Bajau, Suku Tanpa Kampung Halaman


labuan-bajo-flores-indonesia

Hari ini saya membaca sebuah artikel tentang terpilihnya Labuan Bajo sebagai destinasi wisata favorit dalam skala internasional mengalahkan beberapa kandidat berdasarkan hasil japat yang dilakukan Kementrian Pariwisata. Meskipun demikian, japat yang dilakukan CNN, juga menempatkan Labuan Bajo sebagai wisata snorkling terbaik kedua setelah Raja Ampat di Papua Barat. Keistimewaan ini perlu mendapat perhatian lebih karena sebagaimana kita ketahui Labuan Bajo terkait erat dengan hunian awal suku Bajau, suku yang tidak mempunyai kampung halaman, sehingga prestasi Labuan Bajo yang cukup mengesankan tersebut, mengingatkan kembali sebaran suku Bajau lain di masa lalu, namun tidak begitu populer sebagai destinasi wisata.

Hunian-hunian kecil suku Bajau tersebar di Indonesia Timur, khususnya Nusa Tenggara seperti Labuan Bajo di ujung barat pulau Flores; Balaurin, Kalikur dan Wairiang di Lembata; Salamu di pesisir Kupang; Oe Nggae di pantai timur laut Rote; dan di sebuah pulau kecil Ndao di bagian barat pulau Rote. Bukti linguistik dan budaya menunjukkan afinitas yang cukup dekat antara populasi tersebut dengan kelompok penutur Samalan (dari Sama-Bajau) di wilayah Indonesia lainnya, begitu pula dengan populasi di Filipina selatan dan Malaysia timur (Sabah). Jika Anda membaca postingan terdahulu, Anda akan mendapat kekerabatan populasi Bajau dengan populasi proto Melayu yang tersebar di berbagai penjuru kepulauan Asia Tenggara.

 

Mari kita lihat catatan sejarah tentang suku Bajau…

Menurut beberapa catatan para peneliti pada masa kongsi dagang Hindia Belanda (VOC) di wilayah Timor, referensi suku Bajau sudah tercatat setidaknya pada tahun 1725 dan 1728. Catatan pertama adalah keberadaan suku Bajau di pulau Alor, kedua di pulau Rote dan Teluk Kupang di Timor. Dalam sebuah surat tertanggal 9 Mei 1725 dari kepala kantor VOC di Kupang ke pada Gubernur Jendral VOC di Batavia:

… the chief ruler of Lamakera (sebuah wilayah di pulau Solor), Manu Dasi, has brought here seven small Bajau Laut or Macassarese fishing vessels with 91 of their people – men, women, and children – who, on the orders of the abovementioned interpreter and ruler of Lamakera, were taken captive at Bernusa (sebenarnya merupakan hunian orang Solor di Pantar) on the island of Alor.

Dan, salah satu kalimat dalam surat lainnya, dari pemuka Lamakera kepada Gubernur Jendral VOC, juga menyebutkan sedikit informasi bahwa suku Bajau yang dimaksud adalah ‘Bajau Laut dari wilayah Papoek’. Suku Bajau di sini adalah orang Makasar namun juga diidentifikasi sebagai orang Papoek (Papuk), yang menurut catatan, Papu adalah julukan turun temurun pada penguasa Sama yang pusat kekuasaannya berada pada bagian dalam Teluk Bone, tepatnya wilayah Luwu. Fakta yang didapat saat itu adalah bahwa suku Bajau tersebut melaut dengan menggunakan perahu kecil, sekelompok keluarga, rata-rata tigabelas orang per perahu. Lokasi dimana mereka ditangkap adalah lokasi yang sering dikunjungi pada abad ke-19, dan menjadi salah satu hunian tetap suku Bajau saat ini. Perlu dicatat, suku Bajau tertangkap di Solor, yang merupakan wilayah dalam penguasaan pelaut Muslim yang menjadi sekutu VOC pada abad ke-17. Para penguasa lokal Solor harus menandatangani kontrak VOC dengan kewajiban melapor dan juga menolak kedatangan kapal-kapal pendatang di wilayah Solor. Mengingat mudahnya suku Bajau tertangkap menandakan mereka tidak begitu siap dengan konfrontasi, meskipun mereka dianggap berbahaya bagi penguasa lokal.

Referensi kedua terdapat dalam sebuah surat tertanggal 14 Mei 1728 dari pegawai VOC di Kupang kepada Gubernur Jendral yang melaporkan bahwa sejak surat terakhirnya, tidak ada lagi kapal atau perahu asing yang datang, kecuali:

… 40 small Bajau Laut boats which appeared here mostly in the domain of Thie (di bagian barat daya pantai Rote), some of whose people came ashore under the pretext that they had come to look for trepang; since the Rotinese rulers did not, however, trust the people, they refused them their shores and made them depart from there, whereupon the boats also appeared on the 8th March in the open sea outside of this fortress, a fact that we could not let pass without respectfully informing you…

Empat puluh perahu Bajau mencari trepang di sekitar pulau paling selatan kepulauan Indonesia pada masa itu sangat menarik untuk digali lebih dalam, dan konsisten dengan informasi tentang suku Bajau.  J. N. Vosmaer (1839), yang pernah mengeksplor Sulawesi, juga mencatat keterlibatan suku Bajau dalam perdagangan trepang pelaut Makasar pada abad ke-19. Referensi ini menguatkan keterlibatan suku Bajau pada pencarian trepang abad ke-18. Industri perdagangan trepang sendiri diperkirakan dimulai dalam rentang waktu 1650 dan 1750. Dalam catatan sejarah, pelayaran ke bagian selatan pulau Rote sekitar 1751, dalam sebuah surat pegawai VOC:

… The natives of Macassar have been long accustomed to fish for the trepang… upon a dry shoal lying to the south of Rottee; but about twenty years before, one of their prows was driven by the northwest monsoon to the coast of New Holland (sebutan untuk Australia pada waktu itu), and finding the trepang to be abundant, they afterwards returned; and have continued to fish there since that time.

Penggalan surat tersebut menambah bukti perdagangan trepang antara pelaut Makasar dengan suku aborigin di bagian utara Australia. Di antara pelaut Makasar tersebut tidak diragukan lagi terdapat juga suku Bajau (bahkan menurut catatan Alfred Russell Wallace, dalam perahu pelaut Makasar juga mempekerjakan orang China sebagai kru kapal, baik kuli angkat atau juru masak). George Windsor Earl, seorang peneliti yang sangat mengagumi kehidupan suku Bajau, juga mencatat kehadiran suku Bajau di bagian utara Australia. Di antara perahu yang sempat singgah di Port Essington pada tahun 1840, Earl mencatat bahwa ada sebuah perahu yang hanya berisi suku Bajau, suku tanpa kampung halaman, hidup sehari-hari di atas perahu, sejumlah kecil dari mereka mendiami pulau-pulau kecil di sebelah selatan Sulawesi. Pada tahun 1835, Earl ikut ekspedisi suku Bajau dalam pencarian trepang, berangkat dari Makasar melalui kepulauan Aru menuju pantai utara Australia. Sekarang kita tahu, rute yang diambil oleh para pelaut pencari trepang adalah dari arah utara (kepulauan Aru). Maka tidak mengherankan jika jejak genetik Makasar/Bajau masih terdeteksi di sekitar teluk Carpentaria, dan juga selat Torres. Tidak berlebihan jika kita berkesimpulan bahwa terjadi perkawinan antara dua populasi yang berbeda, suku aborigin dan suku Bajau/Makasar, bahkan, pernah dalam sebuah wawancara seorang wanita aborigin yang saat ini hidup di Ujung Pandang, memiliki leluhur yang dulunya pencari trepang.

Pelaut Makasar diabadikan dalam lukisan dinding oleh suku Aborigin Australia

Pelaut Makasar diabadikan dalam lukisan dinding oleh suku Aborigin Australia

Catatan sejarah memang mengindikasikan dengan jelas bahwa suku Bajau Laut berlayar sampai Timor dan bahkan sampai bagian utara Australia, pada pertengahan abad ke-18, namun masih tidak ada catatan resmi apakah mereka tinggal menetap di wilayah-wilayah yang dikunjungi tersebut. Bukti genetik mungkin bisa mendeteksi jejak penanda genetik suku Bajau, namun karena kekerabatannya dengan orang Makasar atau Melayu sangat dekat, agak sulit memastikannya, kecuali sharing garis maternal yang antara suku Bajau dan sejumlah kecil suku Weipa di bagian utara Queensland. Maka, cukup beralasan jika menduga bahwa hunian suku Bajau belum ada sampai tahun 1750, karena perahu pelaut Makasar baru sampai di Timor setelah mengantongi ijin singgah dan menangkap trepang tanpa gangguan penguasa lokal. Jika dugaan ini benar, maka hunian Bajau terkait pelaut Makasar baru dibangun pada akhir abad ke-18 atau pada awal abad ke-19.

Pic: Copyright Timothy Allen http://www.humanplanet.com

Bajau Village Pic: Copyright Timothy Allen http://www.humanplanet.com

Wilayah yang mungkin menjadi hunian awal suku Bajau di bagian barat pulau Flores, berada di bawah kekuasaan Sultan Bima atau penguasa Makasar dari waktu ke waktu. Pada awal abad ke-19, hunian kecil orang Bima, Makasar, Bugis, atau Ende tersebar di pesisir Flores. Jan Adam Kruseman mencatat pada tahun 1824 orang Bugis dan Makasar membangun pondasi desa di pesisir Flores sebagai pusat dagang trepang. Kehadiran pusat dagang tersebut juga mendatangkan manfaat bagi suku Bajau. Karena pada tahun 1854, suku Bajau juga membangun dua desa dengan penduduk 200 jiwa di ujung barat pulau Flores. Selain trepang, suku Bajau juga mencari cangkang kura-kura di selat antara Sumbawa dan Flores namun juga di pesisir barat daya Sumba dan sepanjang pantai utara Sumbawa dan Flores. Suku Bajau yang mendiami pulau Flores dibawah yuridiksi Dalu (pemimpin, dari PMP *datu), Dalu Bajau, yang diangkat oleh Sultan Bima (walaupun menurut catatan Dalu tersebut merupakan orang asli Bima). Suku Bajau dari Sumbawa melaut tanpa pengawasan, mereka berdagang dengan orang Gowa yang menikahi wanita Bajau dan kemudian melaut bersama. Sementara itu, di ujung timur Flores, suku Bajau Laut mencari trepang di pesisir Solor, Adonara dan Lembata, namun tidak singgah atau menetap.

Teluk Maumere juga menjadi salah satu hunian suku Bajau. Wichman bersaudara mencatat bahwa desa Geliting dekat Maumere awalnya dihuni orang Bugis, sekitar awal abad ke-19, dan banyak peta dan catatan saat itu merujuk Maumere sebagai ‘Badjo’. Pada awal abad ke-20, hunian suku Bajau yang cukup besar adalah Mokko (Meko) di pesisir timur laut Adonara. Pada tahun 1929, etnografer Ernst Vatter mencatat:

… the Bajau have been here for several generations; formerly, the houses they erected in the water had to give them protection against the warlike Adonarese but for some years now they have been living peacefully with the ‘mountain people’. From here they trade throughout the whole Solor-Alor archipelago andeven further as far as middle Flores.

Mokko (Meko) kemudian dipecah oleh kolonialis dan beberapa suku Bajau dari desa tersebut pindah ke Waijaran dan Lewoleba di Lembata.

Catatan suku Bajau di Sumba tidak begitu banyak. Pada abad ke-17 dan 18, Sultan Bima menguasai Sumba namun VOC tidak pernah mengakui klaim tersebut, sehingga kontak antara VOC dengan Sumba sangat terbatas. Saat itu, Sumba sangat rawan terhadap masuknya pendatang, dalam hal ini para pelaut Bajau, dibandingkan wilayah lain dalam penguasaan VOC. Orang Bima, Makasar, dan Ende secara reguler mengunjungi Sumba, dan pada tahun 1775, salah seorang pegawai VOC melaporkan bahwa sebanyak 30 sampai 40 perahu Makasar singgah di Sumba untuk jual beli budak dan kemudian berlayar ke Selura di pesisir selatan Sumba dan menuju Pulau Pasir di selatan pulau Rote untuk mencari trepang. Meskipun suku Bajau tidak secara khusus disebut, catatan abad ke-19 jelas menyatakan pelaut Bajau di Sumba:

… moreover the Buginese of Ende trade with the natives of Sumba: rubber, birds’ nests, rope, fish-nets, maize, rice, kamuning wood, and slaves. Ten or fifteen paduakans from Lombok, Bali, the Bay of Bone, Macassar and Bima take part in this trade, especially in order to procure slaves who are sent on to Ende, Sapi, Sumbawa, Lombok, Bali, the Bay of Bone and the east coast of Borneo and there find ready buyers. Some thirty or so Bajau Laut or trepang fishermen take part in this trade in slaves, and very few leave the Sumbanese coast without taking same slaves with them.” – Anon, 1855

Sepertinya, sebagian kecil suku Bajau yang mengunjungi Sumba tidak mau menetap di sana. Sebagian besar suku Bajau kembali ke hunian mereka di Sumbawa dan Flores.

Di antara populasi lokal dekat Timor, penghuni pulau kecil Ndao, mengingat keberadaan suku Bajau melalui cerita turun temurun. Salah satu legenda pahlawan Ndao, Pa Gage, bercerita bahwa asal-usul hunian kecil suku Bajau adalah hasil dari tipu muslihat dalam negosiasi perkawinan antara pemimpin Ndao dan pendatang Bajau, dilanjutkan adu fisik yang berujung ‘penangkapan’ sejumlah suku Bajau:

… those who were caught by the men of Ndao were forced to stay on Ndao and marry with Ndaonese so that they have descendants on Ndao to this day.

Legenda lain berkisah tentang serangan balasan dari suku Bajau terhadap penduduk Ndao, namun mereka lebih mirip orang Makasar atau Bugis dibandingkan suku Bajau. Serangan tersebut terjadi pada tahun 1758, dengan kedatangan 24 perahu Makasar. Jika legenda ini benar, maka hunian Bajau di Ndao termasuk dalam periode awal sebaran suku Bajau. Dan masih banyak hal yang perlu dikonfirmasi mengingat sangat sedikit catatan sejarah abad ke-19 antara penduduk Ndao dan Rote. Namun pada awal abad ke-20 Nieuwenkamp mencatat bahwa suku Bajau menetap di Cape Tongga di sepanjang selat Ndao, dan bersama orang Bugis dan Makasar di Oe Laba di pesisir barat laut pulau Rote.

Saat ini, hunian besar suku Bajau di pulau Rote berada di Oe Nggae, pesisir timur laut. Suku Bajau di sana merupakan penutur dialek Sama; hidup dari hasil tangkapan ikan dan berdagang sisa tangkapan untuk ditukar dengan kebutuhan sehari-hari; mereka berhubungan dekat dengan suku Bajau lain di pulau sekitar; sebagian besar mereka Muslim, dan memilih imam Makasar sebagai pembimbing mereka; serta memakai nisan kayu khas seperti yang ditemukan di Sabah. Meskipun mereka menyatakan diri sebagai orang Makasar, sebagian besar suku Bajau tersebut berasal dari Oe Nggae sebelah barat pulau Rote dan banyak yang ingin pindah ke Sulamu di Timor, yang saat ini menjadi hunian penting suku Bajau. Karena itu, masih sulit menemukan hunian tetap suku Bajau, karena kebiasaan mereka yang berpindah-pindah.

Suku Bajau Laut banyak diasosiasikan dengan orang Makasar. Mereka melaut sejak awal abad ke-18, namun hunian tetap baru terdengar pada awal abad ke-19. Flores menjadi tujuan pertama, dengan hunian awal berada di ujung barat pulau Flores, yang saat ini dikenal dengan sebutan Labuan Bajo (tempat berlabuh suku Bajau Laut). Hunian lainnya tidak stabil, sering berpindah, dan berakibat terjadi pergeseran populasi di hunian-hunian tersebut. Namun, semua hunian tersebut masih sering dikunjungi oleh keturunan suku Bajau. Di Flores, suku Bajau sering mengunjungi Djampea, Kalatua dan Wetter; sedangkan di Sumbawa suku Bajau sering mengunjungi Bua, Borong dan Allas.

Mari kita lihat genetika populasi Bajau…

Kekerabatan populasi Sama-Bajau harus dipahami sebagai sebuah populasi yang memiliki leluhur yang sama. Mereka adalah populasi asli wilayah segitiga Borneo, Sulu dan Sulawesi. Jika Anda mengikuti sebaran garis keturunan maternal mtDNA E, maka Anda akan mendapati sebaran populasi Sama-Bajau sangat luas, mulai dari Taiwan sampai Pasifik (Fiji) dan Madagascar (Vezo, Bajau Laut). Sebaran populasi tersebut juga sampai di kepulauan Mariana (populasi awal Mariana dan sekitarnya, Pala’u adalah sebutan untuk orang Bajau Laut), serta kandidat kuat populasi awal Lapita di kepulauan Bismarck. Berdasarkan rekonstruksi linguistik, populasi ini memiliki budaya cocok tanam, pembuat tembikar, menenun kain, bahkan pandai besi (bukti peleburan besi dipelajari ketika mereka berdagang dengan Luwu). Jadi sangat mungkin penghidupan mereka adalah bertani, melaut dan berdagang. Hanya sebagian kecil dari mereka adalah nomadic seafarers, yang kemudian dikenal dengan Orang Laut Bajau. Suku Bajau Laut banyak ditemukan di perairan selat Makassar, Teluk Bone, daerah Nusa Tenggara Timur, Kepulauan Banggai, Teluk Tomini, Maluku Utara dan peraian Laut Sulawesi.

Garis paternal dari Eurasia Barat terdeteksi pada populasi Bajau

Garis paternal dari Eurasia Barat terdeteksi pada populasi Bajau

Garis Paternal (baca tulisan terdahulu)

Yang menarik dari garis paternal suku Bajau adalah T-M272 (T1a-M70), L-M76 (L1a-M76), dan R-M207. Agak sulit memastikan dari mana asal garis paternal tersebut secara spefisik. Mengingat hubungan dagang suku Bajau dengan populasi di sekitarnya, namun hanya sejauh Borneo, ketiga garis paternal tersebut masih ambigu. Garis paternal T1a-M70 kemungkinan besar adalah keturunan orang Portugis atau Spanyol yang saat itu sudah berada di wilayah Maluku dan Timor, namun bisa juga keturunan pedagang Yaman.

Garis paternal L1a-M76 sering dijumpai di wilayah Gujarat dan Persia, namun bisa juga Afganistan, Pakistan dan Tajikistan. Sedangkan garis paternal R-M207 kemungkinan besar adalah bangsa Eropa (Belanda).

Mayoritas garis paternal suku Bajau masih didominasi garis paternal Wallacea (C-M38 dan K-M526*) dua garis paternal yang merupakan penduduk asli Wallacea, yang juga mendiami pesisir Papua Barat.

NRY suku Bajau

NRY suku Bajau

Garis Maternal

Garis maternal suku Bajau banyak bersinggungan dengan garis maternal daratan Asia Tenggara (B4c1, M7c1a4, B4a4), namun garis maternal Wallacea (Q1, M73, E1a, R22, B4a, B4a1a1) masih terdeteksi. Yang menarik di sini adalah mtDNA X, yang sangat mungkin dibawa oleh pendatang dari Asia Tengah. Untuk garis maternal yang bersinggungan dengan suku aborigin atau Torres Islanders adalah E1a dan Q1, baca di sini.

Garis maternal M7b1 merupakan garis maternal yang sudah ada di Indonesia barat sebelum ekspansi Neolitik. Bersama dengan E1a, B5a, F1a3, dan F1a*, mereka sangat mungkin bagian dari kekerabatan populasi Sama-Bajau.

mtDNA suku Bajau

mtDNA suku Bajau

Data genetika populasi seharusnya bisa membantu menguak misteri suku Bajau, namun karena keterbatasan, kita masih tidak bisa memastikan populasi induk dari suku Bajau. Namun kita bisa mendekatinya dengan data yang ada, bahwa garis paternal masih didominasi penduduk asli Wallacea, dan garis maternal sedikit mendapat desakan dari Indonesia barat (kemungkinan garis maternal Melayu/Makasar) dalam kurun waktu 300 tahun terakhir.

 

Update: Juni 2017

Dalam paper yang menganalisis suku Bajau dari Sulawesi Tenggara dan Borneo bagian selatan dan timur laut (Derawan), Kusuma et al. (2017) melanjutkan upaya mengungkap sejarah populasi Bajau dan komposisinya. Dalam analisis, populasi Bajau awalnya merupakan populasi campuran dari populasi keturunan Papua/Indonesia timur, populasi Melayu, Sulawesi Selatan, dan Filipina Selatan. Semua kelompok etnis Bajau memiliki latar belakang genetik yang sama. Setelah mengalami sejarah persebaran genetik yang sangat kompleks, penelitian ini menyimpulkan berdasarkan data genomik yang menunjukkan asal populasi tunggal untuk Bajau, dulunya mendiami di Sulawesi Selatan.

Pendekatan menggunakan data genomik tidak sepenuhnya mendekati kenyataan, dan hanya memperlihatkan gambaran secara umum. Tentu detail dari gambaran tersebut perlu dianalisis dari sebaran uniparental markers populasi Bajau. Kenapa demikian, jika leluhur populasi Bajau hanya hidup dalam dua ribu tahun terakhir, maka peta admixture berdasarkan data populasi saat ini hanya mampu memperlihatkan peristiwa admixture dalam rentang waktu dua ribu tahun saja.

Berdasarkan peta admixture di atas. untuk mendapatkan komponen utama populasi Bajau, maka perlu melihat komponen utama populasi Dayak Ma’anyan dan Igorot (Filipina utara, yang seringkali hanya diwakili beberapa individu Kankanaey, Ifugao dan Ibaloi). Komponen utara Igorot akan dengan mudah dikaitkan dengan komponen utara populasi Ami dan Atayal berdasarkan garis maternal B4a1, meskipun menghasilkan garis keturunan maternal yang berbeda. Populasi Kankanaey didominasi garis maternal mtDNA B4a1a6 dan sedikit M7b1a2a1. Keterkaitan tersebut juga dipakai untuk menjembatani relasi antara ancient Tonga dan Vanuatu (mtDNA B4a1a1a) meskipun tak satupun pra-PM maupun PM terdeteksi di Kankanaey. Sample populasi Ami diambil dari Trejaut et al. (2014) yang tadinya B4a1a ternyata B4a1a2, yaitu B4a1a dengan tambahan mutasi T4733C  G6366A  T12519C.  Sample Ami yang lain, yang tadinya B4a1a ternyata B4a1a3 (mutasi tambahan A14449G) dan B4a1a7 (mutasi tambahan C6492T  A13350G). Bahkan ada yang B4a1a3a1a. Sedangkan sample Atayal B4a1a ternyata B4a1a2. Untuk sample B4a1a Yami ternyata B4a1a4. Jika di Taiwan tidak ditemukan pra-Polynesian motif, apalagi Polynesian motif, bagaimana mungkin menjadi sumber populasi Lapita (FRO)? Satu-satunya pra-PM yang ditemukan di Filipina adalah dari Maranao. Bahkan, pra-PM (B4a1a) yang terdeteksi di Ivatan,  setelah dilakukan genotyping oleh Delfin et al. (2014), ternyata B4a1a3, B4a1a4 dan B4a1a5. Bagaimana dengan Bajau? Uniparental markers Bajau lebih meyakinkan sebagai bagian dari populasi Pasifik, karena terdeteksi PM pada populasi Bajau Sabah dan Sulawesi Tenggara. Jika hanya melihat peta admixture kita juga akan berasumsi bahwa populasi Igorot merupakan populasi asal (population sources) dari salah satu komponen populasi Bajau. Tapi saya lebih melihat bahwa populasi Igorot merupakan perjalanan akhir dari komponen tersebut (population sinks). Hal ini berlaku juga untuk komponen utama populasi Ma’anyan. Untuk membuktikan ini, cara paling akurat adalah menghitung keragaman haplotype dari varian mtDNA B4a1a dari populasi tersebut di atas. Baca selengkapnya di Populasi Lapita bukan keturunan populasi Papua?

 

Update: September 2017

Philippe Grangé mencoba mengusulkan kronologi diaspora suku Bajau berdasarkan bukti linguistik:

  • Akhir abad ke-3: kelompok-kelompok etnis yang berkerabat dekat tinggal di wilayah Barito Selatan. Sedikitnya salah satu dari kelompok tersebut, suku Sama-Bajau, memiliki hubungan perdagangan dan/atau budaya dengan Sulawesi Selatan, yang berakhir pada perkawinan antar negara (peristiwa awal admixture Bugis).
  • Suku Sama-Bajau adalah penghuni awal delta sungai Barito, namun kemudian beralih ke mengarungi lautan. Tampaknya teknologi pembuatan kapal laut dan navigasi dipelajari dari orang Melayu.
  • Sekitar tahun 1100 Masehi, suku Sama-Bajau meninggalkan kampung halaman mereka (delta sungai Barito), Kalimantan Selatan, karena tekanan kekuatan asing. Rupanya, tidak ada lagi yang tinggal di wilayah ini, atau mereka yang tertinggal kemudian tergabung dengan kelompok etnis lain.
  • Sebagian dari mereka kemudian menetap di kepulauan Sulu. Kelompok lain (yaitu suku Bajau) mencari perlindungan lebih dekat dengan Kalimantan Selatan, yaitu di sekitar Selat Makassar, dan di Sulawesi Selatan. Dalam kedua kelompok tersebut, berkembang tradisi pengembaraan lautan, namun bukan menjadi satu-satunya cara hidup mereka.
  • Sekitar tahun 1300 Masehi, suku Sama-Bajau di kepulauan Sulu ditundukkan oleh suku Tausug dari Mindanao. Bahasa suku Sama-Bajau di kepulauan Sulu kemudian berkembang dan banyak meminjam kata-kata dari bahasa Tausug (dan sebaliknya).
  • Sekitar tahun 1500 Masehi, mereka yang tinggal di sekitar Selat Makassar mulai mengembangkan perdagangan laut jarak jauh sampai ke Malaka, Maluku, dan mungkin sampai China Selatan. Banyak dari mereka mengkhususkan diri dalam mengumpulkan komoditas laut untuk pelanggan mereka, orang Bugis.
  • Sekitar tahun 1600 Masehi, suku Bajau mulai menetap di dusun-dusun kecil di sekitar Sulawesi seperti teluk Boné, Muna, Buton, Kendari, Banggai, teluk Tomini, dan Kepulauan Sunda Kecil serta Maluku. Beberapa Sama-Bajau dari kepulauan Sulu mulai menetap di wilayah Sabah di bagian utara Borneo, dan di pesisir utara Sulawesi.
  • Sekitar tahun 1700 Masehi, setelah jatuhnya kerajaan Goa-Makassar ke tangan VOC Belanda (1666), suku Bajau di Sulawesi Selatan beralih ke perlindungan otoritas Boné-Bugis. Mereka kemudian masuk Islam. Selama masa penjajahan, perdagangan laut jarak jauh Bajau dan Bugis mulai menyusut. Akhirnya, orang Bajau hanya bisa menjadi nelayan dan berdagang komoditi laut lokal.
  • Antara tahun 1750-1900, suku Bajau, seperti penghuni pesisir lainnya, banyak menjadi korban para bajak laut, di laut maupun di pesisir pantai. Sebagian lainnya (terutama di pulau Balangingi, kepulauan Sulu) terlibat menjadi bajak laut yang menjual tawanan sebagai budak.

Temuan penting Grangé adalah bahwa, dari kampung halaman mereka di Barito Selatan, orang-orang buangan Sama-Bajau tidak menemukan tempat berlindung yang luasnya 1500 km ke utara di kepulauan Sulu dan Mindanao Barat (Filipina Selatan), yang kemudian tinggal di sana berabad-abad sebelum beberapa dari mereka kemudian berlayar kembali ke selatan ke sekitar Selat Makassar dan Sulawesi Selatan. Dalam pandangan Grangé, tak lama setelah penggusuran mereka dari kampung halaman mereka, orang Bajau terpisah menjadi dua kelompok; satu menetap di kepulauan Sulu dan Mindanao Barat, yang lain menetap di pesisir Selat Makassar, terutama di pantai Sulawesi Selatan. Dua kelompok ini pernah memiliki kekerabatan dan kemudian kehilangan kontak. Bahasa mereka (sekitar 8 bahasa Sama-Bajau dari kepulauan Sulu di satu sisi, dan Bajau Laut Flores di sisi lain) tidak dapat dimengerti satu sama lain, walaupun mereka jelas termasuk dalam keluarga bahasa Sama-Bajau yang sama.

Meskipun estimasi peristiwa admixture berdasarkan genetik secara umum sesuai dengan tahapan yang diajukan oleh ahli bahasa, namun masih ada perbedaan: genetika menunjukkan bahwa suku Sama-Bajau berasal dari Sulawesi Selatan (secara umum berada di wilayah Bugis saat ini). Ahli bahasa percaya bahwa kampung halaman suku Sama-Bajau yang terlupakan tersebut berada di bagian selatan Borneo, kemungkinan besar berada di sepanjang delta sungai Barito. Siapa yang benar di antara keduanya? Penelitian lanjutan perlu sekali dilakukan.

 

Update: Januari 2018

Dalam investigasi genetika populasi Polynesia barat (Society Islands), Hudjashov et al. (2018)  menemukan bahwa sekitar 83% keturunan populasi Society Islands berasal dari populasi Melayu, Sama-Bajau dari Sulawesi dan populasi non-Kankanaey di Filipina Selatan. Peristiwa admixture terdeteksi setidaknya sejak 400 Masehi, dengan beberapa garis paternal populasi Polynesia barat sharing haplotype dengan populasi Sama-Bajau (seperti Y-chromosome haplogroup C2a1-P33, S2, dan O3-B450). Dan berdasarkan uniparental markers, setidaknya populasi Polynesia barat dan Sama-Bajau memiliki leluhur yang sama sekitar 5700 tahun yang lalu (berdasarkan garis paternal O3-B450 dan garis maternal B4a1a1). Relasi populasi Sama-Bajau dan Polynesia bisa dilihat juga dalam admixture plot, bahwa populasi awal Sama-Bajau adalah populasi pra-sejarah Sundaland, termasuk di dalamnya populasi proto-Melayu, yang mengalami divergensi menjadi populasi Melayu, Wallacea, dan sebagian Filipina selatan.

Dalam Ilardo et al. (2018) komponen leluhur Bajau terlihat berbeda jika dibandingkan dengan Hudjashov et al. (2018) karena sample yang berbeda. Dalam admixture plot, sangat penting untuk melihat data sample yang digunakan, karena filtering yang digunakan kemungkinan bukan SNP yang sama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s