Wallacea, Sebuah Area Rumpun Bahasa


area-bahasa-Wallacea

Wallacea sering diidentifikasikan sebagai area zoogeografis yang merupakan zona transisi antara Sundaland (Semenanjung Melayu, Sumatra, Borneo, Jawa dan Bali) dan Sahul (Australia dan Papua Nugini). Wilayah Wallacea meliputi Sulawesi, Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, Timor, Halmahera, Buru, Seram, beserta banyak pulau-pulau kecil di Indonesia Timur, dan Timor Leste. Wallacea terkenal dengan area mega-biodiversiti dengan jumlah spesies sangat banyak dibandingkan tempat lain di dunia. Wallacea adalah habitat hidup lebih dari 10000 spesies tumbuhan dan lebih dari 1100 spesies vertebrata daratan, sebagian besar endemik.

Kekayaan spesies yang beragam tersebut juga terkait dengan kekayaan keragaman bahasa. Di Wallacea, jumlah bahasa sama banyaknya dan rata-rata penuturnya lebih rendah dari penutur di Indonesia bagian barat. Di Maluku sendiri, setidaknya terdapat 130 bahasa dengan populasi penuturnya antara beberapa ratus sampai seribu. Terkait rumpun bahasa, Wallacea lebih beragam daripada wilayah lainnya di bagian barat. Sementara bahasa di kepulauan Nusantara bagian barat adalah bagian dari rumpun Austronesia, bahasa di Wallacea lebih dari selusin rumpun bahasa yang berbeda, tidak hanya rumpun Austronesia namun juga banyak rumpun-rumpun kecil yang saat ini di klasifikasikan keluarga bahasa Papua.

Papua” tidak mengacu pada sekelompok genetik kohesif tunggal bahasa. Justru itu adalah label negatif yang meliputi bahasa yang bukan anggota dari rumpun bahasa Austronesia (non-Austronesian) dan berada di atau sekitar pulau New Guinea. Dalam banyak literatur, penekanan pada bahasa Papua” tidak menjadi bagian dari keluarga bahasa Austronesia, dan ini telah melahirkan “non-Austronesia” sebagai label alternatif untuk “Papua.” Label ini tidak lagi sesuai dengan perkembangan pengklasifikasian bahasa, sebagaimana hal tersebut tidak terkait pembatasan geografis untuk wilayah New Guinea yang sangat penting untuk “Papuanness.” Bahasa Austronesia sebenarnya berhubungan dengan beberapa anggota rumpun bahasa lainnya (non-Papua), termasuk Australia, Austria-Asiatic , Bantu, Tai-Kadai dan Sino-Tibet.

Secara struktur, bahasa-bahasa di Wallacea diakui sangat beragam. Sebagai contoh, di antara bahasa-bahasa Papua, terdapat berbagai susunan kalimat: Subyek-Predikat-Obyek (SPO) di Halmahera dan kepala burung Irian, serta Subyek-Obyek-Predikat (SOP) di Timor-Alor-Pantar, Semenanjung Bomberai, area leher burung Irian dan Yapen. Di antara bahasa-bahasa Austronesia, terdapat sederet susunan morfologi kalimat mulai dari yang terisolasi seperti Keo di Flores, sampai morfologi derivatif yang beragam seperti Kambera di Sumba, atau morfologi inflektif seperti bahasa Banda di Maluku (penambahan menambahkan morfem inflektif untuk kata-kata yang kadang-kadang disebut bahasa inflektif, yang merupakan sinonim untuk bahasa infleksi).

Saat ini, pemahaman kita tentang bahasa-bahasa di Wallacea sangat terbatas, gambaran yang ada berdasarkan daftar kata yang ada dan pemakaian dalam kalimat yang sangat kurang. Bahkan, beberapa dekade yang lalu Tryon menulis bahwa Wallacea merupakan wilayah di mana rumpun bahasa Austronesia kurang dikenal. Dua pandangan yang umum terkait bahasa-bahasa di Wallacea adalah bahwa bahasa-bahasa di Wallacea merupakan prototipe rumpun bahasa Austronesia, dan bahwa bahasa-bahasa di Wallacea adalah bahasa Austronesia dengan pengaruh rumpun bahasa Papua. Namun perlu diingat, keragaman bahasa di Wallacea harus dipandang sebagai sebuah koherensi – intergrasi dari berbagai elemen yang berbeda -: meskipun beragam, ada koherensi di antara bahasa-bahasa tersebut. Dan seharusnya bukan dipandang karena posisi geografisnya di pinggiran wilayah rumpun bahasa Papua, karena kemiripan karakteristik di zona transisi antara keduanya. Bahasa-bahasa Wallacea memperlihatkan deretan fitur bahasa yang membedakannya dengan bahasa-bahasa di Sunda dan Sahul bagian utara. Bahasa-bahasa Wallacea terfokus di Nusa Tenggara, Maluku, Timor-Leste, Kepala Burung Papua dan Teluk Cendrawasih, yang mengarah pada keberadaan jaringan para nelayan-petani masa lalu sebelum kedatangan penutur Austronesia di Wallacea. Dalam konteks ini, kita harus melihat sebaran orang laut penutur proto-Malayo Polynesian di Nusa Tenggara, Maluku, Timor-Leste, Kepala Burung Papua, dan wilayah di Teluk Cendrawasih, dan konteks sebaran tersebut relevan dengan sebaran bangsa dan budaya Lapita di pesisir utara Papua Nugini sampai kepulauan Bismarck.

Hunian masa lalu di Wallacea bisa dibuktikan di kepulauan Talaud, tepatnya di gua Liang Sarru, dengan fase hunian pertama sekitar 30-28 kya, kemudian diikuti oleh pemanfaatan Liang Sarru paling intensif pada saat LGM 21-17 kya, dan fase terakhir sekitar 10-7 kya. Bukti Orang Laut mendiami bagian utara Wallacea adalah dari bukti shellfish dari keluarga Neritidae, Turbinidae, dan Trochidae. Sebaliknya, penggunaan alat batu di Liang Sarru mencerminkan praktik yang tidak menjadi prioritas utama, seperti yang terdapat di Borneo bagian timur laut, di mana Anda akan mendapati artefak periode 17-12 kya di sekitar danau Tingkayu, gua Hagop Bilo, Kimanis, dan Lubang Kayu. Di Nusa Tenggara, hunian manusia purba periode Pleistocene terdapat di Flores berlangsung dari 1 juta tyl sampai setidaknya 50 kya. Kemudian di pulau Timor, hunian tertua di Kaili 44 kya, Jerimalai 42-35 kya, berlanjut 23-16 kya, dan Lene Hara 11-10 kya. Sementara itu di pedalaman Timor, situs gua Uai Bobo 1 dan 2 berumur 13 kya, dan situs gua Lua Meko di pulau Rote berumur 24 kya, juga menjadi bukti hunian manusia modern di Wallacea sebelum periode agrikultur. Artifak menarik lainnya adalah penggunaan alat batu, sekaligus adanya pertukaran alat batu antara pulau, untuk memecah kacang kenari yang ditemukan di Tanjung Pinang, bagian selatan Morotai, dan Um Kapat Papo di Gebe, berumur 13 kya.

Wallacea berada di persimpangan antara wilayah sebaran penutur Austronesia dan Melanesia. Wallacea merupakan wilayah paling barat di mana bahasa-bahasa dari rumpun Papua (Trans-Nugini) ditemukan berdampingan dengan bahasa-bahasa dari rumpun Austronesia. Sebuah rumpun bahasa adalah sekumpulan bahasa yang berasal dari leluhur yang sama, yang disebut proto-bahasa. Dalam kasus bahasa-bahasa di Wallacea, kurangnya data mengakibatkan ketidakakuratan dalam pengelompokan bahasa, dan kurang bermanfaatnya metode komparatif dalam mengelompokkan bahasa-bahasa tersebut, sehingga lebih sering spekulatif. Karenanya, literatur saat ini masih mengadopsi pengelompokan bahasa yang spekulatif tersebut.

Rumpun Papua yang ada di Wallacea terdiri dari tiga kelompok besar: rumpun-Timor-Alor-Pantar terdiri dari 30 bahasa, tersebar diantara rumpun bahasa Austronesia, di bagian timur dan tengah Timor, dan mendominasi pulau Alor dan Pantar; rumpun Halmahera utara di sekitar selusin bahasa di pulau Halmahera dan beberapa pulau kecil di Maluku Utara; serta rumpun Yawa yang terdiri dari dua bahasa di pesisir Teluk Cendrawasih: Yawa di bagian tengah pulau Yapen serta bahasa terdekat di sekitarnya Saweru di pulau Saweru sebelah selatan Yapen. Di wilayah kepala burung Papua, ada rumpun bagian timur, bagian barat dan bagian selatan, serta tiga rumpun terisolasi. Di semenanjung Bomberai ada Bomberai barat dan dua terisolasi yaitu Mor dan Tanahmerah yang dikenal dengan sebutan Sumeri. Sedangkan di bagian leher burung terdapat rumpun Mairasi.

Bahasa-bahasa Austronesia diklaim berasal dari Taiwan dan menyebar ke seluruh kepulauan Asia Tenggara dan Pasifik sejak 4500 tahun yang lalu. Bellwood (2006) berargumen bahwa bahasa Austronesia mulai muncul di Wallacea sekitar 3500 tahun yang lalu, meskipun sejauh mana bahasa Austronesia yang jumlahnya lebih dari 100 bahasa tersebut saling berkerabat masih diperdebatkan. Robert Blust (1993) berpendapat bahwa bahasa-bahasa Austronesia di Wallacea semuanya merupakan bagian dari Central-Eastern Malayo Polynesian. Rumpun CEMP kemudian dibagi menjadi dua kelompok: Central Malayo-Polynesian dan Eastern Malayo Polynesian. Blust kembali membagi EMP menjadi dua: South Halmahera-West New Guinea dan Oceanic. CMP tersebar mulai dari Bima di bagian timur Sumbawa, Nusa Tenggara, Timor Leste sampai Maluku tengah dan selatan. SHWNG meliputi Maluku utara, Halmahera selatan dan Raja Ampat, dan Teluk Cendrawasih sampai Warembori di muara sungai Mamberano, serta Irarutu di Semenanjung Bomberai. Oceanic berada di sebelah timur Warembori dan berada di luar Wallacea.

area bahasa Wallacea

Pertanyaan menarik dari Simonson et al. 2011; Soares et al. 2011, bagaimana mungkin terjadi pergantian bahasa, hampir menyeluruh, di wilayah di mana hanya terjadi perubahan minor komposisi genetik populasi tersebut? Bagaimana menjelaskan bahwa makin banyak populasi penutur bahasa Austronesia ditemukan memiliki afinitas genetik yang makin tidak mendekati bahasa-bahasa di Taiwan sebagaimana diklaim sebagai asal-usul rumpun bahasa Austronesia? Polynesian motif, sebagai penanda genetik penutur Austronesia, terdeteksi lebih tua dari aliran gen selama 6000 tahun di Melanesia. Hal ini mengindikasikan bahwa elemen biologis tersebut, Polynesian motif, tidak bisa diasosiasikan dengan sejarah linguistik mereka. Mungkinkah difusi demik bukan faktor utama sebaran rumpun bahasa Austronesia?

Pemisahan gen, bahasa dan materi budaya

Kegagalan yang sering kali terjadi dalam penggambaran asal-usul dan sebaran rumpun bahasa Austronesia adalah praduga bahwa sejarah genetik, bahasa, dan budaya harus memiliki korelasi, dan mengikuti jalur migrasi/lintasan yang sama. Masalah klasik dalam analisis multidisiplin keilmuan adalah bahwa variable yang menjadi alat pendekatan analisis harus memiliki satu konstanta yang sama, yaitu waktu. Jika disiplin genetik, bahasa dan budaya tidak menghasilkan konteks waktu yang sama, maka dipastikan salah satu disiplin melakukan pendekatan yang tidak tepat. Hal ini tercermin dari persesuaian bukti-bukti yang ada di ISEA selama 4000 tahun, yang tidak jelas. Di beberapa kasus, disparitas antara data genetik dan bahasa sangat jelas, dan banyaknya ketidaksinkronan antara budaya dan tanaman pangan yang ada. Bahkan tembikar slip merah sebagai penanda sebaran rumpun bahasa Austronesia di ISEA pun tidak memberikan dukungan yang meyakinkan. Tembikar khas tersebut hanya menunjukkan pengaruh Taiwan dalam jaringan perdagangan maritim ketimbang sebaran demik, cocok tanam, bahasa dan budaya Neolitik.

Kontra dengan teori sebaran bahasa Austronesia/budaya cocok tanam, sangat mungkin bahwa tidak hanya terdapat satu lokasi asal-usul, satu jalur migrasi, satu paket budaya, atau satu mode transmisi bahasa yang menyebar ke ISEA. Namun, kompleksitas yang ada tidak juga bisa menjawab bahwa ada dua lokasi asal-usul, dua jalur migrasi, atau dua paket budaya. Harus ada hipotesis baru yang berbeda yang perlu dipertimbangkan untuk mengakomodasi fenomena yang ada. Sejarah yang berbeda dan difusi geografis yang merujuk pada sebaran multi-arah seharusnya menjadi pertimbangan, tidak hanya dari barat ke timur atau dari selatan ke utara.

Pertukaran babi terjadi dari Sulawesi ke Flores, atau marsupial dari Papua ke Timor-Timur. Difusi dalam skala luas babi dari MSEA ke Indonesia timur, difusi skala luas pisang dan tebu dari Papua ke arah barat, serta difusi tembikar dari MSEA ke Borneo. Sampan bercadik tidak unik pada populasi Taiwan, karena istilah itu tidak ada dalam proto-Austronesia. Bagaimana Anda bisa yakin bahwa populasi Taiwan masa lalu adalah pelaut jarak jauh jika sampan bercadik bukan merupakan alat bantu kehidupan mereka? Namun jika Anda melihat Wallacea dan sekitarnya, maka sampan bercadik bukan barang baru bagi pengembara laut di Wallacea. Pertukaran maritim yang terjadi antara populasi China, Taiwan dan pulau-pulau kecil di sekitarnya terfasilitasi dengan rakit bambu yang sederhana, mungkin karena jaraknya yang dekat, dan bukan sampan bercadik.

Selama ribuan tahun, jaringan pertukaran maritim makin didominasi oleh penutur Malayo-Polynesia, yang menyisir daerah pantai di mana penduduk lokal mulai mengadopsi teknologi, budaya serta bahasa Malayo-Polynesia. Masih belum jelas kenapa penutur Malayo-Polynesia mendominasi, karena ketidak-konsistenan bukti DNA yang ada. Dalam beberapa model, sekelompok kecil manusia meninggalkan jejak genetik, namun jumlah populasinya tidak begitu jelas. Perlahan pertukaran budaya dan tradisi lokal yang tadinya hanya ada atau disekitar ISEA, menjadi sesuatu yang umum di segala penjuru Pasifik. Sementara paket budaya, baik bahasa Austronesia maupun budaya Neolitik yang diduga dari Taiwan, hanya merupakan ilusi bagi ISEA secara keseluruhan, tidak berasal dari satu lokasi kemudian menyebar keluar, namun terbentuk melalui penggunaan jenis-jenis barang yang diperdagangkan dan dipakai bersama oleh populasi ISEA pada masa itu, berkat adanya kontak budaya maritim.

Sebaran bahasa Austronesia tidak dapat dianggap sebagai proses ekspansif tunggal dari Taiwan ke kepulauan di selatan, apalagi timur ke arah Polynesia. Dinamika sosial yang mendasari penyebaran bahasa Malayo-Polynesia melalui daerah yang sebelumnya dihuni dari ISEA dan Melanesia, yang hampir pasti dasarnya berbeda dari pengembara laut awal menuju pulau tak berpenghuni di seantero Pasifik. Dari signifikansi yang lebih luas, penyebaran bahasa Austronesia dipaksakan sebagai pola dasar dari hipotesis penyebaran pertanian atau sebaran bahasa. Hal ini menunjukkan ketidakmampuan hipotesis tersebut untuk menjelaskan distribusi gen, bahasa, dan budaya material di ISEA selama 4.000 tahun terakhir. Karenanya ada usulan alternatif, hipotesis yang lebih kompleks, fokus pada sejarah khas setiap kumpulan bukti dan konteks pertukaran sosial di ISEA. Maka, dugaan adanya harmoni gen, bahasa, dan budaya, serta kesesuaiannya dengan hipotesis penyebaran pertanian atau bahasa dengan konteks historis dan geografis lainnya, seharusnya diuji terus menerus.

Tentu saja, Bellwood kurang setuju dengan model tersebut, bahwa hanya 20% penanda genetik paternal dan maternal yang mencerminkan sebaran penutur Austronesia di ISEA, dengan alasan tidak disertakannya DNA purba sebagai kalibrator, dan penggunaan asumsi jam molekuler pada periode Holocene. Bellwood berargumen juga tentang populasi Austronesia yang tidak mirip dengan populasi non-Austronesia secara genetik. Bahwa tidak ada populasi tersebut diluar batas wilayah Vietnam, Semenanjung Melayu, Melanesia dan Madagascar. Dalam istilah lingustik, pohon kekerabatan bahasa Malayo-Polynesia dipandang seperti sapu lidi, mengindikasikan sebaran ke segala arah secara cepat, karenanya proto MP tidak bisa dipandang berasal dari wilayah tertentu manapun di luar Taiwan. Bellwood mempertanyakan mengapa harus dipandang sebagai keberadaan bahasa purba di ISEA jika bahasa tersebut tidak begitu tua umurnya? Klaim Bellwood bahwa tidak ada bukti interaksi tersembunyi dalam jaringan pertukaran pra-keramik di Taiwan atau Filipina Utara, serta di Maluku, Borneo, atau Sulawesi. Dan, klaim bahwa tidak ada bukti tembikar motif tali-temali, alat pancing dari kerang, serta alat potong dari kerang, yang ada sebelum kedatangan/munculnya Malayo-Polynesia di ISEA, kecuali di Timor Leste.

Cox dan Lansing berpendapat lain. Model-model yang ada bisa dipandang berguna hanya jika model tersebut menceritakan hal baru. Sebuah model bagus seharusnya lebih sederhana, eksplisit, dan yang paling penting, bisa diuji. Apakah populasi Indo-Pasifik berinteraksi secara tidak berbeda secara geografi dan bersamaan secara waktu? Atau apakah populasi Indo-Pasifik berinteraksi dengan cara yang spesifik, pada waktu yang spesifik, dan wilayahnya tepatnya ada di mana? Menurut Cox dan Lansing, model out of Taiwan memang mudah dibantah dan dikritik karena terlalu sederhana, eksplisit dan bisa diuji. Model ini dikritik karena desakan pada korespondensi antara inter-disipliner data, seperti genetik dan bahasa. Cox mencontohkan relasi keragaman genetik dan bahasa di Sumba. Dalam model out of Taiwan, kita memiliki ekspektasi sebaran populasi penutur Austronesia terjadi secara cepat dan meninggalkan jejak tertentu pada populasi modern yang mewarisi komponen Asia dan berasal dari pertengahan Holocene, dan terdeteksi dalam warisan genetik/bahasa yang sama. Cox memang menemukan bahwa setidaknya seperempat penduduk Sumba mewarisi garis paternal dari Asia, dan berumur kurang dari 5000 tahun namun semuanya berbahasa lokal Sumba. Sedangkan proporsi laki-laki dengan keturunan Asia berkorelasi secara signifikan dengan desa-desa di mana sisa-sisa kata dasar proto-Austronesia masih ditemukan. Namun dalam penelitian barunya, Cox tidak bisa membuktikan jika proto Sumba adalah bahasa pendatang, atau bagian dari rumpun Austronesia (lihat update dari Lansing et al. 2017).

Bagi mereka yang tidak mendukung keuletan model out of Taiwan, alasannya sepertinya jelas menurut Cox: tidak ada alternatif yang berarti. Cox menambahkan, ide-ide awal banyak salah, ekspansi populasi manapun tidak menghasilkan pergantian secara keseluruhan, namun sama juga jelasnya dengan, beberapa ide memang benar, seperti penanda genetik memang ada kekerabatan dengan populasi aborigin Taiwan, namun tidak seluruhnya.

Yang kita butuhkan saat ini adalah model alternatif yang sederhana, eksplisit, dan bisa diuji. Apa yang bisa kita harapkan untuk kasus Sumba? Baca Cox et al. terbaru tentang kaitan genetik dan bahasa di Sumba. Tidak penting jika model alternatif tersebut salah, setidaknya, model tersebut bermanfaat dan membantu.

Stephen Oppenheimer berpendapat lain, misteri asal-usul bahasa Austronesia merupakan pertanyaan disiplin bahasa, karena menggunakan dasar pemikiran Jared Diamond dan Bellwood bahwa gen, bahasa dan budaya bergerak bersamaan menguasai wilayah lain dan menggantikan gen, bahasa dan budaya wilayah tersebut.

Matthew Spriggs punya pandangan berbeda lagi. Sejarah genetik mempresentasikan profil disipliner yang belum terlalu matang dibandingkan bukti arkeologi maupun linguistik. Karenanya, peneliti bisa mengungkap asal-usul bangsa dan budaya Lapita hanya dengan meneliti populasi di wilayah Sepik Timur di pesisir utara Papua Nugini, populasi yang hampir pasti keturunan dari ekspansi penutur Austronesia ke arah barat, yang dengan menggunakan bukti arkeologi, dating sekitar 1700-1500 tahun yang lalu. Nada yang sama dinyatakan oleh Friedlaender et al. (2008) yang berkontribusi terhadap solusi perdebatan asal-usul populasi Polynesia dan interaksinya di masa lalu dengan populasi Melanesia dengan memilih, hampir tanpa pengecualian, populasi di kepulauan Bismarck di mana di wilayah tersebut tidak ditemukan bukti hunian Lapita atau bukti nyata dampak vulkanik paska-Lapita dan pergantian populasi selanjutnya. Karena itu, populasi modern hampir pasti tidak relevan dalam masalah yang akan dijawab: apa kontribusi ISEA terhadap permukiman Pasifik.

Excoffier and Ray (2008) tentang rambang genetik (drift), menjelaskan relasi antara Taiwan dan Polynesia, dengan dasar varian genetik frekuensi rendah bisa meningkat pesat selama ekspansi populasi secara cepat. Ini adalah masalah interpretasi, meskipun dengan jelas Excoffier dan Ray secara eksplisit menyatakan adanya masalah besar dalam interpretasi data genetik dalam periode sejarah. Penjelasan yang mungkin akan relasi tersebut adalah bahwa sinyal awal ekspansi memang jelas di Taiwan dan Polynesia namun terkaburkan oleh populasi yang datang kemudian, atau percampuran di wilayah antara Taiwan dan Polynesia. Hal tersebut yang sepertinya terjadi juga pada disiplin bahasa, dan situasi saat ini tidak bisa menjelaskan situasi masa lalu. Sangat mungkin ada banyak campuran dan pengaruh signifikan dalam rumpun bahasa Austronesia di ISEA, namun hal ini hanya terjadi selama 3000 tahun lebih, setelah gelombang migrasi sampai di timur menuju Polynesia.

Satu hal penting yang terlewat adalah dua bahasa Austronesia di kepulauan Mariana dan Palau, yang dihuni oleh populasi dari ISEA mendahului Lapita di kepulauan Bismarck, dan sepertinya tidak mendapat banyak pengaruh secara linguistik dari ISEA. Penutur awal Malayo-Polynesia yang menuju Pasifik bukan hampir-kriol atau bukan Malayo-Polynesia secara leksikal, namun tidak secara struktural seperti klaim Donohue.

Perampingan linguistik Malayo-Polynesia menjadi proto-Malayo-Polynesian dan proto-Oceanic bisa menjelaskan secara lebih baik data arkeologi selama periode Neolitik di ISEA sekitar 3800 tahun yang lalu dibandingkan penjelasan Blust dengan pengelompokan bahasa Austronesia-nya. Namun seharusnya masih ada satu wilayah antara PMP dan POc, seperti Eastern MP yang menjadi jembatan, karena adanya jeda antara waktu Neolitik Filipina, Sulawesi dan Nusa Tenggara sekitar 3800 tahun yang lalu, dan waktu situs awal Lapita di kepulauan Bismarck sekitar 3350 tahun yang lalu. Bahasa Chamoro dan Palau, mendapat pengaruh yang sangat mungkin didapat sebelum migrasi ke timur dari wilayah di Filipina/Maluku/Sulawesi.

Terkait argumen Cox dan Lansing, Donohue dan Denham mencatat bahwa wilayah yang seharusnya menjadi titik sebar bahasa Austronesia di Sumba justru menunjukkan tingkat terendah keberadaan Y-haplogroup O, yang diklaim sebagai penanda genetik petani Austronesia (padahal garis paternal haplogroup O adalah garis paternal populasi proto Melayu). Jika hewan dan tanaman bawaan petani Austronesia merupakan salah satu indikator penting, kenapa bukti arkeologi dan paleoekologi tidak menemukan jejak yang berarti di Sumba? Dan jejak tembikar slip merah seharusnya tidak disamakan sebagai proxy sebaran pertanian, bahasa dan populasi di ISEA.

There are no presumptive correspondences: farming ≠ red-slipped pottery ≠ language ≠ people.

Setiap elemen memiliki historik-geografis sendiri-sendiri. Kadang elemen-elemen tersebut muncul bersamaan, kadang tidak. Karena itu, Donohue dan Denham mengusulkan kerangka kerja interpretatif alternatif yang fokus pada dinamika sosial di mana pengaruh-pengaruh dari Taiwan, daratan Asia Tenggara, dan Melanesia, serta populasi dalam ISEA, mengalami transformasi dalam lingkup waktu dan ruang sosial.

Selanjutnya adalah bagaimana membuktikan bahwa bahasa non-Austronesia di Wallacea bukan merupakan bagian dari Trans-Nugini. Bukti awal yang saya telusuri menunjukkan bahwa bahasa Timor-Alor-Pantar yang diklasifikasikan sebagai bagian dari Trans-Nugini paling barat, ternyata tidak valid. Bagaimana jika bahasa Timor-Alor-Pantar merupakan bahasa asli populasi Wallacea? Masihkah valid apa yang pernah saya tulis tentang keterkaitan gen dan bahasa di Wallacea?

Kita akan membahas lebih rinci tentang hal tersebut di tulisan berikutnya.

 

Update: November 2017

Lansing et al. (2017) dalam penelitian terbarunya tentang keterkaitan bahasa dan genetika populasi Sumba dan Timor masih mencoba mendorong kesimpulan terdahulu bahwa ada korelasi antara bahasa dan genetika populasi Sumba walaupun secara lokal. Meskipun menemukan adanya asosiasi secara bahasa dengan genetika terkait dengan penyebaran bahasa, seperti dalam sistem kekerabatan di masyarakat Sumba adalah berdasarkan hubungan patrilineal dengan pola menetap patrilokal. Fakta bahwa bahasa induk pria Sumba tidak berubah dari ribuan tahun yang lalu, maka tidak ada pengaruh yang signifikan terhadap kedatangan para wanita keturunan Asia Tenggara daratan/Indonesia bagian barat yang diasumsikan membawa bahasa Austronesia ke Sumba baik 4875 tahun yang lalu (Lansing et al. 2007), maupun setelah 3500 tahun yang lalu (menurut konsensus ekspansi Austronesia). Dengan kata lain, proto Sumba adalah bahasa lokal yang tidak terkait dengan kedatangan petani penutur Austronesia dari barat maupun utara. Dari 14 desa patrilokal, dengan 12 bahasa yang berbeda dalam rumpun Austronesia, serta 12 desa matrilokal dengan empat bahasa Austronesia di Timor Barat, memperkuat bukti bahwa Wallacea merupakan area bahasa tersendiri yang sudah dipakai ribuan tahun, dan bukan terjadi pergantian bahasa dari rumpun Papua ke rumpun Austronesia. Asimilasi budaya sangat mungkin terjadi, tapi bukan faktor utama perkembangan bahasa di wilayah Wallacea.

Berdasarkan uniparental markers populasi Sumba, secara umum akan terlihat adanya campuran genetika populasi Wallacea, Papua dan Asia. Namun, jika dilihat dari keterkaitan genetik dan bahasa, maka populasi lokal dengan sistem sosial patrilokal tidak memperlihatkan adanya perubahan berarti, baik karena adanya kedatangan populasi penutur Papua maupun pendatang penutur Austronesia. Hal ini karena sejak awal populasi Sumba memiliki struktur populasi seperti saat ini dan mempertahankan bahasa induk selama ribuan generasi. Penelitian ini mendukung Wallacea merupakan area bahasa tersendiri, tidak terdampak oleh populasi keturunan Papua maupun keturunan Asia (penutur bahasa Austronesia). Berdasarkan uniparental markers, Sumba merupakan salah satu contoh sejarah populasi proto-Melayu dan Alfuros.

Temuan ini sekaligus memperkuat asumsi awal yang pernah saya ungkap di tulisan terdahulu, bahwa garis paternal populasi Sumba bukan hasil migrasi dari Papua (C-M38, K-M526*, S-M254, M-P34), karena dalam sistem kekerabatan patrilineal, para pria yang diasumsikan konsensus sebagai keturunan Papua tersebut harus mempertahankan bahasa induknya, rumpun bahasa Papua. Hal ini sekaligus membantah asumsi umum bahwa garis paternal K-M526 dan keturunannya bukan berasal dari Oceania barat (Papua Barat termasuk dalam Near Oceania), tapi merupakan garis paternal lokal Sumba, yang tidak sampai Sahul dalam sejarah populasi gelombang kedua (Contoh paling nyata adalah garis paternal K-P405 merupakan garis paternal ancestral terhadap garis paternal S-P308/S-P60 pada suku aborigin Australia dan S-P79 pada populasi highlanders PNG).

 

Kinship structures create persistent channels for language transmission

Significance

Associations between genes and languages occur even with sustained migration among communities. By comparing phylogenies of genes and languages, we identify one source of this association. In traditional tribal societies, marriage customs channel language transmission. When women remain in their natal community and men disperse (matrilocality), children learn their mothers’ language, and language correlates with maternally inherited mitochondrial DNA. For the converse kinship practice (patrilocality), language instead correlates with paternally inherited Y chromosome. Kinship rules dictating postmarital residence can persist for many generations and determine population genetic structure at the community scale. The long-term association of languages with genetic clades created by kinship systems provides information about language transmission, and about the structure and persistence of social groups.

Abstract

Languages are transmitted through channels created by kinship systems. Given sufficient time, these kinship channels can change the genetic and linguistic structure of populations. In traditional societies of eastern Indonesia, finely resolved cophylogenies of languages and genes reveal persistent movements between stable speech communities facilitated by kinship rules. When multiple languages are present in a region and postmarital residence rules encourage sustained directional movement between speech communities, then languages should be channeled along uniparental lines. We find strong evidence for this pattern in 982 individuals from 25 villages on two adjacent islands, where different kinship rules have been followed. Core groups of close relatives have stayed together for generations, while remaining in contact with, and marrying into, surrounding groups. Over time, these kinship systems shaped their gene and language phylogenies: Consistently following a postmarital residence rule turned social communities into speech communities.

 

Iklan

4 responses to “Wallacea, Sebuah Area Rumpun Bahasa

  1. Ping-balik: Relasi Penutur Tai-Kadai dan Austronesia | The Forgotten Motherland·

  2. Ping-balik: Populasi Lapita Bukan Keturunan Populasi Papua? | The Forgotten Motherland·

  3. Ping-balik: Keturunan Asia pada Populasi Wallacea | The Forgotten Motherland·

  4. Ping-balik: KETURUNAN ASIA PADA POPULASI WALLACEA | SamuelHenk·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s