Diaspora Melayu Di Sri Lanka


javalanestreetsign-in-colombo

Ketika Anda melihat gambar di atas, apa yang terlintas dibenak Anda?

Ya, kenapa ada Gang Jawa di Sri Lanka? Biasanya nama jalan yang terkait dengan Indonesia di luar negeri adalah nama proklamator, atau nama-nama pahlawan nasional, seperti Rue Soukarno (Jalan Soekarno di Maroko), Ahmed Soekarno St. di Mesir, Mohammed Hattastraat di Harleem Belanda, R.A. Kartinistraat di Harleem dan Amsterdam, Sjahrirstraat di Leiden, Sjahrirsingel di Kota Gouda, dan Sutan Sjahrirstraat di Haarlem, Munirpad di Den Haag, bahkan tempat-tempat publik ada yang memakai nama proklamator seperti di Soekarno Square Khyber Bazar di Peshawar, dan Soekarno Bazar, di Lahore.

Apa relevansi Jawa dipakai sebagai nama jalan (bahkan gang kecil) di Sri Lanka? Apakah ada komunitas Jawa di sana? Atau, dalam konteks ini, Jawa/Melayu sebagai komunitas yang jumlahnya per tahun 2012 mencapai 44000 jiwa, apakah mereka para migran, tenaga kerja? Bukan.

Sebagian besar dari orang Jawa/Melayu di Sri Lanka saat ini adalah keturunan dari para tahanan politik yang dibuang ke Sri Lanka oleh kongsi dagang Belanda VOC pada pertengahan abad ke-18 dan abad ke-19, serta kemudian pemerintahan Inggris setelah tahun 1796. Di samping tahanan politik, yang juga biasanya beserta pengiring atau pembantunya, sebagian besar adalah narapidana, dan pejuang/tentara. Di antara tahanan politik tersebut adalah raja dan pangeran dari Sulawesi Selatan, Madura dan Jawa, sedangkan para tentara merupakan buangan dari Semenanjung Melayu. Di samping itu, Sri Lanka terletak di persimpangan strategis yang menghubungkan Asia Selatan dan Asia Tenggara, sehingga tempat ini menjadi pusat dagang dan tentu saja mempertemukan berbagai kelompok etnis, karenanya menjadi salah satu genetic melting pot.

Meskipun interaksi politik, agama dan budaya antara Sri Lanka dan kepulauan Asia Tenggara terjadi lebih dari sepuluh abad yang lalu, komunitas Jawa/Melayu secara umum baru ada di Sri Lanka sejak kolonialisme Belanda dan Inggris pada abad ke-16 dan -17. Populasi Sri Lanka keturunan Melayu saat ini hanya 0.3% dari populasi Sri Lanka secara keseluruhan, dan 34%nya merupakan keturunan campuran (55%–61% komponen Asia Selatan, dan 39%–45% komponen Melayu)

Ketika saya menelusuri jejak populasi Orang Asli dan proto Melayu, saya mendapati data dari Deng et al. yang menyertakan populasi Sri Lanka-Malay (SLM, atau Melayu Sri Lanka, MSL), yang proporsi keturunan dari Melayu tidak terlalu signifikan. Namun saya mendapati beberapa komponen garis keturunan dari bagian timur Indonesia yang cukup membuat saya bertanya-tanya. Pada populasi penutur Dravidian Tamil di Jaffna terdapat garis maternal P5 yang semestinya hanya ada di sekitar Arnhem Land, bagian utara Australia, serta penutur Indo-Eropa di Thuppitiya Sinhalese dengan garis maternal P4b, lagi-lagi hanya terdapat di Teluk Carpentaria (Australia) dan sekitarnya. Serta beberapa mtDNA D4a atau D4j3 yang lebih condong sebagai garis maternal di China Selatan dan hanya minoritas di Timor, karena sebagian besar garis keturunan mtDNA D di Sumatra adalah D4s atau D5b. Apakah mereka merupakan sisa-sisa keturunan tahanan buangan dan para pengikutnya? Kenapa saya tidak melihat garis maternal unik Melayu? Atau mungkin bersembunyi dibalik macrohaplogroup M dan N yang belum diklasifikasikan? (M* dan N*) Atau sebagian besar tahanan buangan memang laki-laki, dan yang perempuan adalah para pembantu raja/pangeran yang diasingkan? Sehingga jejak garis maternal tidak begitu membantu, sedangkan data garis paternal sangat minim. Sehingga data Deng et al. (2015) menjadi alat bantu yang cukup efektif. Jika kita lihat dalam struktur komponen Deng et al. kita akan mendapati populasi Sri Lanka keturunan Melayu akan mewarisi beberapa komponen yang sering terlihat di Indonesia/Semenanjung Melayu.

 

Mari kita telusuri dokumen sejarah tentang populasi Jawa/Melayu di Sri Lanka

Bukti arkeologi mengungkap hubungan antara bagian selatan India dengan Asia Tenggara sudah secara reguler dibangun sejak abad pertama sebelum Masehi. Dalam kitab kakawin Jawa Kuno terdapat banyak kata pinjaman dari Tamil, sebagaimana dalam litaratur Melayu. Seperti sebutan untuk para saudagar keturunan Arab, orang Tamil menyebutnya Marakkar (dari Marakkāyar), dan orang Melayu menyebutnya dengan Marikar.

Sejak abad ke-9 Masehi, banyak prasasti Tamil bersebaran di Asia Tenggara, di saat yang bersamaan etnonim (penamaan untuk kelompok etnis) India lainnya mulai dipakai dalam literatur Jawa Kuno. Sebagai contoh, pada awal abad ke-11, prasasti Airlangga mulai membedakan Kling, Āryya, Singhala, dan Karṇaṭaka, sementara pada pertengahan abad ke-14 kitab karangan Mpu Tantular Nāgarakərtāgama memasukkan Goā (sapi pemberian) dan Kāñcipurī (nama sebuah kota). Pengaruh India bagian selatan sangat kuat terutama di Sumatra Utara. Seorang Belanda bernama Van Ronkel yang pertama kali mengamati sejumlah persamaan-persamaan secara budaya dan leksikal pada penutur Karo klan Sembiring yang terkait dengan serikat dagang Tamil di wilayah tersebut, dengan bukti arkeologi hunian populasi dari India selatan pada periode medieval (Perret & Surachman 2009).

Populasi India bagian selatan dengan kepulauan Asia Tenggara berbeda dalam konteks agama dan kasta. Pada abad ke-14, komunitas Muslim penutur Tamil mulai menyaingi rekan sebangsa mereka yang beragama Hindu. Kelompok pertama yang melakukan kontak kemudian dikenal dengan sebutan Kling atau Keling. Istilah ini seharusnya tidak dikaitkan dengan Kalinga, kerajaan Hindu di timur laut India yang sekarang bernama Odisha (dulu bernama Orissa), namun istilah keling adalah bahasa Jawa untuk orang berkulit gelap. Mengingat Orissa merupakan daerah dimana penutur Austro-asiatik hampir sepertiganya, setidaknya fitur populasi wilayah tersebut tidak terlalu berkulit gelap seperti populasi lokal India lainnya.

Istilah untuk para saudagar Muslim Tamil yang kemudian dipahami sebagian besar populasi Melayu adalah Chulia atau Chuliah, untuk membedakan saudagar Muslim dari Gujarat (Baniyān) dan wilayah sebelah barat India lainnya, seperti Ḵẖojā dan Bohrā. Orang lokal Tamil menyebut keturunan Arab/Turki dengan sebutan aga. Sedangkan Muslim di India Selatan dikelompokkan menjadi Labbai (Tamil), atau Lebai (Melayu) sebutan untuk komunitas penutur Tamil ber-maddhab Hanafi. Untuk Muslim penutur Malayalam keturunan Arab dan hidup di sekitar Malabar, disebut dengan Māppia atau Moplah. Untuk para muslim dari utara seperti penutur Urdu disebut dengan Navaiyat, Sayyid, Shayḵẖ, dan Pahān. Tak ketinggalan para Rāvuttar, penutur Tamil keturunan Tulukkar (pengembara berkuda dari Turki)

Banyak saudagar India yang berdagang ke Asia Tenggara menikah dengan wanita lokal, dan menghasilkan keturunan yang disebut Jawi Pəranakan. Seabad yang lalu, di Aceh, keturunan campuran Tamil disebut dengan istilah basterd-Klinganeezen, yang kemudian membaur dengan penduduk lokal. Namun saat ini, populasi berdarah campuran tersebut disebut Chitty (dari bahasa Tamil Ciṭṭi, anak dari seorang ayah Keling, dan ibu Melayu dari Malaka). Sebutan itu merujuk juga pada istilah Chetty (Tamil Ceṭṭi, Melayu Ceti), istilah untuk kasta pedagang dari India Selatan atau rentenir dari Melayu. Orang Chetty masih mempertahankan agama Hindu mereka sampai saat ini, namun bisa dianggap orang Melayu dalam konteks bahasa dan budayanya. Setelah Malaysia merdeka, para Chetty tidak begitu sukses dalam status ke-bumiputera-an mereka, sementara Muslim Jawi Peranakan dengan mudah menyandang status orang Melayu.

Kontak budaya antara Asia Selatan dan Tenggara masih terbangun sampai saat ini. Migran dari Asia Selatan yang dipekerjakan di Semenanjung Melayu adalah orang India Tamil, Sri Lanka Tamil, Malayalis, Telugu, dan komunitas Asia Selatan lainnya yang dikenal dengan sebutan ‘coolies’, pekerja kasar (Tamil kūli). Hasil asimilasi budaya tercermin dari makanan campuran budaya India-Melayu seperti makanan mamak (dari Tamil māmā, paman), roti canai, murtabak atau martabak, nasi kandar, mamak rojak (rujak), dan teh tarik. Dan masih banyak lagi contoh asimilasi budaya antara Tamil dan Melayu.

Kembali ke catatan sejarah…

Sejarah keberadaan Melayu di Sri Lanka bisa ditelusuri sampai ke pertengahan abad ke-17, dengan seringnya VOC mengirimkan orang Melayu dari kepulauan Asia Tenggara ke Sri Lanka dengan bermacam sebab. Leluhur orang Melayu di Sri Lanka (MSL) saat ini berasal dari beragam latar belakang, banyak dari mereka berasal dari Jawa atau keturunan Indonesia Timur, diasingkan ke Sri Lanka oleh VOC karena tahanan politik dan narapidana, serta tetap melayani VOC di sana, atau direkrut sebagai pasukan kolonial, baik Belanda maupun Inggris (setelah 1796).

Beberapa tahanan politik pada akhir abad ke-17, khususnya selama abad ke-18, adalah anggota bangsawan di daerah asalnya. Sebagai contoh, Raja Amangkurat III dari Mataram diasingkan bersama dengan para pengiringnya pada tahun 1708 setelah perselisihan perebutan tahta dengan sang paman, Pakubuwono I; kemudian raja Gowa ke 26 Sultal Fakhruddin, yang diasingkan pada tahun 1767 karena tuduhan berkonspirasi dengan Inggris melawan VOC dalam monopoli dagang di Indonesia Timur. Konsekuensinya, seluruh keluarga Sultan harus hidup di pengasingan. Kemudian pada abad ke-18, pangeran Banten, pangeran Tidore dan raja Kupang. Sebelumnya (1684), Sheikh Yusuf dari Makassar, pemuka agama terkenal dari Sulawesi juga diasingkan VOC ke Sri Lanka. Beberapa tahanan politik tersebut ada yang kembali ke tanah air, seperti Amangkurat III kembali setelah lebih dari 30 tahun diasingkan, kemudian direpatriasi pada tahun 1734 dan dikuburkan di makam kerajaan di Imogiri.

Pekerjaan utama populasi Melayu adalah direkrut menjadi pasukan VOC, atau pasukan Inggris di kemudian hari. Orang Melayu terkenal ganas, kejam, berani dan pendendam, dan kebiasaan mengamuknya ditakuti sekaligus dikagumi. Pada awal abad ke-19, Gubernur Inggris membentu pasukan khusus orang Melayu sampai tahun 1873.

Selama abad ke-17 dan -18, Belanda tidak merujuk sebagai orang Melayu seperti Inggris, namun dengan sebutan Oosterlingen (the Easterners, orang timur), karena faktanya mereka berasal dari Jawa yang berada di sebelah timur Sri Lanka. Sebutan Javaans (orang Jawa) juga dipakai Belanda yang menandakan populasi Jawa saat itu cukup signifikan dalam komunitasnya di Sri Lanka. Salah satu catatan tentang orang Jawa juga didapati dari tulisan Reverend Phillipus Baldaeus dari Belanda yang mendokumentasikan peperangan antara Portugis dan Belanda, dan berkali-kali menyebut pasukan Portugis dan Belanda melawan Javanen dan Bandanezen (orang Banda).

Catatan lain adalah dari Librecht Hooreman, komandan di Jaffna, pada tahun 1748 menulis kepada penggantinya Jacob de Jong. Dalam tulisannya Hooreman menyebut dua tahanan politik dalam pengawasannya adalah Pangeran Diepa Coesoema (Dipa Kusuma) dari Banten, dan Pangeran Madura Radin Tomogon Rana Diningrat, beserta pengikutnya (Dipa 3 pria, 3 wanita; Radin 2 pria, 2 wanita). Pangeran Rana Diningrat sepertinya putra Cakradiningrat IV, raja Madura yang diasingkan juga di Cape of Good Hope, sedangkan Rana dan Sosrodiningrat diasingkan ke Sri Lanka.

Mengingat sejarah diaspora orang Melayu di Sri Lanka dan asalnya yang beragam di kepulauan Indonesia, kita juga akan bertanya-tanya, adakah setidaknya jejak, baik lisan maupun tulisan dalam bahasa selain bahasa Melayu yang muncul di Sri Lanka. Lebih penting lagi, masihkah jejak genetik orang Melayu terdeteksi dalam populasi Melayu Sri Lanka? Literatur cukup banyak, kita singgung nanti, sekarang kita lihat komponen genetik populasi Melayu Sri Lanka.

komponen-slm

Komponen Melayu 39-45% bisa diterjemahkan sebagai komponen Bidayuh, Temuan, Austronesian dan Asia Timur. Karena sering kali, komponen Orang Asli dan Melanesia lebih dekat dengan (terbaca sebagai) komponen India. Salah satu kelemahan pengklusteran berdasarkan kesamaan SNP global adalah tidak bisa memisahkan secara lebih detail. Uniparental markers bisa menjawab problem ini dengan menyaring sharing mutasi yang akan mengarahkan dari mana populasi tersebut berasal. Cukupkah struktur komponen di atas mengambarkan keturunan Melayu pada populasi Melayu Sri Lanka? Sampai kita bisa mendapatkan data Y-chromosome, kita akan berpegang pada struktur di atas.

Kembali ke jejak lisan atau tulisan…

Apa yang terjadi dengan bahasa-bahasa yang dibawa para tahanan politik dan para pengiring/pembantu, atau narapidana dan para pasukan, yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara seperti Madura, Bugis, Sunda, Jawa, Bali, atau Maluku? Apakah semuanya memudar seiring berjalannya waktu?

Beberapa temuan manuskrip penting masih menggunakan bahasa Jawa disamping bahasa Melayu, yang menandakan generasi awal populasi campuran tersebut sangat mungkin memang sebagian dari keluarga atau pengiring raja Amangkurat III. Manuskrip tersebut ditulis antara tahun 1803-1831, termasuk dua tulisan singkat dengan bahasa Jawa, sebuah terjemahan hadith dalam bahasa Jawa, dan beberapa coretan dalam bahasa Jawa yang tak beraturan dalam manuskrip.

Tulisan paling menarik adalah Kidung Rumeksa ing Wengi (sebuah nyanyian untuk menemani malam), dari judulnya, lagu ini untuk melindungi dari gangguan-gangguan yang mengintai di malam hari, termasuk jin, setan, api, air, pencuri dan lainnya. Dalam tradisi Jawa, kidung tersebut sering dikaitkan dengan Sunan Kalijaga, salah satu wali sanga penyebar agama Islam di Jawa pada abad ke-15.

Dalam manuskrip yang sama, sebuah gambar tersamarkan, yang bernama Enci Sulaiman ibn ‘Abd al-Jalil, seorang Makasar dari Ujung Pandang. Kemungkinan besar dia adalah pengikut Sheikh Yusuf, pemuka agama yang anti penjajah Belanda yang diasingkan di Sri Lanka. Enci Sulaiman menuliskan asal-usulnya, bahwa dia adalah keturunan Mas Haji ‘Abd Allah dari kerajaan Mataram di Jawa Tengah. Sebutan Melayu tidak ditemukan di sana. Kemudian, manuskrip akhir abad ke-19 berjudul Hikayat Tuan Gusti. Manuskrip ini merupakan biografi tentang Sunan Giri, salah satu dari wali sanga yang aktif menyebarkan agama Islam di Jawa Timur. Cerita ini sering ditulis dalam bahasa Jawa, namun kali ini dalam bahasa Melayu. Ini menandakan mulai adanya keterkaitan antara orang Melayu di Sri Lanka dengan Jawa. Dalam hal ini sebutan Ja digunakan oleh penutur Tamil dan Sinhala di Sri Lanka untuk merujuk pada komunitas orang Jawa.

Kaitan dengan Jawa lebih terlihat dibandingkan dengan populasi lain dari kepulauan Nusantara, karena mungkin jumlah yang dikirim ke Sri Lanka kebanyakan dari Jawa, dan statusnya yang lebih tinggi, dan memiliki tradisi tulis menulis yang hasilnya bisa dibaca oleh lingkungan sekitarnya. Penyebutan Makassar juga menandakan bahwa wilayah di luar Jawa juga cukup signifikan. Wilayah lainnya adalah keraton kecil Sumenep di bagian timur pulau Madura, yang didirikan pada akhir abad ke-18. Manuskrip tahun 1856 dari Sri Lanka tentang susur galur keluarga dari Sumenep, tertulis dalam halaman pertama: bahwa kitab ini yang empunya Baba Ounus ibn Kapitan Saldin, ibn Enci pantasih, bangsa Sumenep. Penggunaan kata bangsa menandakan adanya kepemilikan sebuah wilayah dan budaya lokal, termasuk mewakili orang, ras, keluarga atau kelompok.

Sumber lain, seperti surat dan petisi yang ditulis selama dalam pengasingan, merujuk pada wilayah yang lebih jauh lagi di kepulauan Nusantara, dan masih bagian dari Melayu, adalah surat yang ditulis dua bersaudara pada tahun 1792, mereka adalah keturunan Sultan Bacan Muhamad Sah al-Din dari pulau Bacan di Indonesia Timur, meminta Gubernur VOC di Batavia untuk mengijinkan mereka meninggalkan Sri Lanka setelah 12 tahun di sana.

Selama dalam penguasaan Belanda, afiliasi orang Melayu memang tidak mendapatkan tempat dalam catatan sejarah. Oosterlingen dan Javaan memang lebih dominan (walau kadang ada sebutan untuk orang Banda, Melayu dan uliyam, pekerja yang tidak diupah), namun setelah di bawah kekuasaan Inggris, afiliasi Melayu lebih mendapatkan tempat dalam catatan sejarah. Karena Inggris lebih mengkategorikan orang berdasarkan bahasa kolektif, yaitu bahasa Melayu, dan kesamaan fisik dibandingkan dengan populasi lokal (Orang Asli) di Malaya, Penang (1786), dan kemudian di Singapura (1819). Percival mendeskripsikan orang Melayu di Sri Lanka (1803) seperti di bawah:

The religion, law, manners and customs of the Malays, as well as their dress, colour and persons, differ very much from those of all the other inhabitants of Asia. The Malays of the various islands and settlements also differ among themselves, according to the habits and appearance of the nations among whom they are dispersed. Yet still they are all easily distinguished to be of the Malay race.

Paska kolonialisme, kelompok etnis MSL dikategorikan berdasarkan empat bahasa berbeda: Melayu dikenal dengan Ja minnusu atau Ja oleh orang Sinhala; Java manucar atau Jakarar oleh orang Tamil; Malai karar oleh Moors (Muslim penutur Tamil), dan ketika berbicara dengan orang Inggris menyebut Malay, dan ketika berbicara dengan Melayu Sri Lanka menyebut Melayu orang atau orang Melayu.

Ketika Indonesia merdeka dari Belanda, banyak dari MSL merasa kehilangan koneksi penting karena mereka sulit mengidentifikasi dirinya dengan nama dan negara baru seperti ketika mereka mengidentifikasi diri dengan asalnya dari pulau Jawa. Dan nama negara yang identik dengan diri mereka saat itu, Malay, adalah negara Malaysia, yang bukan tanah leluhur mereka.

Catatan terakhir, pertanyaan mengenai ke-Melayu-an, penggunaan Ja dan Melayu dan nama-nama lain yang mungkin terlupakan, atau hilang bersama manuskrip-manuskrip tua, masih memainkan perannya di kehidupan sehari-hari di Sri Lanka. Seperti nama masjid di Kinniya, Jawatte Road, Jawatte Street, dan nama-nama lainnya.

A picture is worth a thousand words… katanya

jawatteroadsignsinsinhala

malaystreetsignsinsinhala

malaycricketclub-colombo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s