari Filipina utara, maka tidaklah berlebihan jika rumpun Wallacea dan Filipina memiliki leluhur yang sama, proto Melayu, dan bukan sebaliknya. K5 dan K6 adalah keturunan dari penduduk asli Sundaland, setidaknya k2 yang mengalami spesiasi di Sundaland (lihat perubahannya dari K=6 ke K=7 dari Mörseburg et al.), yang kemudian menyebar ke segala penjuru menjelang berakhirnya jaman es. Make sense?

Kita bahas lain kesempatan…

Update November 2017

Lansing et al. (2017) dalam penelitian terbarunya tentang keterkaitan bahasa dan genetika populasi Sumba dan Timor masih mencoba mendorong kesimpulan terdahulu bahwa ada korelasi antara bahasa dan genetika populasi Sumba walaupun secara lokal. Meskipun menemukan adanya asosiasi secara bahasa dengan genetika terkait dengan penyebaran bahasa, seperti dalam sistem kekerabatan di masyarakat Sumba adalah berdasarkan hubungan patrilineal dengan pola menetap patrilokal. Fakta bahwa bahasa induk pria Sumba tidak berubah dari ribuan tahun yang lalu, maka tidak ada pengaruh yang signifikan terhadap kedatangan para wanita keturunan Asia Tenggara daratan/Indonesia bagian barat yang diasumsikan membawa bahasa Austronesia ke Sumba baik 4875 tahun yang lalu (Lansing et al. 2007), maupun setelah 3500 tahun yang lalu (menurut konsensus ekspansi Austronesia). Dengan kata lain, proto Sumba adalah bahasa lokal yang tidak terkait dengan kedatangan petani penutur Austronesia dari barat maupun utara. Dari 14 desa patrilokal, dengan 12 bahasa yang berbeda dalam rumpun Austronesia, serta 12 desa matrilokal dengan empat bahasa Austronesia di Timor Barat, memperkuat bukti bahwa Wallacea merupakan area bahasa tersendiri yang sudah dipakai ribuan tahun, dan bukan terjadi pergantian bahasa dari rumpun Papua ke rumpun Austronesia. Asimilasi budaya sangat mungkin terjadi, tapi bukan faktor utama perkembangan bahasa di wilayah Wallacea.

Berdasarkan uniparental markers populasi Sumba, secara umum akan terlihat adanya campuran genetika populasi Wallacea, Papua dan Asia. Namun, jika dilihat dari keterkaitan genetik dan bahasa, maka populasi lokal dengan sistem sosial patrilokal tidak memperlihatkan adanya perubahan berarti, baik karena adanya kedatangan populasi penutur Papua maupun pendatang penutur Austronesia. Hal ini karena sejak awal populasi Sumba memiliki struktur populasi seperti saat ini dan mempertahankan bahasa induk selama ribuan generasi. Penelitian ini mendukung Wallacea merupakan area bahasa tersendiri, tidak terdampak oleh populasi keturunan Papua maupun keturunan Asia (penutur bahasa Austronesia). Berdasarkan uniparental markers, Sumba merupakan salah satu contoh sejarah populasi proto-Melayu dan Alfuros.

Temuan ini sekaligus memperkuat asumsi awal yang pernah saya ungkap di tulisan terdahulu, bahwa garis paternal populasi Sumba bukan hasil migrasi dari Papua (C-M38, K-M526*, S-M254, M-P34), karena dalam sistem kekerabatan patrilineal, para pria yang diasumsikan konsensus sebagai keturunan Papua tersebut harus mempertahankan bahasa induknya, rumpun bahasa Papua. Hal ini sekaligus membantah asumsi umum bahwa garis paternal K-M526 dan keturunannya bukan berasal dari Oceania barat (Papua Barat termasuk dalam Near Oceania), tapi merupakan garis paternal lokal Sumba, yang tidak sampai Sahul dalam sejarah populasi gelombang kedua (Contoh paling nyata adalah garis paternal K-P405 merupakan garis paternal ancestral terhadap garis paternal S-P308/S-P60 pada suku aborigin Australia dan S-P79 pada populasi highlanders PNG).

Update: 2017

Kinship structures create persistent channels for language transmission

Significance

Associations between genes and languages occur even with sustained migration among communities. By comparing phylogenies of genes and languages, we identify one source of this association. In traditional tribal societies, marriage customs channel language transmission. When women remain in their natal community and men disperse (matrilocality), children learn their mothers’ language, and language correlates with maternally inherited mitochondrial DNA. For the converse kinship practice (patrilocality), language instead correlates with paternally inherited Y chromosome. Kinship rules dictating postmarital residence can persist for many generations and determine population genetic structure at the community scale. The long-term association of languages with genetic clades created by kinship systems provides information about language transmission, and about the structure and persistence of social groups.

Abstract

Languages are transmitted through channels created by kinship systems. Given sufficient time, these kinship channels can change the genetic and linguistic structure of populations. In traditional societies of eastern Indonesia, finely resolved cophylogenies of languages and genes reveal persistent movements between stable speech communities facilitated by kinship rules. When multiple languages are present in a region and postmarital residence rules encourage sustained directional movement between speech communities, then languages should be channeled along uniparental lines. We find strong evidence for this pattern in 982 individuals from 25 villages on two adjacent islands, where different kinship rules have been followed. Core groups of close relatives have stayed together for generations, while remaining in contact with, and marrying into, surrounding groups. Over time, these kinship systems shaped their gene and language phylogenies: Consistently following a postmarital residence rule turned social communities into speech communities.

Begitu pun yang terjadi di Timor Barat, namun kita akan bahas lain waktu.

Iklan

2 responses to “Kaitan Genetik Dan Bahasa Di Sumba

  1. Ping-balik: Wallacea, Sebuah Area Rumpun Bahasa | The Forgotten Motherland·

  2. Ping-balik: KAITAN GENETIK DAN BAHASA DI SUMBA | SamuelHenk·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s