Manusia Xuchang dan Signifikansinya


xuchang-location

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat menyinggung peran Asia Timur dalam sejarah evolusi manusia. Dalam ulasan tersebut saya juga menyinggung tentang manusia Maba (130-300 kya) dan Xujiayao (104-125 kya) yang memiliki fitur Neandertals namun tidak pernah bisa dipastikan karena konsensus akademik sering menganggap remeh hasil penelitian di China. Sekarang konsensus akademik harus mengubah pandangan mereka dengan temuan fragmen tengkorak manusia Xuchang dari situs Lingjing di provinsi Henan, China bagian tengah.

Manusia arkaik awal Pleistocene Akhir Eurasia bagian timur tersebut diperkirakan berumur 105-125 kya berdasarkan umur lapisan ditemukannya fragmen tengkorak (Xuchang 1 dan Xuchang 2). Dalam lapisan tersebut juga ditemukan tulang-tulang hewan buruan seperti kuda, sapi liar, rusa raksasa seperti tungganggan raja elf Thranduil, sejenis badak yang telah punah, dan sejenis antelope. Hal ini pertanda juga bahwa manusia Xuchang merupakan pemburu yang cakap. Temuan tulang-tulang hewan yang sudah punah di situs Lingjing lebih mirip dengan temuan tulang hewan di situs Xujiayao, dibandingkan situs Zhoukoudian maupun Dingcun.

Kapasitas kranium manusia Xuchang cukup besar, 1800 cc, berada pada batas tertinggi kapasitas kranium Neandertal dan manusia modern, bahkan sedikit sekali manusia modern dengan kapasitas kranium sebesar itu. Fitur ini yang menempatkan manusia Xuchang sebagai manusia modern awal. Fitur yang menempatkan manusia Xuchang sebagai variasi Neandertal adalah tulang alis yang lebih menonjol, berbeda dengan Homo sapiens, dan bentuk unik tulang telinga dalam (labyrinth) yang juga merupakan fitur manusia Xujiayao.

Xuchang 1 (atas) Xuchang 2 (bawah)

Xuchang 1 (atas), Xuchang 2 (bawah)

Dari fitur-fitur yang dianalisis, peneliti berkesimpulan bahwa manusia Xuchang memiliki fitur ancestral (leluhur) yang mirip dengan manusia Eurasia bagian timur periode Pleistocene Tengah, derived (keturunan) yang mirip dengan manusia modern periode Pleistocene Akhir di Eurasia, dan Neandertal yang berbeda dari Neandertal di Eropa barat dan Asia barat (Levant). Kombinasi fitur yang sangat kompleks tersebut menyulitkan para peneliti menempatkan manusia Xuchang dalam pohon kekerabatan manusia. Beberapa berpendapat (terutama para ahli genetik bagian dari konsensus akademik) bahwa manusia Xuchang merupakan manusia misterius yang selama ini dikenal dengan sebutan Denisovan. Denisovan sendiri merupakan manusia purba kerabat dekat Neandertal yang hanya diketahui dari genetiknya, dan jejaknya yang masih diwarisi populasi Papua Nugini, aborigin Australia dan beberapa populasi Negrito di Filipina. Mengingat fitur Homo sapiens dimiliki manusia Xuchang, maka tidak terlalu penting memperdebatkan apakah manusia Xuchang merupakan spesies Denisovan atau bukan. Qiaomei Fu yang bertugas mengekstrak DNA ternyata juga tidak berhasil. Karena itu, kita harus lebih bersabar menunggu.

Mengenai fitur Homo sapiens dan manusia Eurasia periode Pleistocene Tengah menarik untuk dibedah lebih dalam. Adanya kecenderungan kontinuitas evolusi regional menurut peneliti China masih harus disikapi dengan hati-hati. Prof Erik Trinkaus, salah satu peneliti, juga tidak mau gegabah berspekulasi apakah manusia Xuchang merupakan garis keturunan dari Homo heidelbergensis (yang sering dianggap sebagai leluhur manusia modern dan Neandertal oleh konsensus akademik), atau keturunan Homo erectus Asia Timur seperti H. erectus pekinensis yang hidup semasa dengan H. heidelbergensis. Prof. Trinkaus juga salah satu ilmuwan yang mengusulkan hipotesis bahwa Homo sapiens dan Neandertals memiliki keturunan (hybrid). Hipotesisi tersebut berdasarkan pengamatannya terhadap beberapa bentuk tengkorak manusia dan hasil DNA mengkonfirmasi hipotesis tersebut. Anda tahu, manusia modern di Eropa, Asia Timur dan Oceania mewarisi materi genetik dari Neandertal.

“I have no idea what a Denisovan is. Neither does anybody else. It’s a DNA sequence.” – Erik Trinkaus

The features of these fossils reinforce a pattern of regional population continuity in eastern Eurasia, combined with shared long-terms trends in human biology and populational connections across Eurasia. They reinforce the unity and dynamic nature of human evolution leading up to modern human emergence.” – Erik Trinkaus

“The Xuchang humans lived between Peking Man (about 200,000 and 700,000 years ago) and early modern humans in north China (about 40,000 years ago), proving continuity of human evolution in north China. Xuchang 1 has features of early modern humans and was very likely a direct ancestor of modern northern Chinese.” – Zhan-Yang Li, peneliti utama

Eastern Asian late archaic humans have been interpreted to resemble their Neanderthal contemporaries to some degree. From these skulls came to light lots of important information that tells us not only where Chinese come from but an entire missing chapter in human evolution history. Its features are likely to be the result of crossbreeding between Eastern and Western human species.”  – Wu Xiujie, salah satu peneliti

Apakah temuan manusia Xuchang di atas signifikan terhadap sejarah evolusi manusia? Tentu, karena selama ini konsensus akademik menganggap bahwa manusia modern awal yang hidup sekitar MIS 5 merupakan garis evolusi yang punah, seperti ketika mereka menyimpulkan status manusia Qafzeh (Levant). Namun, beberapa waktu yang lalu, temuan jejak genetika manusia modern juga ditemukan pada Neandertal Altai.  Kontribusi genome manusia modern awal terdeteksi pada genome Neandertal Altai (Kuhlwilm et al. 2016), yang sekuensnya mirip dengan deep lineage yang ditemukan pada populasi Papua Nugini (Vernot & Akey 2016; Pagani et al. 2016). Hal ini mengkuatkan, bahwa populasi awal manusia modern sudah berada di Altai sekitar 100 kya, kemungkinan memiliki leluhur yang sama dengan populasi Papua Nugini, namun tidak memiliki leluhur yang sama dengan populasi tertua di Afrika, seperti populasi Khoi-San. Kemudian, sekuens ambigu yang terdeteksi pada populasi Papua Nugini, menambah bukti bahwa manusia modern awal masih mewariskan sekuens yang tidak dimiliki populasi Afrika saat ini. Besar kemungkinan, jika berhasil, manusia Xuchang juga akan memiliki sekuens ambigu tersebut. Fingers crossed.

Dengan bukti-bukti tersebut, maka tidak mengada-ada jika manusia modern proto-Eurasia tidak terkait dengan teori Out of Africa, karena manusia Xuchang lebih mendekati hybrid antara manusia arkaik Asia Timur dengan manusia modern awal Eurasia timur, yang diragukan berasal dari Afrika. Namun saya tidak bisa memastikan sampai ada hasil analisis DNA manusia arkaik Asia Timur. Meskipun Qiaomei Fu gagal mengekstrak DNA manusia Xuchang, namun dia masih akan menguji DNA manusia Xujiayao yang saya duga tidak akan berbeda dengan manusia Xuchang, mengingat keduanya hidup dalam periode yang tidak jauh berbeda dan lokasi yang berdekatan. Peran penting inilah yang membuat pemahaman sejarah evolusi manusia menjadi semakin menarik. Anda bisa bertaruh bahwa jika aDNA berhasil diesktrak, berpotensi membantu kita memahami di mana posisi manusia Xuchang dalam sejarah evolusi Homo sapiens.

Stay tune!

Pendapat ilmuwan:

“This is exactly what the DNA tells us when one tries to make sense of the Denisova discoveries.” –  Jean-Jacques Hublin palaeoantropolog dari Max Planck

“Millions of genetic samples from people living today all point to an African origin. The Neanderthals might have contributed one or two per cent to our genes, but the rest all came from Africa. The Xuchang skulls might represent a case of genetic exchange, but it may be just an accident, with little change to the overall trend of human evolution.” Professor Su Bing, Kunming Institute

“Unfortunately, the skulls lack teeth so we cannot make direct comparisons with the large teeth known from Denisova Cave, but another similarly-dated fossil from Xujiayao in China does have Neanderthal-like traits in the ear bones, like Xuchang, and does have large teeth, so these may all represent the same population. From genetic data, the Denisovans are believed to have split from the Neanderthal lineage about 400,000 years ago – about the time of the Sima de los Huesos early Neanderthals known from Atapuerca in Spain. So one might expect some level of Neanderthal features in their morphology, added to by evidence of some later interbreeding with the Neanderthals. We must hope that ancient DNA can be recovered from these fossils in order to test whether they are Denisovans, or a distinct lineage.” – Chris Stringer, penggagas teori Recent African Origins (RAO)

“The cranial remains show an intriguing combination of Neanderthal-like as well as archaic features. This would be the combination that one would expect based on the ancient DNA analysis of Denisovans, who were closely related to Neanderthals.” – Katerina Harvati

“The fossils certainly look like what many paleoanthropologists (myself included) imagine the Denisovans to look like. Unfortunately, however, it is not possible to infer skull morphology from ancient DNA directly.” – Phillip Gunz, antropolog dari Max Planck

 

Late Pleistocene archaic human crania from Xuchang, China

Abstract

Two early Late Pleistocene (~105,000- to 125,000-year-old) crania from Lingjing, Xuchang, China, exhibit a morphological mosaic with differences from and similarities to their western contemporaries. They share pan–Old World trends in encephalization and in supraorbital, neurocranial vault, and nuchal gracilization. They reflect eastern Eurasian ancestry in having low, sagittally flat, and inferiorly broad neurocrania. They share occipital (suprainiac and nuchal torus) and temporal labyrinthine (semicircular canal) morphology with the Neandertals. This morphological combination reflects Pleistocene human evolutionary patterns in general biology, as well as both regional continuity and interregional population dynamics.

Morphological mosaics in early Asian humans

Excavations in eastern Asia are yielding information on human evolution and migration. Li et al. analyzed two fossil human skulls from central China, dated to 100,000 to 130,000 years ago. The crania elucidate the pattern of human morphological evolution in eastern Eurasia. Some features are ancestral and similar to those of earlier eastern Eurasian humans, some are derived and shared with contemporaneous or later humans elsewhere, and some are closer to those of Neandertals. The analysis illuminates shared long-term trends in human adaptive biology and suggests the existence of interconnections between populations across Eurasia during the later Pleistocene.

Link

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s