Sejarah Populasi Indonesia Gelombang Ketiga


austroasiatics-migration-routesSejarah populasi Indonesia periode Pleistocene akhir terbagi setidaknya menjadi lima periode. Sejak selesai menulis gelombang kedua, tentang migrasi dari Sunda ke Sahul, gelombang ketiga banyak menemui hambatan, terutama banyaknya ketidaksesuaian data dan hasil penelitian dari berbagai disiplin keilmuan, yang mengakibatkan sulitnya melakukan pendekatan dari berbagai disiplin keilmuan seperti arkeologi, linguistik, genetika dan antropologi. Salah satu contohnya adalah ketika kita menggunakan rumpun bahasa untuk pemetaan asal-usul dan migrasi populasi Asia Tenggara tidak pernah menghasilkan konsensus antar akademisi.  Hal ini bisa dilihat pada rumpun bahasa Austroasiatik, rumpun bahasa terbesar ke delapan yang sebarannya unik, tidak hanya terbatas pada wilayah daratan Asia Tenggara dan China Selatan, namun sebarannya sampai India timur dan kepulauan Nicobar. Dua cabang utamanya adalah Munda yang tersebar di India Timur, Timur Laut dan Tengah, dan cabang Mon-Khmer yang sebarannya mulai dari timur laut India, kepulauan Andaman-Nicobar, Semenanjung Melayu dan daerah sekitar delta sungai Mekong di daratan Asia Tenggara (Indo-China). Dengan fakta tersebut, penelitian selama beberapa dekade ke belakang hanya menghasilkan perdebatan panjang tentang geografi asal dan rute migrasi prasejarah populasi penutur Austroasiatik. Selain itu, harus memastikan bahwa apa yang terjadi pada periode berikutnya, yaitu ekspansi Austronesia, sesuai dengan atau mengikuti apa yang terjadi pada periode sebelumnya, yang saya namakan gelombang ketiga (sebaran penutur Austroasiatik-proto Melayu).

Mari kita lihat dulu ketidakkonsistenan teori-teori migrasi manusia jika dilakukan pendekatan multidisiplin…

Konsensus akademik yang pertama kali menyatakan ketidaksetujuan terhadap pandangan/teori bahwa populasi kepulauan Asia Tenggara  menyebar ke seluruh penjuru mata angin sebelum kedatangan populasi intrusif dari utara, adalah G. Benjamin. Dalam sanggahannya, Benjamin mengkritik pandangan tersebut dengan analogi kue lapis, teori ini menganalogikan bahwa populasi Negrito berada di paling bawah, kemudian di atasnya adalah populasi Senoi, diikuti proto Melayu, dan paling atas adalah populasi Melayu, dan pandangan ini diulang terus dalam berbagai buku geografi selama dua-tiga dekade terakhir. Lamp juga berkesimpulan yang hampir sama, bahwa artefak arkeologi seperti budaya Dong Son dan kapak perunggunya yang tersebar di kepulauan Nusantara mengindikasikan adanya kontak dagang dengan area di China Selatan, dibandingkan bukti adanya imigrasi manusia. Dan faktanya, genderang Dong Son untuk kepentingan dagang masih diproduksi sampai hari ini oleh mereka yang menghuni delta sungai Merah di Vietnam Utara. Mereka yang menggunakan genderang Dong Son sebagai bukti imigrasi manusia sepertnya tidak pernah merujuk pada klasifikasi Heger untuk memvalidasi teori-teori mereka.

Teori migrasi juga mewariskan kesalahan metodologi karena mereka secara konstan bergantung pada asumsi bahwa area dimana peneliti menemukan spesimen, fosil, data linguistik atau artefak arkeologi lebih padat, dan beragam, maka harus dipandang sebagai lokasi asal populasi yang mereka teliti. Paradigma ini dikenal dengan Paradigma Sapir (Sapir 1916). Bahkan teori out of Africa juga beroperasi dengan paradigma tersebut.

Paradigma ini tidak akan pernah menghasilkan jawaban obyektif dan saintifik yang konklusif, karena secara total bergantung pada bagaimana peneliti menentukan dan mengestimasi kepadatan, ketebalan, keragaman dan variasi dari tinggalan-tinggalan seperti fosil dan artefak. Karena mereka memulai penelitian di wilayah tersebut (Taiwan dan China selatan), maka hasilnya bisa berlawanan dengan arah migrasi, seperti wilayah Asia Tenggara, termasuk kepulauan Indonesia, sebagai tanah leluhur penutur proto Melayu-Polynesia. Jika para peneliti memulai dari Kepulauan Indonesia, hasilnya akan mengikuti Paradigma Sapir. Paradigma ini juga menjadi sebab tidak pernah berhentinya perdebatan tentang asal-usul penutur Austronesia sampai sekarang.

Namun demikian, paradigma Sapir juga sangat berpotensi memberikan hasil yang bertentangan dengan fakta sejarah. Contohnya, seandainya paradigma Sapir digunakan sebagai metode standart prosedur penelitian untuk menjelaskan asal-usul pribumi Afrika, ini bisa mengimplikasikan bahwa penduduk pribumi Afrika berasal dari perkampungan di pinggiran Manhattan, karena seorang dari kampung itu juga memiliki keragaman yang tidak jauh berbeda dari mereka yang berada di Afrika.

Kekurangan lain dari teori migrasi adalah beroperasi pada dasar pemikiran bahwa populasi Melayu (yang ‘bersembunyi’ sebagai penutur Austronesia) berasal dari leluhur tunggal, padahal realitanya mereka merupakan populasi pologenik, bukan berasal dari leluhur tunggal (Anda bisa lihat garis maternal populasi Melayu yang sangat beragam). Bahkan dengan data genetika populasi yang cukup pun kita tidak bisa membedakan secara jelas antara penutur Austronesia dan Austroasiatik secara genetik maupun budaya, selalu ada overlapping, saling tumpang tindih. Maruyama (2010) mencoba meneliti genetika populasi Melayu di Kuala Lumpur mengafirmasi kembali asumsi-asumsi tersebut bahwa menggunakan populasi Melayu yang homogen atau dari populasi tunggal tidak menghasilkan kesimpulan yang membantu, bahkan sering menghasilkan kesalahan yang lebih fatal. Hasilnya mungkin akan mirip jika dilakukan penelitian terhadap populasi Melayu di Sumatra, seluruh Semenanjung, Borneo, Filipina dan kepulauan Nusantara secara menyeluruh.

Fitur poligenik populasi Melayu tidak hanya ada pada populasi saat ini, namun juga mundur ke belakang selama masa sejarah. Jika Anda ingat, pendiri kerajaan Melayu-Sriwijaya, Dapunta Hyang Sri Jayanasa adalah keturunan Jawa dan mungkin Sumatra. Dapunta adalah nama Jawa, Hyang menunjukkan budaya Nusantara, Sri Jayanasa bisa jadi nama Nusantara (Sri bersinar, Yacanaca pengikut aliran Saman, Semangat, spirit orang Dayak atau proto Melayu Borneo).

Fakta sejarah secara umum juga akan berkesimpulan bahwa penelitian genetika populasi ternyata sama seperti spekulasi disiplin keilmuan lainnya. Meskipun metodologi penelitian genetik lebih mutakhir dengan laboratorium dan spesimennya, begitu juga dengan jargon teknisnya, penelitian genetik sering tersandung dua persoalan mendasar: pertama, untuk mendapatkan pengakuan yang tak terbantahkan dan konsensus umum terhadap DNA dari mereka yang dianggap pribumi, dan dalam kasus populasi kepulauan Indonesia, siapa yang sebenarnya patut menyandang predikat pribumi Melayu; dan kedua, tidak adanya kaitan langsung antara genetik dan tanah leluhur mereka. Pada praktiknya, ahli genetika banyak bergantung pada hasil penelitian linguistik, arkeologi, paleoantropologi, penelitian prasejarah, botani dan forensik. Dan praktik ini telah menjadi kebiasaan, ketika para peneliti genetika populasi kepulauan Indonesia memiliki fitur genetik yang sama dengan populasi di Taiwan bagian selatan atau China selatan, mereka akan merujuk pada apa yang telah dihasilkan ahli bahasa, arkeolog, paleoantropolog, ahli prasejarah atau ahli botani. Dengan demikian, seseorang tidak harus asal mengikuti begitu saja tanpa skeptisisme, bahwa uji materi genetik bisa mengungkap asal-usul populasi atau tanah leluhur populasi prasejarah Asia Tenggara. Penelitian genetika tidak bisa berdiri sendiri, namun harus didukung (tidak hanya mengekor) oleh temuan linguistik, arkeologi, paleoantropologi, prasejarah dan botani yang semuanya juga menggunakan Paradigma Sapir.

Orang Melayu seharusnya diposisikan sama dengan Negrito (Kintaq, Lanok, Kensiu, Jahai, Mendriq and Bateq), Senoi (Temiar, Semai, Mahu Meri, Che Wong, Ja Hut dan Semoq Beri) dan Proto Melayu (Orang Selatar, Jakun, Orang Kuala, Orang Kanaq, Temuan dan Semelai) di Semenanjung Melayu; Iban, Bidayuh, Bisaya, Kayan, Kedayan, Kelabit, Kenyah, Melanau, Murut, Penan dan Punan di Sarawak; dan Kadazandusun (Kadazan+Dusun), Murut, Bajau, Bisaya, Kadayun, Orang Sungai, Orang Laut dan Brunei di Sabah.

Jika seseorang berdebat menggunakan basis linguistik, arkeologi, paleoantropologi, prasejarah, botani, genetik dan forensik, maka kita akan kembali ke jalan buntu, karena teori-teori migrasi tidak mengungkap hal yang berarti, yang tak lain adalah teori-teori setengah matang yang bertentangan satu sama. Mari kita lihat kasus migrasi penutur Austronesia ke Pasifik. Data rujukan peneliti genetika populasi biasanya linguistik dan arkeologi. Mereka mencari bukti seberapa besar kontribusi arkeologi mendukung teori bahwa migrasi penutur Austronesia dari Asia sekitar 6000 tahun yang lalu. Asumsi dasar mereka adalah penutur Austronesia adalah populasi homogen secara biologis, linguistik dan budaya, yang ujug-ujug muncul di China selatan, migrasi ke Taiwan, kemudian ke Filipina, dan ke bagian timur Indonesia, lalu ke timur menuju Pasifik setelah menyusuri bagian utara pesisir Papua Nugini, sampai di Melanesia dan Polynesia 3000 tahun yang lalu. Tak bisa dibantah, ini merupakan cerita yang sangat menarik, namun bisakah ini disebut sejarah?

Apakah kita butuh cerita seperti ini?

Klaim migrasi penutur Austronesia bukanlah hipotesis yang bersifat ‘bottom-up’, yaitu hasil logis setelah bukti-bukti yang mendukung terkumpul. Namun sebaliknya, migrasi penutur Austronesia merupakan usulan yang bersifat ‘top down tentang fakta-fakta yang dipilih, terserah peneliti yang mendefinisikan fakta tersebut. Teori migrasi penutur Austronesia tersebut lebih seperti cerita besar yang menarik dan bagus dibandingkan hipotesis saintifik. Namun, karena cerita yang sangat bagus tersebut, publik akan cenderung menerimanya. Apalagi melalui media elektronik, seperti film dokumenter. Jika cerita sederhana ini bisa diceritakan atas nama sains, kenapa gigih sekali menolaknya?

Ini alasannya, kita tidak memerlukan sebuah cerita besar, dengan penjelasan sederhana seperti ini, untuk memperlihatkan sebaran rumpun bahasa Austronesia. Lebih jauh lagi, asumsi yang menjadi sumber masalah juga perlu penjelasan yang lebih rinci seperti ilmu sains lainnya dalam menjelaskan peristiwa besar. Seperti munculnya pertanian, revolusi Neolitik, yang diduga menyebabkan dimulainya migrasi manusia secara luas, yang kemudian dipakai untuk menjelaskan sebaran bahasa Austronesia. Para penggagas teori out of Taiwan seperti Bellwood, menyatakan bahwa proses seperti peminjaman kata, hubungan dagang, kompetisi, rekrutmen, adopsi, perkawinan, perpindahan dan bagaimana menemukan cara-cara baru menghadapi tantangan kehidupan, tidak bisa menjelaskan peristiwa besar seperti migrasi penutur Austronesia, karena itu butuh pola sebaran bahasa, budaya dan genetika populasi untuk menjelaskannya.

Rekonstruksi seperti apa yang mungkin bisa menjelaskan peristiwa besar seperti migrasi penutur Austronesia? Kita harus mempertimbangkan bahwa kolonisasi manusia prasejarah adalah fenomena sosial dan demografis. Bisa aktif, bisa pasif, dan terjadi karena menghadapi tantangan alam dan budaya. Manusia prasejarah menghadapi kondisi hidup lokal dan spesifik, satu sama lain berbeda. Sehingga tidak akan muncul cerita sederhana migrasi manusia dari titik A ke Z. Seperti juga cerita migrasi penutur Austronesia. Kita perlu mempersempit cerita tersebut menjadi fragmen-fragmen agar lebih mudah diuji. Seperti migrasi ke Pasifik yang selama ini menjadi pengecualian. Peristiwa ini harusnya dianggap sama dengan peristiwa lain seperti migrasi penutur Austroasiatik ke kepulauan Nicobar, atau ke India Timur.

Baik, kembali ke sejarah gelombang ketiga…

Dan sebelum mengikuti uraian tentang gelombang ketiga ini, ada baiknya Anda membaca kembali tulisan terdahulu tentang relasi antara penutur Austroasiatik dan Austronesia, relasi penutur Tai-Kadai dengan Austronesia, misteri populasi proto Melayu, dan gambaran populasi Indonesia bagian barat pada periode awal Neolitik. Kenapa demikian? Karena untuk mendapatkan konteks yang lebih luas, Anda harus mengikuti apa yang terjadi pada gelombang pertama, kedua, dan keempat. Uraian ini juga akan memperbarui sejarah genetik Orang Asli.

Sebaran manusia modern dari daratan Asia Tenggara pada periode Holocene masih perlu dianalisis lebih mendalam. Semenanjung Melayu terhubung dengan daratan Asia Tenggara melalui sebuah daratan sempit memanjang yang dikenal dengan tanah genting Kra. Meskipun demikian, Semenanjung Melayu dipandang secara genetik dan budaya berkerabat dekat dengan kepulauan Asia Tenggara, sementara bagian utara Semenanjung Melayu secara genetik dan budaya lebih berkerabat dengan China, walau bahasa induk kedua bagian daratan Asia Tenggara tersebut didominasi rumpun bahasa Austroasiatik. Para periode Pleistocene Akhir menjelang Awal Holocene, relasi antara populasi Indo-China, Semenanjung Melayu dan Kepulauan Asia Tenggara secara geografis dan genetik lebih dekat dibandingkan saat ini, hal ini dikarenakan pada dasarnya ketiga wilayah tersebut merupakan bagian dari anak benua Asia (yang dikenal dengan paparan Sunda). Semenanjung Melayu menyatu dengan Sumatra sampai setidaknya 8500 tahun yang lalu, dan populasi Indo-China akan dengan mudah melenggang sepanjang Vietnam selatan menuju bagian timur Malaysia tanpa harus menyeberangi Teluk Bangkok, yang dulunya adalah danau purba. Situasi tersebut tidak hanya menyediakan jembatan darat antara daratan dan kepulauan Asia Tenggara, namun menyatukan kedua wilayah geografis tersebut secara populasi dan budaya. Kondisi ini berimplikasi menjadi jalur migrasi dari-utara-ke-selatan dan juga berimplikasi pada dimulainya periode Neolitik antara kedua wilayah, yang bisa jadi telah dimulai jauh sebelum periode tersebut.

Setidaknya ada dua hipotesis yang saling beradu skenario dalam menentukan  asal-usul dan sejarah migrasi penutur Austroasiatik. Pertama, garis maternal (mtDNA) dengan mudah bisa membedakan penutur Munda dan Mon-Khmer, karena keduanya sangat sedikit sharing garis maternal yang sama. Kedua, garis paternal (Y-chromosome, NRY), mengindikasikan Munda dan Mon-Khmer memiliki garis paternal yang sama, yaitu O2a1-M95 (India dan Indo-China sharing 66%; Indonesia dan Indo-China sharing 56%). Namun berdasarkan keragaman genetiknya, garis paternal O2a1-M95 berasal dari populasi penutur Daic di Indo-China sekitar 20-40 kya, kemudian migrasi ke selatan melalui Thailand setelah LGM (~16 kya, ke Semenanjung Melayu dan kepulauan Indonesia), kemudian menuju ke barat (~10 kya, India). Namun, migrasi ke India dari Asia Tenggara hanya melibatkan populasi pria, jika melihat komposisi uniparental markers dari populasi India penutur Austroasiatik (Chaubey et al. 2011). Pertanyaan penting sekarang adalah, dimana tepatnya lokasi O2a1-M95 penutur Austroasiatik muncul, dan kapan mulai menyebar ke Asia Tenggara dan Selatan?

Dari data genetika, hunian prasejarah di kepulauan Asia Tenggara menunjukkan bahwa keragaman garis maternal (mtDNA) cukup tinggi dan meliputi haplogroup unik dalam jumlah yang cukup besar. Banyak dari haplogroup tersebut berumur sampai 50 ribu tahun (kya), namun mayoritas baru menyebar pada Pleistocene Akhir (11,5 kya) sampai Awal Holocene (9,5 kya), mungkin disebabkan karena mulai naiknya muka laut saat LGM berakhir. Proporsi yang cukup substansial dari sebaran tersebut terdapat garis keturunan dari haplogroup asli Sundaland, yang lahir saat muka laut naik pada pra-Holocene sampai Awal Holocene. Dan, terdapat juga interaksi genetik yang cukup substansial antara Filipina dan Taiwan, namun kontra dengan model arkeologi yang menjadi konsensus berdasarkan filogeni linguistik Austronesia, sebagian besar aliran genetik adalah dari arah selatan (Filipina/Indonesia) menuju ke utara (Taiwan) pada Awal Holocene (baca Hill et al. 2007; Soares et al. 2008). Sedangkan aliran genetik yang menuju kepulauan Asia Tenggara, yang sebagian besar dari Indo-China, melalui jembatan darat yang menghubungkan Indo-Chia dengan paparan Sunda, sebagian menuju Borneo, dan sebagian lagi menuju Semenanjung Melayu. Di daratan Asia Tenggara sendiri terdiri dari Indo-China, yang secara genetik, budaya dan linguistik memperlihatkan kompleksitas yang cukup penting, baik prasejarah maupun masa sejarah. Keragaman genetik masih akan membutuhkan waktu sampai bisa diungkap relasi filogeografiknya dalam konteks arah dan waktu sebaran pada periode 10-20 kya. Namun, secara umum, garis keturunan maternal daratan Asia Tenggara merupakan garis keturunan populasi lokal sebelum periode Holocene.

Populasi Semenanjung Melayu lebih mudah dianalisis secara genetik karena merupakan salah satu populasi tertua, dan tidak terlalu rumit secara etnis, serta merupakan populasi yang mudah dibedakan secara fisik dan genetik. Pada satu sisi, terdapat tiga kelompok besar populasi modern Semenanjung Melayu saat ini: China, Asia Selatan Selatan yang merupakan pendatang pada awal abad ke-20, dan kelompok terbesar adalah penduduk asli pesisir semenanjung, orang Melayu. Populasi Melayu, berdasarkan pandangan arkeolinguistik, diduga merupakan bagian dari para petani dari kepulauan Asia Tenggara yang datang pada akhir periode Holocene, meskipun secara variasi genetik regional mengindikasikan masih adanya keragaman pribumi dan sisa-sisa genetik lokal serta sedikit pengaruh migrasi Neolitik dari Indo-China.

Di sisi lain, terdapat juga tiga kelompok Orang Asli: Semang, Senoi dan proto Melayu, yang keberadaannya bisa ditelusuri sampai mungkin lebih dari 50 kya. Orang Asli merupakan kelompok minoritas di Semenanjung Melayu (hanya 0,5% dari populasi yang ada), sebagian besar merupakan penutur Aslian, bagian dari rumpun bahasa Austroasiatik, dan hidup terpencil di dataran tinggi bagian tengah semenanjung. Kondisi ini memungkinkan populasi Orang Asli mengalami bottleneck (populasi yang terisolasi mengalami penurunan jumlah yang sangat tajam) dan rambang genetik atau genetic drift (penurunan keragaman genetik karena populasi tersebut mengalami bottleneck) dan masih mewarisi polimorfisme lokal dalam frekuensi cukup tinggi namun relatif rendah keragaman genetiknya, dan hal ini cukup untuk membedakan mereka dari populasi lain di sekitarnya.

Tabel dari Tarmiji Masron, Fujimaki Masami, dan Norhasimah Ismail

Tabel dari Tarmiji Masron, Fujimaki Masami, dan Norhasimah Ismail

Perbedaan tersebut bisa dilihat secara fitur fisik/morfologi, seperti halnya perbedaan gaya hidup dan anak bahasa yang digunakan, sehingga memperlihatkan garis keturunan prasejarah yang berbeda, yang sangat mungkin melibatkan intrusi/masuknya aliran genetik dari luar. Untuk merekonstruksi intrusi dari luar pada periode Holocene tersebut, salah satunya adalah menelusuri jejak garis maternal yang mungkin berasal dari populasi Indo-China dan Semenanjung Melayu.

Kita menengok sebentar dari kacamata arkeologi…

Bukti arkeologi terkait transisi dari pemburu-peramu ke cocok tanam padi dan jawawut terjadi di sekitar Sungai Yang-tze dan Sungai Kuning. Bahkan padi telah menjadi sumber penghidupan kelompok pemburu-peramu setidaknya 7.5 kya. Satu milenia kemudian, di situs Tianluoshan (6.9-6.6 kya)  ditemukan padi menjadi tanaman pangan penting mengalahkan tanaman lainnya seperti buah-buahan. Hanya di budaya Liangzhu (5.2-4.3 kya) padi menjadi sumber penghidupan dominan karena pertumbuhan populasi yang sepertinya tidak teratasi dengan sumber penghidupan hanya berburu. Fuller et al. (2010) adalah yang mengikuti secara cermat jejak pergerakan para petani tersebut, dan menemukan pergerakan mereka dari utara ke selatan (ke arah Asia Tenggara) setidaknya 5-4 kya. Pada periode tersebut tradisi yang ditemukan seperti keramik bermotif, cara penguburan yang berbeda dari budaya Hoabinhian, penggunaan pasak beralur, dan keberadaan padi dan babi serta anjing piaraan. Perbedaan mendasar dengan populasi Hoabinhian adalah anjing piaraan.

Di Asia Tenggara sendiri, mudah untuk membedakan situs pemburu dan petani pendatang. Contoh paling mewakili adalah situs Ban Non Wat di Thailand. Temuan tembikar dengan motif yang sama ditemukan di bagian Thailand lainnya, Kamboja, Vietnam, sampai China Selatan, setidaknya berumur 8 kya. Pada situs Ban Non Wat terdapat kuburan yang sangat berbeda dengan kuburan petani Neolitik. Karena kedua kuburan berada dalam situs yang sama, maka interpretasi yang muncul adalah bahwa petani pendatang Neolitik berinteraksi atau berbaur dengan para pemburu lokal Ban Non Wat, tinggal memastikan apakah kedua rangka manusia beda budaya tersebut memiliki fitur fisik yang sama.

Situs Hoabinhian di daratan Asia Tenggara

Situs Hoabinhian di daratan Asia Tenggara

Penelitian tentang fitur fisik pada kedua budaya dilakukan di situs Man Bac, dengan hasil menyimpulkan bahwa populasi Man Bac mirip dengan populasi modern Lao, dan populasi prasejarah Weidun di lembah Yang-tze, dan Songze. Ini membuktikan adanya intrusi dari leluhur populasi China Selatan ke populasi modern Vietnam. Populasi Man Bac juga berbeda secara signifikan dengan populasi pemburu dari situs Con Co Ngua dan Bac Son, pribumi Andaman dan aborigin Australia. Situs tersebut juga terkait dengan pergerakan migran petani dari China selatan. mtDNA yang berhasil diekstrak oleh Shinoda (2010) menunjukkan bahwa di situs Man Bac terdeteksi beberapa garis maternal yang berasal dari wilayah sebelah utara (utamanya mtDNA F1a1, dan mungkin R9b dan N9a6), dan telah terjadi perkawinan dengan pemburu lokal.

Intrusi petani dari utara terbukti dengan temuan perkakas keramik di Jenderam Hilir, Malaysia, yang mirip sekali dengan yang ditemuan di hunian Neolitik di Thailand tengah (Ban Lum Khao). Hal ini menunjukkan bahwa petani pendatang bertemu dengan pemburu Hoabinhian di Jenderam Hilir, Malaysia barat.

 

Populasi Semenanjung Melayu

Negrito Semang, (istilah negrito biasanya diartikan sebagai ‘negro kecil’, postur populasi berkulit hitam namun lebih pendek. Diuraian berikutnya Semang dan Negrito bisa saling menggantikan), secara umum merupakan populasi Orang Asli yang tidak banyak berubah dalam konteks morfologi (tengkorak dan gigi) dan budaya (pemburu peramu berpindah-pindah) sejak menghuni Semenanjung Melayu. Senoi, tidak berpindah-pindah, mulai menanam padi di pegununggan atau dataran tinggi, dengan fitur fisik masih nampak transisi dari negrito menuju Mongoloid. Dan perbedaan paling jelas antara keduanya adalah dari data genetika, yang menunjukkan bahwa Semang dan Senoi memiliki leluhur pribumi yang sama, namun leluhur Senoi mengalami admixture dari populasi lain selain Orang Asli, khususnya dari Indo-China. Perbedaan yang ada tersebut juga tercermin dalam bahasa Aslian, bagian dari rumpun bahasa Austroasiatik (bahasa populasi Indo-China). Secara umum semuanya bagian dari Austroasiatik, dan dibagi menjadi Aslian Utara (Semang) dan Aslian Tengah (Senoi). Namun analogi tersebut relatif.

Tidak seperti Semang atau Senoi, populasi Proto Melayu adalah populasi yang penghidupannya berkebun. Sebagian besar menanam tanaman umbi-umbian, mungkin mendahului cocok tanam padi dari daratan Asia Tenggara, dan mereka hidup di bagian selatan Semenanjung Melayu. Mereka merupakan penutur beberapa bahasa berdasarkan lokasinya. Di ujung selatan mereka hanya berbahasa Melayu, dan di bagian utara mereka berbahasa Aslian Selatan, seperti populasi Semelai.

Mari kita terlusuri prasejarah Melayu…

Migrasi Holocene dari daratan Asia Tenggara ke Semenanjung Melayu dan dampaknya terhadap Orang Asli bisa dianalisis secara multidisiplin dengan bukti-bukti arkeologi, linguistik, antropologi, etnografi, oceanografi dan genetika. Namun, perlu kehati-hatian dalam melakukan analisis multidisiplin, karena sering kali menimbulkan ketidaksesuaian antar disiplin yang berujung ketidakkonsistenan dan jalan buntu. Dan dalam disiplin genetika, perlu dicatat bahwa dalam mengungkap migrasi masa lampau, para peneliti sering mempergunakan data populasi masa kini, dengan metode statistik untuk mengekstrapolasi kecenderungan data yang dianalisis. Namun dengan pendekatan mencari mutasi unik yang diwarisi, kita bisa mengetahui apakah populasi-populasi tersebut secara genetik memiliki kekerabatan, dan seperti apa keragaman genetiknya. Percabangan garis keturunan ditentukan oleh mutasi unik tersebut, dan digunakan untuk merekonstruksi pohon kekerabatan genetika populasi.

Struktur genetika populasi Melayu bisa ditelusuri dengan beberapa metode…

Berdasarkan komponen utama yang terdapat pada suatu populasi, analisis PCA (principal component analysis) digunakan untuk melihat kedekatan genetik secara umum. Dari analisis PCA menunjukkan populasi Orang Asli lebih berjarak dari populasi India. Percampuran antara Orang Asli (Jahai) juga bisa terlihat dari kecenderungan naiknya komponen yang dimiliki populasi Melayu/Temuan/Bidayuh/China.

pca-orang-asli

Kemudian perbedaan Temuan dan Bidayuh bisa terlihat jika komponen yang mendominasi Semang, India dan Taiwan dihilangkan. Kemudian Temuan dan Bidayuh juga bisa dibedakan dari populasi Melayu dan China. Hal ini menunjukkan bahwa populasi proto Melayu Temuan merupakan populasi substruktur.

pca-temuan-bidayuh

Untuk menginvestigasi lebih lanjut tentang ada/tidaknya admixure dan struktur populasi di Semenanjung Melayu, dipakai analisis STRUKTURE. Pada awalnya, populasi terbagi hanya komponen Jahai & Kensiu dan komponen populasi lainnya (gambar di bawah). Pada k=6 Anda bisa melihat populasi Kensiu relatif tidak mendapatkan aliran genetik dari populasi lain seperti populasi Jehai. Pada k=4 komponen China dan Taiwan mulai muncul, pada k=5 komponen Temuan terdeteksi, dan pada k=6 perpisahan antara Jahai dan Kensiu. Pada k=6 terdapat enam komponen Jahai, Kensiu, India, Temuan, Bidayuh, dan China, yang bisa Anda bedakan satu sama lain, dan menjadi komponen utama dari masing-masing populasi. Peristiwa admixture sepertinya menjadi fitur paling dominan berdasarkan analisis STRUCTURE k=6.

struktur-orang-asli

Jika menggunakan metode lain, seperti frappe seharusnya tidak memberikan hasil yang jauh berbeda, meskipun komponen baru Jahai & Kensiu muncul pada k=5. Komponen penutur Austronesia, atau lebih tepat Malayo-Polynesia, terdeteksi paling tinggi pada populasi Bidayuh (74%), disusul Temuan, Melayu dan populasi China 20% (sharing komponen antara populasi China dan Bidayuh). Tiga populasi Melayu memiliki komponen yang mirip, dengan kontribusi China (45%), Austronesia (25%) dan India (15%). Admixture yang terjadi pada populasi Melayu Singapura terlihat dalam STRUKTURE. Hasil PCA dan STRUCTURE terdapat kesesuaian jika Anda perhatikan dengan seksama.

frappe-populasi-orang-asli

Relasi antara populasi Asia Tenggara

relasi-populasi-asia-tenggara

Pada gambar A, Anda bisa melihat populasi Orang Asli terpisah dari populasi lainnya (Asia Tenggara) berdasarkan komponen PC1, sedangkan berdasarkan PC2 populasi Melanesia, Nusa Tenggara (Alor, Sumba, Flores) dan negrito Filipina terpisah dari populasi lainnya. Mayoritas populasi penutur Austronesia dengan pengecualian Nusa Tenggara dan Filipina (Iraya dan Manobo) nampak membentuk satu kluster dengan populasi Thai. Pengecualian lainnya, populasi Mlabri dari Thailand nampak sebagai populasi paminggir (di luar), karena pada kenyataan mereka adalah populasi yang terisolasi. Untuk melihat relasi antara populasi Austronesia dan Thailand, lihat gambar B, pada PC1 Anda bisa melihat terpisahnya populasi dengan perbedaan timur-barat dengan pribumi Taiwan dan Filipina berada pada salah satu ujung (timur), sedangkan Thai, Malaysia Barat, Jawa pada ujung barat. Berdasarkan PC2 Anda bisa melihat Thai terpisah dari populasi Austronesia yang lain, sedangkan Temuan dan Bidayuh membentuk kluster masing-masing menjauhi Mlabri.

Yang bisa kita ambil dari analisis di atas adalah bahwa populasi Melayu (Melayu Kelantan, Melayu Minang dan Melayu Singapura) saling berkerabat dekat dengan komponen China (45%), Austronesia (30%), dan India (18%). Jika kita lihat kembali hasil HUGO Pan-Asian Consortium, populasi Melayu (Melayu, Batak Toba dan Batak Karo) memiliki komponen India dengan proporsi yang hampir sama dengan populasi Melayu dari Malaysia dan Singapura. Ini menunjukkan bahwa populasi Melayu di Semenanjung Melayu saat ini berasal dari Sumatra dan terjadi percampuran dengan populasi keturunan India terjadi sebelum perpisahan antara populasi Melayu di Sumatra dan populasi Melayu di Semenanjung Melayu. Skenario alternatif adalah populasi Sumatra dan Semenanjung Melayu mewarisi keturunan yang sama dari populasi India. Dari bukti lingustik, arkeologi dan catatan sejarah, sepertinya lebih mengindikasikan bahwa populasi Melayu berasal dari populasi Sumatra, migran pada masa sejarah. Sedangkan aliran genetik dari Melayu dan India tidak bisa dihindari terjadi berkelanjutan selama setidaknya 1000 tahun terakhir.

Meskipun secara historis populasi Orang Asli merupakan populasi yang terisolasi, dan jarang berinteraksi dengan populasi lainnya, berdasarkan PCA Anda bisa melihat gradien admixture yang menandakan terjadi aliran genetik di antara mereka. Siapakah populasi yang intrusif pada populasi Orang Asli, dugaan utama adalah populasi Melayu, karena kontinuitas mereka berada di Semenanjung Melayu. Sedangkan populasi China dan India yang berada di Singapura dan Malaysia, nampak mendekati kluster populasi dengan keturunan India maupun China Selatan, sesuai dengan catatan sejarah.

Lihat kembali PCA yang menempatkan populasi Orang Asli sebagai populasi unik dibandingkan populasi Asia Tenggara lainnya (gambar A), bahkan komponen Orang Asli berbeda dengan Negrito Filipina, sedangkan Negrito Filipina lebih dekat dengan populasi penutur Austronesia (Iraya dan Manobo), menunjukkan peristiwa admixture yang lebih intensif dibandingkan populasi Orang Asli. Sedangkan pada gambar B, substruktur populasi penutur Austronesia lebih menggambarkan berdasarkan letak geografis. Yang berada di sebelah timur Wallace’s Line (Taiwan, Filipina, Sulawesi) afinitias genetik lebih dekat satu sama lain, sementara populasi di sebelah Barat (Malaysia, Sumatra, Jawa dan Borneo) lebih dekat satu sama lain (pada dasarnya populasi paparan Sunda).

Populasi Orang Asli memiliki substruktur tersendiri yang sedikit banyak terpengaruh oleh populasi di sekitarnya. Karena itu, populasi campuran harus diperhatikan dalam analisis genetika populasi. Jika tidak akan mengacaukan analisis jarak genetik antar populasi. Pengklusteran populasi ini membantu mengungkap sejarah migrasi suatu populasi, khususnya populasi pribumi yang asal-usulnya masih sumir. Lebih penting lagi, admixture dan struktur populasi dalam suatu populasi harus menjadi perhitungan, khususnya keberadaan populasi yang terstratifikasi bisa menimbulkan hasil yang kurang akurat.

Bagaimana dengan substruktur populasi Orang Asli dengan ADMIXTURE?

Kali ini kita lihat juga relasi Orang Asli (Semang: Jehai, Bateq, Kintaq, and Mendriq) dengan populasi Oceania. Pada PC1 Anda bisa membedakan antara populasi Eurasia bagian selatan dengan populasi yang berada di sebelah timur India. Sedangkan PC2, populasi Onge dan Jarawa, membentuk kluster tersendiri (komponen 2 tertinggi) dan menjauhi populasi lainnya. Namun demikian, keduanya nampak lebih dekat dengan populasi Papua dan Melanesia. Sedangkan Orang Asli, meskipun mendekat Asia Timur, ada tendensi mendekati subgrup populasi negrito di Oceania dan kepulauan Andaman. Senoi (MahMeri dan CheWong) dan Proto Melayu (Temuan, Seletar, Jakun) serta Melayu dari Singapura berada di antara kluster Orang Asli dan Asia Timur, mengindikasikan bahwa kelompok tersebut bisa jadi merupakan populasi campuran antara populasi Orang Asli dan populasi dengan keturunan Asia Timur. Namun demikian, kelompok Senoi dan Proto Melayu berdekatan berdasarkan PC4 (sharing komponen ke4) sehingga bisa diduga memiliki leluhur yang sama.

agakhanian-2015-pca

Populasi Bateq, Jahai, Kintaq dan Mendriq membentuk clade tersendiri dalam pohon kekerabatan, sedangkan Senoi dan Proto Melayu berada dalam cabang yang berbeda-beda. Cabang paling panjang pada Bateq, Jahai, Kintaq, CheWong, Seletar dan MahMeri menunjukkan terjadi drift yang kuat. Menariknya Seletar berada di antara Semang dan Oceania. Di pohon kekerabatan juga memperlihatkan afinitas genetik antara populasi Andaman dan Oceania.

pohon-orang-asli

Untuk menentukan komponen leluhur yang membentuk arsitektur genetik Orang Asli, analisis ADMIXTURE membantu dengan asumsi yang masuk akal. Pada k=2 Anda bisa melihat komponen terkait Eurasia selatan (merah) dan Asia Timur (kuning), dan komponen dari Asia Timur menjadi komponen utama di semua populasi Orang Asli. Anda boleh menginterpretasikan pada k=2, populasi Asia Timur sudah bisa dibedakan dari populasi Eurasia selatan (dalam kasus ini termasuk Eurasia Barat). Artinya, leluhur populasi Orang Asli tidak memiliki komponen Eurasia selatan (dan barat), pada dasarnya mengalami diferensiasi setelah memisahkan diri dari proto Eurasia. Dari k=3, populasi Andaman mulai memiliki komponen sendiri (merah muda), yang terdeteksi juga di Oceania dan hanya sedikit pada populasi Orang Asli. Pada k=2, populasi Andaman merupakan campuran dari Asia Timur dan Eurasia Selatan. Pada k=4 dan k=5, komponen unik populasi Semang (hijau tua) dan Oceania (biru tua) muncul. Pada k=4, agak janggal ketika populasi Papua merupakan campuran dari leluhur populasi Andaman dan sedikit dari Asia Timur (dalam kasus ini kemungkinan China Selatan kuno). Dan seterusnya…

Dari analisis ini, setidaknya ada 9 komponen leluhur yang menjadi arsitek sekitar 40 populasi yang diteliti. Pada k=9, semua populasi Negrito (Batek, Jahai, Kintaq, Mendriq) memperlihatkan komponen leluhur yang sama. Sedangkan Mendriq menerima komponen lain dalam jumlah kecil (kuning dan ungu). Kita bisa mengetahui komponen dari mana setelah kita melihat uniparental markers dari populasi Mendriq (atau setidaknya akan terlihat pada garis maternalnya). (Lihat peta genetik terupdate dari Forgotten Motherland) Sebaiknya biarkan peta tersebut terbuka karena Anda akan bolak-balik melihat peta tersebut.

agakhanian-2015-admixture

Pada k=9 pada populasi Senoi terdapat 2 komponen leluhur yang berbeda. Komponen Ungu tertinggi terdeteksi pada populasi MahMeri (Besisi), namun terdeteksi juga pada populasi Proto Melayu dan Melayu. Sedangkan populasi CheWong memiliki komponen MahMeri, Negrito, dan Asia Timur. Pada k=11 populasi CheWong mulai berbeda.

Pola pada populasi Proto Melayu juga terlihat berbeda. Pada k=9, Jakun dan Temuan memiliki komponen leluhur yang mirip, namun ada komponen unik yang substansial yang hanya terdeteksi pada populasi Seletar di k=6. Komponen unik ini akan makin jelas setelah kita lihat garis maternal yang mendominasi Seletar (mtDNA N9a6 71,4%, garis maternal ini berasal dari daratan Asia Tenggara, khususnya dari Vietnam melalui Thailand karena root haplotype hanya terdeteksi di sana. Migrasi setidaknya 5500 tahun yang lalu berdasarkan Hill et al. 2007).

Aliran genetik antar populasi juga bisa dianalisis menggunakan TreeMix. Anda bisa melihat populasi Asia Tenggara menjauhi Eurasia selatan, dan garis keturunan Onge & Jarawa serta Papua dan Melanesia memisahkan diri terlebih dahulu (karena mengalami drift) membentuk kluster sendiri. Populasi Negrito migrasi dari root garis leluhur Onge, dan migrasi dari root Bateq & Jahai ke CheWong.

agakhanian-treemix

Aliran genetik biasanya dideteksi dengan analisis Dstats, seberapa signifikan aliran genetik antara pribumi Andaman dan Negrito, namun tidak terdeteksi aliran tersebut di populasi Senoi atau Proto Melayu. Hal ini tidak bisa disimpulkan bahwa aliran genetik awal terjadi sebelum Senoi dan Proto Melayu sampai di Semenanjung Melayu. Bisa saja skenario lain yang terjadi (statistik bisa mengaburkan peristiwa yang sebenarnya). Aliran genetik lain yang terdeteksi adalah antara populasi Negrito, Senoi dan proto Melayu. Admixture juga terdeteksi pada populasi Orang Asli penutur Austroasiatik dengan populasi daratan Asia Tenggara dan populasi dari China Selatan (Lahu dan Daic).

Untuk mengetahui isolasi genetik dan admixture antara populasi Orang Asli, biasanya dilakukan penghitungan berkurangnya linkage disequilibrium. Pengurangan LD bisa disebabkan drift, admixture dan inbreeding (perkawinan sedarah). Populasi Orang Asli mengalami pengurangan LD yang sangat tinggi, jadi memang mereka terisolasi (drift) dengan admixture yang proporsional. Sehingga umur populasi Orang Asli akan terlihat muda karena drift tersebut. Karena itu peneliti mulai mengestimasi umur perkawinan antar populasi berdasarkan data tersebut, dan didapat bahwa admixture antara Negrito dan Senoi sekitar 40 generasi (1000-1200 tahun yang lalu), lebih tua dari admixture Negrito/Proto Melayu dan Senoi/Proto Melayu yang hanya 20 generasi yang lalu (500-600 tahun yang lalu).

Dari uraian di atas, terdapat relasi antara pribumi Andaman, Negrito dan Australo-Melanesia, sesuai dengan penelitian-penelitian terdahulu. Yang membedakan Orang Asli dengan populasi di sekitarnya adalah mereka mengalami drift yang terlalu lama. Berada pada kondisi terisolasi terlalu lama bisa menyebabkan terjadinya diferensiasi populasi, seperti yang terlihat pada komponen hijau tua (Batek, Jahai, Kintaq dan Mendriq) yang juga menyebar ke populasi Asia Tenggara dan China Selatan. Mendriq di sisi lain, juga mewarisi komponen dari Asia Timur dan Senoi, namun terjadi dalam masa sejarah, dugaan kuat adalah populasi Melayu di Semenanjung Melayu. Fenomena yang sama terlihat pada populasi Jahai.

Kedekatan Senoi dan Proto Melayu dengan populasi Asia Timur bisa jadi karena sebagain dari mereka memiliki leluhur yang sama. Karena uniparental markers tidak selalu menunjukkan terjadinya aliran genetik. Ada beberapa garis maternal relik yang dimiliki populasi Senoi, proto Melayu dan populasi Asia Timur. Sementara itu, untuk Seletar dan CheWong, komponen leluhur yang muncul pada k=6 populasi Seletar memiliki afinitas dengan populasi Oceania (mungkinkah garis maternal E1b? 19%). Namun perlu data antropologi tentang asal-usul populasi Seletar dan interaksinya dengan populasi di sekitarnya. Mungkinkah mereka adalah sisa-sisa populasi Orang Laut yang menghuni kepulauan Riau? Mungkinkah mereka mengalami bottleneck, mengingat LD yang cukup panjang. Keragaman mtDNA yang rendah juga menjadi indikasi populasi Seletar mengalami bottleneck. Untuk populasi CheWong, nampak seperti jembatan antara populasi Negrito dan Senoi, karena pada k=11 leluhur mereka mengalami satu atau lebih admixture, kemudian terisolasi dari populasi pendahulu sebelum admixture terjadi. Faktor yang mendukung adalah, tradisi CheWong mirip dengan Senoi dibandingkan Negrito, sementara bahasa CheWong adalah Aslian utara (mirip dialek Negrito). Secara fisik, fenotip mereka berada di antara Negrito dan Senoi. Ini bisa menjawab perdebatan antropologis tentang kenapa sebagian populasi Negrito tidak mengalami perubahan berarti dalam konteks fitur fisik.

Populasi Negrito dalam jumlah kecil dan terisolasi bisa mengakibatkan fitur fisik mereka terjaga. Sejak terpisah dari populasi sekitarnya, populasi Negrito menjaga jumlah populasi dengan sistem sosial mereka sendiri. Meskipun sekarang dilarang, tidak menutup kemungkinan perkawinan dengan saudara kandung atau sepupu dekat terjadi di masa lalu. Karena tingginya ROH (runs of homozygosity, area dalam genom manusia dimana materi genetik yang diwarisi dari kedua orang tua kita – identik) pada populasi Orang Asli, skenario yang menjelaskan selain drift dan terisolasi, adalah perkawinan sedarah, tradisi yang sama dilakukan oleh populasi Afrika terutama Khoi-San. Sedangkan ROH di Seletar bisa jadi karena bottleneck. Proto Melayu lainnya memiliki ROH yang lebih pendek dan lebih sedikit. LD yang tinggi pada Orang Asli adalah karena mereka terisolasi.

Waktu divergensi populasi Negrito sesuai dengan temuan arkeologi yang terkait dengan budaya Hoabinhian dari daratan Asia Tenggara. Sebagian pemburu Hoabinhian migrasi ke arah selatan yang pada akhirnya bertemu dengan populasi Negrito di bagian utara Semenanjung Melayu. Situs Hoabinhian di Kedah dan Perak yang memiliki artefak mirip dengan situs Hoabinhian di Thailand bagian tengah (Ban Khao), namun sedikit sekali bukti interaksi antara dua populasi yang berbeda tersebut (karena belum ada bukti konkrit). Populasi Hoabinhian yang berinteraksi dengan populasi Negrito melahirnya populasi Senoi, yang mempraktikkan cocok tanam di dataran tinggi, dan memperkenalkan bahasa Austroasiatik ke populasi Negrito. Pertemuan ini diestimasi sekitar 30-10 kya, namun lebih mendekati puncak glasiasi, ketika paparan Sunda terekspos maksimal (21-19 kya). Perbedaan waktu admixture antara Negrito-Senoi dengan Negrito-Proto Melayu bisa terjadi karena leluhur Senoi dari utara datang lebih dahulu (leluhur mtDNA F1a1a) dibandingkan leluhur Proto Melayu dari utara (yang kemungkinan besar adalah mtDNA R9b). Mengingat Proto Melayu juga mengalami intrusi dari selatan, maka waktu admixture bisa saja tidak jauh bedanya. Konflik ini masih perlu solusi, lain waktu kita telusuri.

Karena itu, meskipun secara genetik populasi Orang Asli berbeda, mereka merupakan masih kerabat dekat. Secara genetik dan fenotip, populasi Negrito memang berbeda, dan leluhur mereka berkontribusi secara signifikan komponen genetik pada populasi sekitarnya selama periode Pleistocene. Analisis di atas juga memperjelas migrasi gelombang ketiga, penutur Austroasiatik ke kepulauan Indonesia (30-10 kya, ke Aceh dan Sumatra Utara, dan sebagian ke Borneo), setelah migrasi populasi Australo-Melanesia meninggalkan Sundaland ~40 kya (gelombang kedua).

Photo from Official Website of Nicobar

Photo from Official Website of Nicobar

Untuk memperkuat dugaan keterkaitan penutur Austroasiatik dari Indo-China dengan uniparental markers yang terdeteksi pada populasi Semenanjung Melayu, maka contoh paling nyata adalah populasi kepulauan Nicobar (lihat lagi peta di Forgotten Motherland). Populasi kepulauan Nicobar berbahasa Austroasiatik, garis paternal didominasi Y-DNA O-M95, dan garis maternal didominasi B5a serta F1a1a. Garis maternal intrusif yang mendominasi proto Melayu (R9b) tidak terdeteksi di Nicobar. Bisa dipastikan bahwa populasi Indo-China yang sampai ke Nicobar merupakan bagian dari populasi Hoabinhian yang menuju Semenanjung Melayu. Anda juga akan terkejut dengan populasi yang menghuni Andaman Besar, mereka didominasi populasi campuran India dan Asia Timur/Myanmar. Dari gambar di bawah, Anda bisa melihat adanya sharing Y STR haplotype antara populasi Nicobar dengan beberapa populasi di Indo-China. Fakta ini tidak akan terdeteksi jika tidak melibatkan hampir semua populasi Indo-China.

Keragaman Y-chromosome penutur Austroasiatik

nicobar-o-m95

Network variasi Y-STR O-M95

network-y-str-haplotype-m95

Jadi, garis paternal yang merupakan intrusif dari utara adalah O-M95 (penanda genetik penutur Austro-asiatik), dan O-M119 (penanda genetik penutur proto Melayu). Sedangkan garis maternal dari utara adalah B5a, F1a1 dan keturunannya, R9b, dan kemungkinan N9a6.

Dua garis maternal intrusif dari Indo-China pada populasi Senoi, yaitu mtDNA F1a1 dan N9a6a, mulai ekspansi ke selatan diestimasi pada pertengahan Holocene (5.5 kya). Hal ini sesuai dengan hipotesis Hill et al. (2006) bahwa mereka merupakan keturunan dari campuran pemburu-peramu dengan petani yang sedang bergerak ke selatan dari Ban Khao (dan Khok Phanom Di) di Thailand tengah. Budaya Ban Khao bercirikan peladangan berpindah, tembikar bermotif untaian tali, perkakas kaki tiga, belanga beralas, kapak batu yang dipoles rapi, penebah kain kulit kayu, dan tradisi penguburan yang unik,  namun tidak semuanya berasal dari periode yang sama, dan mungkin dari beberapa tempat di sepanjang rute migrasi dari China Selatan menuju Ban Khao.

Namun, F1a1a dan N9a6a tidak berasal dari area di sekitar Ban Khao, karena sebagian besar berasal dari Semenanjung Indo-China bagian tenggara dan timur (Vietnam). Ketiadaan jejak garis keturunan F1a1a dan N9a6a sejauh tanah genting Kra, meskipun ditemukan jejak arkeologi budaya Ban Khao di sana, makin meyakinkan bahwa F1a1a dan N9a6a migrasi langsung dari Vietnam selatan ke Semenanjung Melayu, sampai kita menemukan bukti keberadaan garis keturunan tersebut di Thailand Selatan. Interpretasi yang lain adalah, tidak semua sample yang diteliti memiliki kedua garis maternal tersebut. Populasi terbaru tentang garis maternal Thailand dan Laos, mendeteksi F1a di bagian selatan Thailand, dan penelitian populasi Myanmar juga menghasilkan kesimpulan yang sama. Perbedaan yang ada adalah ketidakberadaan N9a6 di kedua wilayah tersebut. Mungkin penelitian lain akan menjawabnya. Jika bukan dari Ban Khao, budaya mana yang mungkin melalui jalur tersebut? Budaya Da But menjadi alternatif, sebaran dari Vietnam utara sampai selatan, Semenanjung Melayu dan kepulauan Asia Tenggara.

Garis maternal B5a menjadi kandidat kuat berasal dari Ban Khao dan Khok Phanom Di. B5a juga menjadi garis maternal ketiga yang intrusif pada populasi Batek dan Temiar, namun absen pada populasi Proto Melayu. Kontra dengan hal tersebut, B5a banyak terdeteksi pada populasi Melayu di pesisir pantai, dan dengan keragaman yang tinggi, garis maternal ini dipandang sebagai petani awal Neolitik yang menyebar ke arah selatan, terutama bagian barat Semenanjung Melayu. Garis maternal ini juga menjadi mayoritas populasi kepulauan Nicobar (di sebelah utara Aceh, di sebelah barat Semenanjung Melayu; migrasi dengan garis maternal O-M95 yang menjadi mayoritas di sana, penanda genetik penutur Austroasiatik).

Asosiasi antara B5a dan penyebar budaya Ban Khao adalah umurnya. Diskrepansi antara bukti arkeologi dan data genetika ini terutama karena muncul pada akhir LGM, dan sudah berada di Semenanjung Melayu 8.3-9.2 kya. Estimasi ini bisa saja mengandung error yang cukup tinggi, dengan konsekuensi bahwa para petani Thailand tersebut sudah migrasi ke selatan menyebarkan budaya Ban Khao yang identik dengan keramik dan alat batu yang dipoles. Sedangkan kuruban Neolitik di Gua Cha tidak memberikan bukti yang cukup adanya intrusi populasi dalam umur lapisan yang ada (3000 kya). Atau, mungkin saja para petani dari utara tersebut tidak migrasi ke pedalaman di pegunungan tengah, namun hanya daerah pesisir.

Spekulasi yang berkembang tentang umur B5a adalah adanya bukti domestikasi padi pertama kali terjadi di China 9000 tahun yang lalu. Namun masih ada beberapa perbedaan padangan tentang di mana padi pertama kali didomestikasi. Beberapa berpendapat, daerah domestikasi Oryza sativa indica adalah wilayah Thailand, Myanmar, dan India dan termasuk Semenanjung Melayu. Ada resonansi antara garis maternal dan pendapat tersebut, ditambah dengan wilayah domestikasi indica merupakan wilayah yang dihuni penutur Austro-asiatik.

Intrusi dari utara lainnya adalah R9b1-16288, dihipotesiskan berasal dari timur laut Indo-China pada awal Holocene (9 kya). Umur ini kontemporer dengan budaya Hoabinhian, Bac-Sonian (periode setelah Son Vi). Garis maternal R9b lebih sesuai dengan penyebar alat batu Hoanbinhian dan sumatraliths di Asia Tenggara, termasuk Vietnam, Laos, dan Semenanjung Melayu, namun tidak begitu banyak di Thailand dan Kamboja, dan absen di Vietnam Selatan. Tingginya R9b pada populasi Proto Melayu (Temuan dan Jakun) diduga berasal dari Vietnam, bisa dipandang sebagai pra-Hoabinhian, dan ada kemungkinan mengambil rute migrasi awal Neoltik yang sama dengan garis maternal F1a1a dan N9a6a.

Perlu dicatat, lebih dari 50% garis maternal Senoi merupakan intrusi dari utara, namun fitur fisik tidak terlalu terlihat pada populasi Senoi. Di sisi lain, intrusi dari Sunda ke Semang dan Senoi memiliki perbedaan dibandingkan intrusi dari utara ke populasi proto Melayu dan Melayu dalam konteks pengaruhnya terhadap fitur fisik.

Rekonstruksi arkeo-genetik menunjukkan intrusi Holocene ke Semenajung Melayu mirip dengan konsensus, bahwa:

  • M21, R21 dan M22 adalah populasi pribumi Semenanjung Melayu;
  • B5a merupakan populasi intrusif dari utara ke bagian barat Sundaland (bersama dengan M7b1);
  • N9a6 merupakan populasi intrusif dari utara ke pesisir timur Sundaland menyeberangi Teluk Bangkok (agak sulit menyeberangi Teluk Bangkon pada 5.5 kya, dimana muka laut sudah di atas permukaan saat ini, kecuali mereka menggunakan rakit sederhana);
  • F1a1a merupakan populasi intrusif dari utara ke pesisir timur Sundaland mengikuti aliran sungai Mekong, mengambil rute migrasi yang sama dengan N9a6, mereka tidak menuju Ban Khao atau Khok Phanom Di;
  • M7c3c merupakan populasi intrusif dari selatan (kepulauan Asia Tenggara) selama periode Holocene.
  • N21 dan N22 bukan populasi asli Semenanjung Melayu; kemungkinan besar berasal dari Sundaland.
  • B5b sudah menyebar sebelum Holocene.
  • R9b1-16288 mengambil rute migrasi yang sama dengan B5a dari Thailand Tengah, melalui tanah genting, dan kemudian berbaur dengan populasi proto Melayu.

Secara umum, populasi Melayu di Semenanjung Melayu mewarisi intrusi dari garis keturunan Indo-China ~ 25% (9 % B5a termasuk M7b1) yang tidak terdeteksi pada populasi Orang Asli. Garis maternal ini sepertinya menyebar pada awal Holocene, meninggalkan jejak sebaran budaya Hoabinhian, Bac-Sonian, dan Da But. Tapi jika terdeteksi B5a pada populasi Kensiu dan Temiar, besar kemungkinan admixture dengan populasi Melayu tidak lebih dari 40 generasi yang lalu.

Pertanyaan berikutnya: apakah R9b1-16288 pada populasi proto Melayu merupakan hortikulturalis penyebar budaya Hoabinhian? Kedua, apakah petani padi Melayu merupakan keturunan petani budaya Ban Kao, atau leluhur pendahulunya? Ketiga, apakah cocok tanam padi di bagian barat Indo-China sebelum pertengahan Holocene mengikuti sebaran B5a awal Holocene? Keempat, apakah ada perbedaan antara budaya cocok tanam di bagian timur Indo-China seperti Da But yang intrusif terhadap Orang Asli menggunakan beberapa jalur migrasi di pesisir timur Semenanjung Melayu pada pertengahan Holocene dibandingkan dengan sebaran N9a6a dan F1a1a?

Sekarang Anda bisa melihat garis maternal populasi Indonesia mana saja yang memiliki garis keturunan mtDNA B5a, F1a1, N9a6, R9b, M7b1, dan kemungkinan B5b, dengan melihat kembali peta di Forgotten Motherland.

Mari kita lihat secara garis besar, intrusi dari Indo-China ke populasi Indonesia, dari gambar berikut:

Deng et al. 2015

Deng et al. 2015

Komponen Southeast Asian 2 mendominasi Temuan, artinya mereka adalah populasi intrusif dari Indo-China, karena garis maternal yang mendominasi Temuan adalah R9b. Populasi Batak Toba dan Karo didominasi oleh komponen Southeast Asian 1, dalam hal ini dominasi garis paternal O-M119, sayang masih sulit mendeteksi garis maternal yang bergerak bersama O-M119. Populasi Nias dan Mentawai bisa membantu, karena garis maternal Y2a terdeteksi cukup dominan pada populasi Nias, dan Mentawai, Batak Toba, serta terdeteksi juga pada populasi Melayu di Kedah dan Perak. Jadi kemungkinan besar O-M119 bergerak bersama Y2a.

Jika Anda melakukan tes DNA, dan hasilnya kombinasi dari uniparental markers yang tadi dibahas, Anda akan tahu apakah Anda merupakan bagian dari garis keturunan intrusif dari Indo-China atau bukan. Anda tidak perlu panik jika memang iya, karena sejarah populasi Indonesia memang tidak bisa lepas dari populasi intrusif dari utara.

Semoga kita bisa menelusuri lebih detail lain waktu…

 

Happy New Year 2017, brace yourselves for incoming wave, an erosion of norms…

-DM

Iklan

One response to “Sejarah Populasi Indonesia Gelombang Ketiga

  1. Ping-balik: Salah Satu Garis Paternal Unik Penutur Austronesia | The Forgotten Motherland·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s