Relasi Penutur Tai-Kadai dan Austronesia


tai-kadai-austronesiaDalam memahami sejarah populasi Nusantara, kadang sangat perlu untuk memahami terlebih dahulu sejarah populasi wilayah di sekitarnya, seperti daratan Asia Tenggara sampai Semenanjung Melayu. Dalam pelajaran sejarah kita di masa lalu, seringkali dinyatakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunnan, China Selatan, namun tidak pernah secara rinci diungkap proses dan mekanisme kedatangan mereka. Mungkin sedikit banyak diungkap oleh para arkeolog, yang pada saat itu hanya menggunakan beberapa artefak budaya Dong Son yang ditemukan di beberapa tempat di kepulauan Nusantara. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, banyak disiplin keilmuan mulai mengungkap puzzle demi puzzle tentang rincian proses migrasi tersebut. Dan kita perlu menguji kembali apakah benar nenek moyang kita berasal dari China selatan? Apa yang tidak kita ketahui dari proses migrasi tersebut?

Salah satu disiplin yang sedang gencar mengungkap sejarah populasi Nusantara adalah genetika populasi. Di antara upaya tersebut, yang jarang tersentuh, adalah relasi antara leluhur penutur Austronesia dengan populasi penutur bahasa-bahasa lain di Asia Tenggara, seperti bahasa Tai-Kadai, yang diduga merupakan kerabat dekat rumpun bahasa Austro-Asiatik dan Austronesia, yang masih sedikit sekali memberikan petunjuk terkait perannya dalam mengungkap misteri pergerakan populasi masa lalu. Upaya ini mulai muncul setelah beberapa penelitian tentang sejarah genetika populasi penutur Tai di Asia Tenggara daratan, struktur genetik penutur Tai-Kadai di perbatasan China Selatan-Thailand utara serta asal-usul kelompok penutur Austroasiatik.

Dalam meneliti sejarah garis keturunan maternal populasi penutur Tai, Li et al. mengkonfirmasi asal-usul populasi tersebut berasal dari Yunnan selatan, yang berekspansi menuju daratan Asia Tenggara ketika budaya cocok tanam mulai berkembang ~5 kya, dengan penanda maternal F1a, M7b dan B5a. Kampuansai et al. meneliti populasi Yong dan Lue yang memiliki relasi sejarah dengan leluhur populasi Xishuangbanna Dai, namun populasi Yong berkerabat lebih dekat dibanding Lue. Kedua penutur Tai-Kadai tersebut migrasi dari China selatan ke Thailand bagian utara sejak era Dinasti Han berkuasa. Seiring perjalanan waktu, kedua populasi tersebut mendominasi penutur rumpun bahasa Austroasiatik di bagian utara Thailand. Kemudian Kutanan et al. mencoba memahami proses migrasi penutur Tai-Kadai dari China selatan menuju Thailand dan Laos, apakah peristiwa tersebut merupakan difusi demik atau difusi budaya. Hasilnya, populasi penutur Tai-Kadai ternyata lebih seragam dibandingkan populasi penutur Austroasiatik yang masih terdeteksi garis maternal basal di Australasia. Dan pola sebaran penutur Tai-Kadai merupakan proses difusi demik, setelah dilakukan simulasi beberapa skenario seperti difusi budaya dan admixture. Peristiwa ini terjadi setidaknya sebelum 2,5 kya, ditandai dengan kemunculan mereka di China selatan, dan kemudian menuju daratan Asia Tenggara dalam dua ribu tahun terakhir.

Kembali ke tahun 2008, Hui Li et al. meneliti kaitan antara populasi penutur Austronesia bagian barat dan populasi penutur Dai. Dalam kesimpulannya, Hui Li et al. menyatakan bahwa populasi penutur Austronesia di kepulauan Asia Tenggara bukan keturunan Taiwan secara garis paternal, karena keduanya (ISEA dan Taiwan) secara garis paternal berasal dari populasi Daic, penutur Dai, yang berada di sekitar teluk Tonkin, dengan lokasi berdekatan dengan populasi yang berbudaya Dong Son, di Vietnam. Kedua populasi (ISEA dan Taiwan) mengalami evolusi terpisah. Jadi, secara genetik, populasi ISEA, Daic dan Taiwan terkait satu sama lain. Yang agak memerlukan penjelasan lebih lanjut adalah argumen bahwa populasi Daic tidak berpengaruh secara genetik pada populasi Han bagian selatan. Tentu saja karena garis paternal populasi Han memang berbeda dengan populasi Daic. Hui Li et al. hanya meneliti STR haplotype O1a-M119. Sedangkan mayoritas Han adalah garis keturunan O3-M122. Sample kecil yang digunakan Hui Li et al. untuk populasi bagian barat Indonesia juga mayoritas memiliki haplogroup O1a-M119, namun tidak mewakili populasi Indonesia bagian barat secara keseluruhan.

It is most likely that the ISEA populations mainly originated in the region around the Tonkin Gulf, the homeland of the Daic, and migrated to Indonesia through the Vietnam corridor. In contrast, the Taiwan aborigines migrated from mainland China directly. – Hui Li et al. 2008

Pernyataan menarik dari Wang et al. (2016) dalam penelitian terbarunya tentang relasi penutur Tai-Kadai dan Austronesia tersebut:

A total of 10-60% of Han Chinese ancestry derives from southern Native populations, and we show that the type of southern Native ancestry that contributed to Taiwan Island Austronesian speakers is most closely related to present-day speakers of Tai-Kadai languages in southern mainland China.

Siapakah ‘southern Native populations‘ tersebut? Jika mereka merupakan komponen utama populasi Han, maka mereka terkait dengan populasi Han bagian selatan. Jika Anda ingat dengan ancestral East Asians yang pernah saya bahas beberapa waktu silam, maka mereka inilah kunci dari populasi tua di koridor Sichuan.

Treemix Orang AsliAghakhanian et al. 2015

semistrict-consensus-supertree-of-186-human-populationsDuda & Zrzavý 2016

Namun percabangan dari ancestral East Asians tersebut ternyata jauh setelah Orang Asli, proto-Melayu termasuk di dalamnya Jawa, Bidayuh, Dayak Ngaju, dan Melayu, memisahkan diri dari populasi yang nantinya menjadi leluhur populasi Han serta Taiwan. Hasil ini diungkap oleh para peneliti Universiti Sains Malaysia, berdasarkan genome-nya, bahwa populasi proto-Melayu yang selanjutnya menjadi populasi Melayu, seharusnya tidak dipandang sebagai kesatuan dalam penutur Austronesia, namun lebih sebagai penutur Malayo-Polynesia, atau Melayunesia. Karena secara genomik, populasi di Semenanjung Melayu merupakan bagian dari populasi prasejarah Sundaland. Mereka sudah ada sebelum terjadi migrasi populasi Tai-Kadai, yang baru terjadi di era dinasti Han, dua ribu tahun yang lalu. Sebagian besar penutur Tai-Kadai yang migrasi ke wilayah bagian utara Thailand dan sekitarnya kemudian mendominasi penutur rumpun Austroasiatik. Profil genetik mereka tetap, namun mereka bisa berganti bahasa. Fenomena ini perlu digali lebih dalam lagi.

genome-oa-pmalayoUntuk mengungkap asal-usul populasi Melayu, sekelompok peneliti di USM melakukan penelitian pada penutur rumpun Malayo-Polynesia di Asia Tenggara menggunakan data genome secara keseluruhan untuk membangun hubungan antara studi genomik dan linguistik. Hasil dari populasi penelitian genome dilakukan pada populasi besar di Asia Tenggara menunjukkan bahwa mereka memiliki komponen leluhur yang sama, meskipun proporsi komponen ini secara substansial berbeda dalam setiap populasi. Meskipun perbedaan dalam budaya dan agama, mereka berbagi profil genetik dasar yang sama.

Selain itu, teori bahwa populasi Melayu berasal dari Yunnan atau Taiwan bertentangan dengan hasil analisis filogenetik dalam penelitian ini, di mana pohon filogenetik menempatkan Semang (Orang Asli) dan Melayu memisahkan diri lebih awal dibandingkan dengan populasi Han Cina dan Taiwan serta Daic dan Kamboja. Temuan-temuan ini paralel dengan temuan sebelumnya seperti Oppenheimer, yang didasarkan pada analisis DNA, bukti-bukti arkeologi dan etnologis menyarankan bahwa sebaran berawal dari Sundaland pada era jaman es ~16 kya. Hal ini sesuai dengan temuan baru tentang manusia modern awal dari gua Niah dari Curnoe et al. 2016, dengan skenarionya yang memperkuat keberadaan populasi prasejarah Sundaland. Penutur Malayo-Polynesia (mtDNA haplogroup E) menyebar juga ke arah utara (Taiwan), yang telah dihuni oleh populasi lain yang berasal dari China selatan. Populasi inilah yang terkait dengan penutur Tai-Kadai.

Usulan rute migrasi dari Curnoe et al. 2016

Usulan rute migrasi dari Curnoe et al. 2016

Perubahan iklim dan permukaan laut menyebabkan migrasi manusia untuk bergerak lebih jauh ke pedalaman di Asia Tenggara dan sebaran populasi ke barat sejauh Madagaskar dan timur ke Pasifik. Penggunaan Malayo-Polynesia atau “Melayunesian”, dan bukan Austronesia untuk merujuk pada rumpun bahasa Melayu, telah menghasilkan banyak diskusi di kalangan sarjana. Austronesia Istilah didefinisikan secara luas untuk mencakup identifikasi Melayu. Rumpun bahasa Austronesia meliputi sebagian besar bahasa yang dituturkan di pulau-pulau Pasifik, dengan pengecualian dari adat Papua dan bahasa Australia. Dengan 1.268 bahasa, Austronesia merupakan salah satu yang terbesar dan keluarga bahasa yang paling geografis jauh-penyebaran dunia. Sementara itu, Melayu-Polinesia adalah subkelompok linguistik keluarga Austronesia yang tersebar di seluruh Asia Tenggara maritim, Madagascar dan pulau-pulau di Samudera Pasifik, serta beberapa daerah di benua Asia seperti Campa.

Meskipun meliputi wilayah geografis yang luas, bahasa Malayo-Polynesia seragam dalam struktur dengan western Malayo-Polynesia (WMP) dan eastern Malayo-Polynesia (EMP). Bagaimana dengan posisi central Malayo-Polynesia (CMP)? Anda bisa baca di sini. Bahasa WMP dituturkan oleh lebih dari 200 juta orang dari Madagaskar, Malaysia, Indonesia, Filipina, Vietnam, Kamboja dan Thailand. Cabang timur terdiri dari Melanesia, Mikronesia, dan kelompok bahasa Polinesia, yang dituturkan oleh lima juta orang dari pulau-pulau Fiji, Kepulauan Solomon, Vanuatu, Kaledonia Baru, Kepulauan Bismarck dan New Guinea. Sama pentingnya adalah kenyataan bahwa kelompok tersebut berbagi ciri-ciri yang saling terkait dari apa yang kemudian dikenal sebagai tanda dan indikator budaya Melayu. Penyebaran tanda budaya tersebut dipengaruhi oleh keberadaan mereka dengan budaya maritimnya. Oleh karena itu, Malayo-Polynesia adalah istilah yang lebih tepat untuk menggambarkan asal-usul bahasa Melayu, bukan Austronesia, karena Austronesia juga melibatkan rumpun bahasa Formosa. Seperti yang pernah saya tulis tentang fondasi rumpun Austronesia.

Tidak sesederhana buku sejarah yang pernah kita pelajari sebelumnya, sejarah populasi negeri ini masih perlu digali lebih dalam. Perlu pendekatan multi disiplin untuk mengungkapnya, dan kesabaran mengklarifikasi setiap klaim yang pernah ada.

 

Reconstructing population history in East Asia

Wang et al. 2016

The deep population history of East Asia remains poorly understood compared to that of West Eurasia, due to the lack of ancient DNA data as well as limited sampling of present-day populations especially on the Tibetan Plateau and in southern China. We report a fine scale survey of East Asian history based on genome-wide data from ancient samples in the Amur River Basin, as well as 435 newly reported individuals from 53 populations. Present-day groups can be broadly classified into highly differentiated clusters, corresponding to Amur River Basin, Tibetan Plateau, southern natives and Han Chinese. Populations of the Amur River Basin show a high degree of genetic continuity from seven thousand years ago until today, and are closely related to the strain of East Asian related ancestry present in Native Americans. Tibetan Plateau populations are all admixed, deriving about 5%-10% of their ancestry from an anciently divergent population that plausibly corresponds to the Paleolithic  population on the Plateau, and the remaining part from an ancient population that no longer exists in unmixed form but that likely corresponds to expanding farmers from the Middle and Upper Yellow River Basin who also contributed 40-90% of the ancestry of Han Chinese. A total of 10-60% of Han Chinese ancestry derives from southern Native populations, and we show that the type of southern Native ancestry that contributed to Taiwan Island Austronesian speakers is most closely related to present-day speakers of Tai-Kadai languages in southern mainland China.

Iklan

3 responses to “Relasi Penutur Tai-Kadai dan Austronesia

  1. Ping-balik: Keturunan Asia pada Populasi Wallacea | The Forgotten Motherland·

  2. Ping-balik: Sejarah Populasi Indonesia Gelombang Ketiga | The Forgotten Motherland·

  3. Ping-balik: KETURUNAN ASIA PADA POPULASI WALLACEA | SamuelHenk·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s