Kontinuitas Populasi Hoabinhian dan Austronesia


hoabinhian-migration

 

Dalam tulisan Konsensus Ekspansi Austronesia, saya menulis panjang lebar tentang sebaran awal penutur Austronesia. Salah satu skenario yang jarang dibahas adalah migrasi penanda genetik paternal dari populasi budaya Hoabinhian, wilayah di sekitar Teluk Tonkin di Vietnam utara/China Selatan, yang menuju ke Semenanjung Melayu dan pada akhirnya sampai di Mentawai dan Nias. Komponen tersebut terbaca dalam analisis genetik sebagai komponen Austronesia. Sedangkan data genetik lain dari Alexander Mörseburg menyatakan bahwa di dalam komponen Austroasiatik bisa jadi terbentuk dari beberapa subgroup populasi, dan salah satunya menjadi leluhur populasi Proto-Malayo-Polynesia, dengan kata lain, populasi Austroasiatik yang migrasi ke arah selatan kemudian menjadi populasi proto Melayu, yang ke India tetap sebagai populasi Austroasiatik, seperti Munda atau Birhor, dan yang tetap menetap di daratan Asia Tenggara menjadi penutur bahasa Austroasiatik, seperti Vietnam, Laos, Kamboja, Thailand, dan lainnya. Kita harus menguji apakah komponen Austroasiatik di Indonesia sebenarnya adalah proto-Melayu, karena hal tersebut yang terbaca dalam analisis struktur genetik yang dilakukan oleh Deng et al. (2015). Data genetik memang hanya bisa mengungkap kaitan berdasarkan haplotype yang ada, namun bukti arkeologi untuk mendukung skenario tersebut masih sangat jarang diungkap. Untuk itu, saya akan mencoba membahas skenario tersebut berdasarkan temuan arkeologi di Aceh dan Sumatra Utara sekaligus mendukung pendapat Tumonggor (2013) bahwa terjadi aliran genetik antara populasi Austroasiatik dan Austronesia tercermin dalam perkembangan tradisi lokal.

Aktifitas manusia periode awal Holocene di Sumatra bagian utara ditandai oleh temuan tumpukan sisa-sisa prasejarah yang menandakan adanya hunian kuno, terutama yang mengandung tulang, kerang dan alat-alat batu, serta ditemukannya situs budaya Hoabinhian yang diduga pernah dihuni populasi Australomelanesia. Situs-situs Hoabinhian banyak ditemukan di pesisir timur pantai Sumatra Utara dan Aceh, dan beberapa diantaranya ditemukan di dataran tinggi/pegunungan. Sedangkan budaya Neolitik yang terkait dengan budaya Austronesia hanya ditemukan di dataran tinggi, sementara budaya yang datang kemudian, seperti budaya megalitik, masih dilestarikan sampai sekarang dan menjadi tradisi kehidupan sehari-hari masyarakat sekitarnya.

Jika berbicara tentang populasi Indonesia bagian barat, maka ada dua aspek penting yang menjadi dasar terkait keragaman yang ada. Perkawinan campur antar dua populasi yang berbeda seiring dengan percampuran dua budaya, dan percampuran budaya dari populasi yang sama, yang hanya dipisahkan oleh geografi. Dua populasi yang berbeda bisa dimaknai dua populasi dengan penanda genetik yang kekerabatannya jauh. Seperti populasi prasejarah Sundaland dengan populasi pendatang Neolitik, keduanya jelas memiliki penanda genetik yang sangat berbeda. Atau, populasi LGM dengan populasi Neolitik, meskipun berkerabat dekat secara genetik, masih bisa dibedakan. Atau, keturunan populasi Neolitik dengan pendatang dari Eurasia Barat seperti Persia, Yaman, Arab atau Gujarat. Sehingga, keberadaan kelompok etnis di Indonesia bagian barat merupakan campuran dari beberapa kelompok populasi dengan budaya masing-masing dalam proses yang memakan waktu cukup lama.

Mengingat keberadaan manusia prasejarah di Jawa, Borneo, Sulawesi, Nusa Tenggara Maluku dan Papua banyak terdokumentasi dalam temuan arkeologi, Sumatra masih sangat jarang. Sehingga temuan artefak kecil pun akan sangat bermanfaat untuk memahami keragaman populasi di Sumatra. Temuan fosil manusia dengan karakter Australomelanesia dan materi budaya Hoabinhian di pesisir timur pantai Sumatra dan juga dataran tinggi hanya mencakup periode awal Holocene, atau akhir Pleistocene jika kita bisa memastikan tinggalan di gua Togi Ndrawa di Nias. Budaya Hoabinhian yang berkembang pada periode awal Holocene dipercaya menjadi fondasi budaya-budaya periode berikutnya. Keberadaan situs budaya Hoabinhian di pesisir pantai berupa tumpukan sampah prasejarah, dan juga yang ada di dataran tinggi di gua-gua atau dibawah tebing-tebing bebatuan bisa ditemukan di Bukit Kerang Pangkalan, Aceh Tamiang dan Loyang Mendale di Takengon.

 

Periode Awal Holocene di Indonesia Barat

Aktifitas manusia periode awal Holocene di pantai utara Sumatra diteliti oleh Ketut Wiradnyana (2016), terkarakterisasi oleh kehadiran budaya Hoabinhian yang mudah sekali dibedakan dengan yang lain, seperti alat-alat batu mono-facial dan bifacial pebble tools. Sebagian besar sisi-sisinya sangat tajam dengan serpihan yang sangat bervariasi. Di situs-situs Hoabinhian, alat-alat batu beserta serpihannya sering ditemukan di tempat yang sama, bersama dengan mortir dan alu dalam berbagai ukuran, kape terbuat dari tulang serta mata tombak, dan juga kerangka manusia terkubur dalam posisi bertekuk serta ditaburi bijih besi (hematit).

Budaya Hoabinhian tersebar di Asia Tenggara, China selatan dan tenggara, serta Taiwan. Situs-situs tersebut berumur antara 18-3 kya berdasarkan hitungan karbon. Situs Hoabinhian tertua sendiri ditemukan di Xiaodong, Yunnan, wilayah di sebelah utara Burma, Laos, dan Vietnam, berumur 43 kya. Situs-situs di Asia Tenggara termasuk Vietnam, Laos, Kamboja, Thailand, Malaysia dan Indonesia. Konsensus saat ini menyatakan bahwa budaya Hoabinhian berasal dari China selatan (Yunnan) dan berkembang sejak periode Pleistocene sampai menjelang periode Neolitik sekitar 5000 tahun yang lalu. Di Indonesia sendiri, sebaran budaya Hoabinhian diindikasikan melalui Semenanjung Melayu dan termasuk wilayah Thailand. Bukti yang mendukung adalah temuan spesimen di Gua Ongbah, Thailand, berumur 8810 ± 170 tahun yang lalu, masih dalam rentang waktu situs Hoabinhian di Indonesia.

Bukti arkeologi terkait transisi dari pemburu-peramu ke cocok tanam padi dan jawawut terjadi di sekitar Sungai Yang-tze dan Sungai Kuning. Bahkan padi telah menjadi sumber penghidupan kelompok pemburu-peramu setidaknya 7.5 kya. Satu milenia kemudian, di situs Tianluoshan (6900-6600 tyl)  ditemukan padi menjadi tanaman pangan penting mengalahkan tanaman lainnya seperti buah pohon ek dan buah berangan. Hanya di budaya Liangzhu (5200-4300 tyl) padi menjadi sumber penghidupan dominan karena pertumbuhan populasi yang sepertinya tidak teratasi dengan sumber penghidupan hanya berburu. Fuller et al. (2010) adalah yang mengikuti secara cermat jejak pergerakan para petani tersebut, dan menemukan pergerakan mereka dari utara ke selatan (ke arah Asia Tenggara) setidaknya 5000-4000 tyl. Pada periode tersebut tradisi yang ditemukan seperti keramik bermotif, cara penguburan yang berbeda dari budaya Hoabinhian, penggunaan pasak beralur, dan keberadaan padi dan babi serta anjing piaraan. Perbedaan mendasar dengan populasi Hoabinhian adalah anjing piaraan.

hoabinhian-sites

Di Asia Tenggara sendiri, mudah untuk membedakan situs pemburu dan petani pendatang. Contoh paling mewakili adalah situs Ban Non Wat di bagian utara Thailand. Temuan tembikar dengan motif yang sama ditemukan di Thailand bagian tengah, Kamboja, Vietnam, sampai China Selatan, setidaknya berumur 8000 tahun. Pada situs Ban Non Wat terdapat kuburan yang sangat berbeda dengan kuburan petani Neolitik. Karena kedua kuburan dalam situs yang sama tersebut, maka interpretasi yang muncul adalah bahwa petani pendatang Neolitik berinteraksi atau berbaur dengan para pemburu lokal Ban Non Wat, tinggal memastikan apakah kedua rangka manusia beda budaya tersebut memiliki fitur fisik yang sama.

Penelitian tentang fitur fisik di kedua budaya dilakukan di situs Man Bac, dengan hasil menyimpulkan bahwa populasi Man Bac mirip dengan populasi modern Lao, dan populasi prasejarah Weidun di lembah Yang-zte, dan Songze. Ini membuktikan adanya intrusi dari leluhur populasi China selatan ke populasi modern Vietnam. Populasi Man Bac juga berbeda secara signifikan dengan populasi pemburu dari situs Con Co Ngua dan Bac Son, pribumi Andaman dan aborigin Australia. Situs tersebut juga terkait dengan pergerakan migran petani dari China selatan. mtDNA yang berhasil diekstrak oleh Shinoda (2010) menunjukkan bahwa di situs Man Bac terdeteksi beberapa garis maternal yang berasal dari wilayah sebelah utara (utamanya mtDNA F1a1a, dan mungkin R9b dan N9a6), dan telah terjadi perkawinan dengan pemburu lokal. Lipson et al. 2014 dengan menggunakan data genetik mengungkap populasi H’tin merupakan leluhur (penyumbang komponen Austroasiatik) populasi Indonesia bagian barat.

Populasi penyebar budaya Hoabinhian pada umumnya pemburu dan peramu di pesisir dan pedalaman, serta tinggalan budaya Hoabinhian cenderung ditemukan di situs dimana budaya tembikar belum berkembang. Bukti intrusi petani dari utara terbukti dengan temuan perkakas keramik di Jenderam Hilir, Malaysia, yang mirip sekali dengan yang ditemuan di hunian Neolitik di Thailand tengah (Ban Kao). Hal ini menunjukkan bahwa petani pendatang bertemu dengan pemburu Hoabinhian di Jenderam Hilir.

 

Situs Hoabinhian di Indonesia

Situs Bukit Kerang Pangkalan (BKP) merupakan salah satu situs Hoabinhian di pesisir Aceh, 20 km dari garis pantai saat ini, dan sekitar 1,5 km dari Sungai Tamiang. Setidaknya terdapat tiga lapisan budaya di situs BKP, dengan lapisan paling bawah berumur 12550 ± 290 tahun, dengan sisa-sisa pembakaran, kapak genggam, yang teknologi serta morfologinya mirip dengan alat-alat periode Paleolitik. Lapisan ini diduga peralihan dari akhir Paleolitik dan awal Mesolitik. Lapisan tengah merupakan karakter budaya Hoabinhian, dari periode awal Holocene berumur 5100 ± 130 sampai 4460 ± 140 tahun, ditemukan berbagai alat batu khas Hoabinhian dan juga kuburan manusia dalam posisi kaki tertekuk/terlipat. Sedangkan lapisan paling atas berada pada periode Neolitik, dengan tembikar dan fragmen-fragmen lainnya berumur 3870 ± 140 tahun, serta kapak pendek dengan bagian tepi yang tajam telah dipoles. Situs Hoabinhian lain di dataran rendah Sumatra Utara dan Aceh mengindikasikan keberadaan fragmen tembikar di bagian atas, namun tidak ditemukan di bagian tengah ke bawah.

Situs Hoabinhian di dataran tinggi juga ditemukan di Gua Kampret, Langkat, Sumatra Utara. Fragmen tembikar ditemukan di rongga-rongga dinding, dan pada bagian lebih dalam ditemukan pebble tools dengan morfologi memiliki karakter periode awal Holocene dan Hoabinhian. Keberadaan tembikar di permukaan situs juga mengindikasikan kondisi yang sama dengan situs Hoabinhian di pesisir pantai.

Situs Loyang Mendale merupakan situs prasejarah di dataran tinggi dengan karakter Hoabinhian dan Austronesia. Situs ini terletak di bantaran Danau Laut Tawar di Aceh Tengah. Situs tebing batuan ini sangat kuat mengindikasikan fase awal Holocene sampai Neolitik. Lapisan bawah ditemukan sumatraliths, stone flakes, dan sisa-sisa kerang moluska. Umur lapisan periode awal Holocene sekitar 8430 ± 80 sampai 5040 ± 130 tahun. Morfologi alat batu Loyang Mendale mirip dengan yang ditemukan di situs-situs Hoabinhian pesisir pantai. Alat-alat batu dari situs Hoabinhian di Indonesia dan Asia Tenggara sering diklasifikasikan ke dalam kelompok teknologi awal Holocene.

Situs Neolitik Loyang Mendale

Foto Media Online Dataran Tinggi GAYO

Foto: Media Online Dataran Tinggi GAYO

Karakter budaya Austronesia yang dimaksud di sini adalah artefak berkarakteristik budaya Austronesia (Neolitik). Austronesia biasanya terkait dengan bahasa, namun bisa mencakup penutur dan budayanya. Materi budaya Austronesia yang sering digunakan sebagai acuan adalah alat batu yang telah dipoles (quadrangular adzes dan elongated/ovoid axes), budaya cocok tanam, domestikasi hewan khususnya anjing dan babi, rumah panggung (ada jarak dengan tanah), dan tembikar.

Situs Austronesia di Sumatra adalah Loyang Mendale, Loyang Ujung Karang, dan Putri Pukes. Pada tiga situs tersebut memiliki indikasi kuat berkembangnya budaya Austronesia, bukan hanya artefaknya, namun temuan kerangka manusia dengan kuburan khas Austronesia (flexed burials; beberapa peneliti menganggap flexed burials merupakan tradisi manusia Mesolithic pasca LGM ~11-7 kya, identik dengan phenotype Australomelanesoid).

flexed-burials

Di situs Loyang Mendale, lapisan di atas Hoabinhian, ditemukan alat batu yang dipoles dalam bentuk rectangular adzes dan elongated/ovoid axes. Ditemukan juga kerangka manusia, pecahan tembikar dan gigi anjing berlubang. Umur lapisan Neolitik tertua di Loyang Mendale dalam rentang 4980 ± 130 sampai 3580 ± 100 tahun, lebih tua dari budaya Austronesia di Filipina. Anda akan berpikir ulang tentang pendapat bahwa budaya Austronesia dibawa oleh penutur Austronesia dari Taiwan menuju Filipina, Borneo dan berakhir di pesisir timur pantai Sumatra.

Dari sini kita tahu, terdapat dua lapisan budaya di situs Loyang Mendale, yaitu lapisan budaya Hoabinhian dan Austronesia. Sedangkan di situs Ujung Karang diperoleh umur sisa-sisa pembakaran 5080 ± 120 tahun, dan umur kerang 4940 ± 120 tahun. Untuk umur budaya Austronesia tertua atau akhir dari budaya Hoabinhian dalam konteks umur tulang dari kuburan Hoabinhian 4400 tahun (yang dikalibrasi menjadi 3285-2937 BC). Situs ini juga menunjukkan bahwa dalam periode yang sama ketika populasi dari budaya Hoabinhian beraktifitas di Loyang Mendale, kelompok populasi budaya Austronesia juga melakukan aktifitas di Loyang Ujung Karang.

Situs Megalitik di kepulauan Nias dan Samosir

Budaya Megalitik di pulau Samosir, Sumatra Utara, adalah salah satu bukti migrasi prasejarah penutur Austronesia yang membawa budaya yang mencirikan populasi tersebut. Di pulau Samosir, kuburan batu seperti sarkofagus juga dipraktekkan oleh populasi Batak Toba. Tradisi menggunakan batu besar sebagai kontener kuburan, berdasarkan temuan berbagai macam obyek terbuat dari perunggu di banyak situs di Indonesia sering diasosiasikan dengan karakter budaya Dong Son. Di pulau Sumatra ada indikasi bahwa kubur tempayan (jar burians) pernah dipraktikkan secara luas setelah abad pertama Masehi. Kubur tempayan di Lolo Gedang, Kerinci, Jambi, dan situs lain di sekitarnya berumur 700-1100 tahun. Praktik penguburan ini masih dipraktekkan oleh Batak Toba dan kelompok etnis lainnya di sekitarnya.

Foto: Northniastourism.com

Foto: Northniastourism.com

Di pulau Nias, artefak awal Holocene ditemukan di gua Togi Ndrawa berumur 850 sampai 12170 tahun. Ini menunjukkan bahwa masih ada hunian di gua setelah milenium pertama Masehi. Analisis karbon pada situs Megalitik di bagian selatan Nias, tepatnya di Boronadu, mengungkap adanya aktifitas manusia pada 576 tahun yang lalu, sementara di Tundrumbaho aktifitas terjadi sekitar 340 tahun yang lalu, dan di Hili Gowe sekitar 260 tahun yang lalu. Fakta tersebut merupakan bukti bahwa migrasi populasi dengan tradisi Megalitik di Nias masih berlangsung pada abad ke-14. Budaya Megalitik Nias yang dikenal juga dengan sebutan gowe (artinya struktur megalitik), terdiri dari struktur tegak dan/atau bentang horisontal yang dibangun selama upacara owasa (prosesi untuk meningkatkan status). Beberapa gowe merupakan patung batu megalitik antropomorfik sementara yang lain merupakan batu alami.

Percampuran manusia dan budaya di Indonesia bagian barat

Indikasi terjadinya perkawinan antara dua populasi yang berbeda dibuktikan dengan temuan tulang manusia seperti manusia Wajak di Jawa Timur berumur 6500 tahun, yang awalnya diduga Australomelanesia dengan volume otak besar dan wajah lebar, namun 70 tahun kemudian dikoreksi setelah diamati adanya karakter Mongoloid di bagian wajah. Perkawinan campur juga ditemukan di kuburan Neolitik di Gua Niah, Serawak, berumur 14kya, yang dianggap sebagai salah satu bukti evolusi Australoid/Australomelanesia. Bukti populasi campuran lain adalah manusia Liujiang di Guangxi, Mongoloid dengan beberapa karakter Australomelanesia.

Kita tahu, populasi Australomelanesia sudah berada di Sundaland sebelum kedatangan para pendatang Austronesia. Di Indonesia bagian barat, keberadaan populasi Australomelanesia masih terdeteksi 12 kya. Populasi ini ditemukan di situs Hoabinhian, sementara populasi Mongoloid ditemukan di situs budaya Austronesia. Bisa disimpulkan kecenderungan umur manusia Australomelanesia di situs budaya awal Holocene lebih tua dibandingkan umur populasi Mongoloid yang berada di situs periode Neolitik.

Situs Hoabinhian sebagian besar berumur 10 kya seperti di Gua Moh Khiew, bagian pesisir barat Thailand; Gua Runtuh, Perak, Malaysia; sebagaimana situs di pesisir timur pantai Sumatra. Situs Austronesia biasa berumur tidak lebih dari 5 kya, seperti  Lue dan Bang, Ban Kao, Thailand (3750 ± 140 tahun); Gua Moh Khiew (3300 tahun di lapisan budaya Neolitik).

Dari analisis budaya dan mtDNA, aktifitas penutur awal Austronesia di Loyang Mendale dimulai sekitar 4980 ± 130 dan 3580 ± 100 tahun (yang dikalibrasi menjadi 2087-1799 BC), dan di situs Loyang Ujung Karang sekitar 5080 ± 120, 4940 ± 120 tahun. Umur situs Loyang Ujung Karang dalam konteks kuburan Neolitik berumur 4400 tahun (yang dikalibrasi 3285-2937 BC). Pada periode sebelumnya, populasi budaya Hoabinhian hidup di Loyang Mendale sekitar 8430 ± 80 sampai 5040 ± 130 tahun. Sehingga, situs-situs tersebut terbukti telah dihuni oleh dua populasi yang berbeda, berkarakter Australomelanesia dan Mongoloid. Sedangkan analisis radiokarbon mengindikasikan kedua populasi hidup dalam periode yang sama, atau setidaknya mereka hidup di masa yang sama meskipun berbeda gua. Berdasarkan budayanya, karena keduanya memiliki karakter Neolitik, patut diduga mereka hidup bersama.

Yang bisa disimpulkan dari uraian di atas adalah, bahwa pluralisme merupakan indikasi kuat yang bisa dijumpai di Indonesia bagian barat. Populasi Australomelanesia, yang merupakan populasi prasejarah Sundaland, mengadopsi budaya Hoabinhian yang berasal dari Asia Tenggara daratan. Anda bisa menganalogikan kondisi ini juga terjadi di Semenanjung Melayu, dimana Orang Asli dengan karakter seperti Australomelanesia kawin dengan penutur Austroasiatik dari daratan Asia Tenggara menurunkan populasi Senoi yang seiring waktu mengadaptasi budaya penutur Austroasiatik dan meninggalkan sebagian besar tradisi Orang Asli seperti Semang. Atau, populasi proto Melayu di bagian selatan Semenanjung Melayu yang menerima kedatangan penutur Austronesia, membaur, yang kemudian menurunkan populasi Melayu. Kembali ke Indonesia bagian barat, kedatangan penutur Austronesia dengan budayanya dan membaur dengan populasi berbudaya Hoabinhian tercermin dari budaya yang saling mempengaruhi. Anda bisa mendapati elemen budaya Hoabinhian dalam budaya Austronesia, sementara seiring waktu sampai jaman megalitik, budaya lokal makin berkembang dan tradisi tersebut masih ada sampai sekarang. Ini membuktikan keragaman budaya di Indonesia bagian barat sudah dipraktikkan sejak jaman prasejarah.

Mari kita lihat dari data genetik…

geographic-distribution-of-sampled-populations-and-migration-routes-suggested-by-y-chromosome-analysis

Data genetika populasi untuk wilayah Aceh memang tidak lengkap. Populasi yang memiliki data adalah Banda Aceh dan Gayo. Sedangkan untuk Sumatra Utara data genetika populasi meliputi Batak Toba, Batak Karo, Medan, Nias dan Mentawai.

Untuk mencari daerah asal-usul populasi terkait budaya Hoabinhian dan Austronesia di Indonesia bagian barat, kita akan kembali ke penanda genetik paternal yang mendominasi populasi Aceh dan Sumatra Utara. Hui Li et al. (2008) meneliti skenario ini dengan menganalisis genetika populasi Daic yang diduga menjadi root dari populasi Austronesia di Indonesia bagian barat dan Taiwan. Li et al. menemukan bahwa garis paternal populasi Daic lebih dekat kekerabatannya dengan populasi Indonesia bagian barat, dibandingkan Taiwan dan kelompok etnis lainnya di Asia Timur. Keragaman STR haplotype O1a-M119, garis paternal mayoritas populasi Daic dan penutur Austronesia di Indonesia bagian barat, menunjukkan bahwa populasi Taiwan dan Indonesia bagian barat merupakan keturunan populasi Daic namun saling independen satu sama lain. Artinya, ada dua populasi terpisah sejak Daic mengalami diferensiasi. Dan skenario paling kuat adalah bahwa populasi Indonesia bagian barat pada dasarnya berasal dari wilayah di sekitar Teluk Tonkin, tanah leluhur populasi Daic, yang bukan kebetulan juga dekat dengan daerah Hoabinh. Populasi ini migrasi ke Indonesia bagian barat melalui semenanjung Indochina dan juga Thailand dan pada akhirnya sampai di Semenanjung Melayu sebelum menyeberang ke Aceh dan Sumatra Utara. Perlu dicatat, bahwa tidak jauh dari Hoabinhian, adalah lokasi populasi dengan budaya Dong Son. Jika kedua populasi ini saling berdekatan secara geografis, maka percampuran budaya antara keduanya bisa saja dibawa ke Indonesia bagian barat, dan wilayah Indonesia lainnya.

O1a* STR haplotypes

O1a* STR haplotypes

Sekarang, bagian yang lebih rumit. Populasi Hoabinhian sampai duluan di Sumatra utara dan Aceh, sama halnya dengan O1a-M119 migrasi dari Teluk Tonkin ke Sumatra. Namun karena Nias didominasi dari keturunan O1a-M119, yaitu O1a2-M110 dan O1a1-P203, yang pada dasarnya adalah populasi penutur Austronesia, dengan budayanya, yang terkait erat dengan budaya Austronesia secara umum. Kita bisa tarik kesimpulan, bahwa garis paternal O1a-M119 (dan mungkin juga O2a-M195) merupakan populasi berbudaya Hoabinhian, sedangkan keturunannya O1a2-M110 dan O1a2-P203 (serta mungkin juga O2a1-M88 dan O2a1a-PK4) merupakan populasi berbudaya Austronesia. Kontinuitas ini berjalan alami, bukan karena kedatangan migran baru. Jadi sangat wajar jika kedua budaya ini bisa ditemukan dalam satu situs arkeologi di Aceh dan Sumatra.

hoabinh-austronesia

Saya akan hanya mengambil contoh populasi Batak Toba dan Batak Karo untuk melihat komposisi komponen keturunan dari populasi tersebut.

Batak Karo

batak-karo-komponenJika kita hanya melihat garis paternal, maka kita hanya akan melihat garis paternal proto Melayu/Hoabinhian (O-M119), proto-Melayu/Austroasiatik/Dong Son (O-M95), Asia Selatan/Eurasia Barat/Asia Tengah (R-M173) dan pribumi Sundaland (C-RPS4Y*).

Kalau dijabarkan lebih lanjut: Afrika, Eurasia Barat, Asia Tengah dan Asia Selatan akan diwakili oleh garis paternal R-M173, yang berfungsi sebagai proxy komponen-komponen di dalamnya.

Orang Asli Semang dan Kensiu, Australomelanesia, sebagian Temuan dan Bidayuh bisa diwakili garis paternal C-RPS4Y. Sangat mungkin komponen ini beririsan dengan garis paternal O-M95 yang mendominasi Sumatra, Jawa dan Borneo, serta semenanjung Melayu.

Untuk komponen Austronesia jelas sekali diwakili garis paternal O-M119, yang sangat mungkin juga beririsan dengan garis paternal O-M95 mengingat keduanya berasal dari sekitar Teluk Tonkin.

Batak Toba

batak-toba-komponen

Batak Toba sebenarnya tidak jauh berbeda secara komposisi komponen keturunan dengan Batak Karo, namun perbedaanya terletak pada garis paternal prasejarah Sundaland. C-RPS4Y tergantikan oleh K-M526*. Jumlah komponen Austronesia diwakili lebih banyak garis paternal: O-M119, O-M110, dan O-P203. Komponen Australomelanesia dan Orang Asli serta proto Melayu diwakili garis paternal K-M526* dan mungkin beririsan dengan O-M95 dan O-M119. Komponen Asia Timur sepertinya beririsan dengan O-M119.

Garis paternal tidak mendeteksi secara detail karena kita belum mempertimbangkan garis maternal. Jika Anda perhatikan diagram di bawah, Anda akan mendapati betapa beragam garis maternal populasi Batak Toba. Beberapa garis maternal yang menarik adalah M12, M20, M47, M50 dan M51a1a. M12’G sering dianggap sebagai counterpart dari Y-DNA D2 dari populasi Ainu di Jepang. Fakta bahwa jejaknya ditemukan di Batak Toba akan memerlukan kontek yang lebih rinci. Namun yang bisa disimpulkan dari fenomena tersebut adalah bahwa mtDNA M12 merupakan garis maternal yang berasal dari daratan Asia Tenggara, karena garis maternal ini juga terdeteksi di Orissa (India Timur), kandidat lokasi para migran dari India 2000 tahun terakhir, Lembah Bujang (Kedah, Semenanjung Melayu) dan Dayak Ma’anyan (Borneo Selatan). Garis maternal M20 merupakan garis keturunan M1’20’51, dengan sebaran M20 di sekitar China selatan, Borneo (Dayak Lebbo’ dan Ma’anyan) serta Vietnam untuk M20’51. Meskipun M51 banyak ditemukan di Indonesia, garis maternal ini juga tersebar dari Laos sampai Nepal. M47, yang merupakan garis keturunan M47’50 merupakan garis maternal asli prasejarah Sundaland. Bersama dengan M50, kedua garis maternal tersebut hanya terdeteksi di Indonesia.

batak-toba-mtdna-haplogroups

Gayo

Sebagian besar garis maternal Gayo tidak berbeda dengan area di Sumatra bagian utara, hanya saja Anda akan mendapati garis maternal India (U2, U7) dan garis maternal Eurasia (X dan H*). Sulit menentukan konteks dari garis maternal Eurasia, karena catatan sejarah tidak begitu banyak membantu.

gayo-mtdna-haplogroups

Aceh (Banda Aceh)

Untuk garis paternal Aceh, beberapa yang menarik adalah masih terdeteksinya DE-M1, ada kemungkinan belum diuji dengan marker terbaru. Namun jika benar, maka kehadiran DE-M1 membuktikan leluhur DE memang berada di Asia Tenggara (DE yang lain juga terdeteksi di China selatan). Populasi Australomelanesia diwakili oleh Y-DNA S-M254 dan K-M526*. Sedangkan F-P14* bisa jadi merupakan Y-DNA H dari India Timur.

aceh-y-dna-haplogroups

Mentawai

mentawai-y-dna-haplogroups

Nias

nias-y-dna-haplogroup

Riau

Sama seperti garis paternal Aceh, perlu diuji dengan marker terbaru.

riau-y-dna-haplogroupsPadang

padang-mtdna-haplogroups

Kusuma et al. (2015) menemukan kesamaan garis maternal antara populasi Gayo, Nias, Mentawai, Batak Toba, Semende dan Besemah (Pasemah), yaitu mtDNA M7c1a4a, dengan frekuensi tertinggi terdeteksi di Pasemah.

Baca juga tentang populasi Indonesia bagian barat (pemburu-pemulung keturunan prasejarah Sundaland, budaya Hoabinhian dan proto Melayu), sebelum ekspansi Neolitik. Bagian dari populasi tersebut nantinya bergerak ke Wallacea, dan pada akhirnya sampai di kepulauan Pasifik. Bukan dari Taiwan, atau Filipina.

Untuk menguji pendapat tersebut, Anda bisa mengikuti sebaran anjing dan babi. Apakah Anda melihat haplotype babi dari Taiwan dan Filipina sampai ke Pasifik? Tentu tidak. Babi dari Taiwan atau Filipina hanya menuju kepulauan Mariana dan Mikronesia.

peta-sebaran-haplotype-babi

Bagaimana dengan anjing? Lain waktu kita telusuri.

Toalean introduced dingo to Australia

Toalean introduced dingo to Australia

 

Iklan

2 responses to “Kontinuitas Populasi Hoabinhian dan Austronesia

  1. Ping-balik: Sejarah Populasi Indonesia Gelombang Ketiga | The Forgotten Motherland·

  2. Ping-balik: Salah Satu Garis Paternal Unik Penutur Austronesia | The Forgotten Motherland·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s