Lost in Wallacea-wonderland


Which NRY haplogroups belong the Alfuros?

Selama setengah dekade terakhir mengikuti perkembangan penelitian sejarah evolusi manusia, baru tahun ini terasa sekali dinamika yang luar biasa.  Setidaknya, selama 10 tahun terakhir, narasi genetika populasi manusia telah mengalami revisi besar-besaran jika dibandingkan ketika konsensus akademik mendominasi dengan hipotesis bahwa semua manusia modern berasal dari Afrika. Ketika itu belum ada internet, saya belum kenal apa itu internet, Anda pun mungkin tidak tahu bahwa ada banyak penelitian tentang asal muasal manusia modern. Karena memang jurnal penelitian tersebut tidak banyak diketahui publik, alias hanya terbatas pada komunitas akademisi yang bisa mengaksesnya. Kalaupun pada saat ini kita memiliki akses untuk membaca hasil penelitian tersebut, kita tidak akan banyak mendapatkan realita seperti yang menjadi tujuan penelitian, yaitu memahami sejarah asal muasal manusia. Mengapa? Karena pada waktu dicetuskannya konsensus bahwa manusia modern berasal dari Afrika, penelitian tersebut didasarkan pada data populasi saat itu, atau populasi akhir abad ke-20, dan bukan didasarkan pada data populasi masa lampau sebagaimana mestinya. Sehingga, kesimpulan yang dihasilkan dibangun dari hipotesis dengan praduga yang kurang tepat, sehingga yang kita baca hanyalah asumsi para akadimisi.

Dan sepuluh tahun terkakhir telah memberi pelajaran yang sangat berharga, bahwa ternyata untuk benar-benar memahami sejarah manusia masa lampau, kita harus mendapatkan data genetika populasi manusia yang hidup di masa lampau. Meskipun demikian, untuk paham sejarah genetika populasi tertentu, kita harus menggunakan populasi yang tepat, sebagai proxy, untuk mendapatkan hasil analisis dengan persentase mendekati keakuratan lebih tinggi. Karena berkat teknik dan metode analisis genetika populasi mutakhir, kita juga bisa mengetahui apakah populasi tertentu merupakan populasi campuran dari berbagai garis keturunan, atau populasi pribumi di mana mereka hidup. Tapi bagaimana kita bisa membuat kesimpulan dari data masa lampau?

Sejak awal abad ke-21, para ahli genetika mulai memperbaiki teknik dan metode analisis DNA purba sehingga lebih mudah untuk merekonstruksi sejarah manusia masa lampau dan keterkaitannya dengan populasi saat ini, sama seperti ketika paleoantropolog merekonstruksi sejarah manusia purba berdasarkan bukti-bukti yang seringkali sangat terbatas: geligi semata, belulang belaka, seserpih tengkorak, atau paling banter perkakas tinggalan manusia purba yang memberikan sedikit sekali petunjuk, yang mau tidak mau harus dipakai untuk merekonstruksi kisah prasejarah manusia purba. Petunjuk sekecil apapun sangat penting karena peninggalan tersebut merupakan bagian dari leluhur manusia, yang terkait dengan kita semua melalui generasi demi generasi yang tak terhitung jumlahnya. Kita ingin tahu, perlu tahu, bagaimana kita menjadi seperti sekarang dan bagaimana kita di masa depan. Fosil-fosil dan perkakas purba yang ditemukan menghubungkan kita secara ragawi ke masa lampau sekaligus menantang kita untuk menafsirkan petunjuk-petunjuk tersebut sebagai cara memahami sifat dan jalur sejarah evolusi manusia modern.

Sekarang, kita bisa melakukan hal tersebut tanpa harus mencari dan menggali fosil dan perkakas manusia purba, karena dengan teknik teranyar, para ahli genetika sudah bisa mendeteksi keberadaan manusia purba hanya dengan menganalisis DNA yang terkandung dalam lapisan sedimen yang ada di hunian-hunian prasejarah yang diduga pernah menjadi kediaman leluhur manusia.

Perkembangan teknis dan metode analisis menunjukkan hasil yang signifikan ketika pada tahun 2007 para ahli genetika berhasil memetakan DNA Neandertals untuk pertama kalinya. Sejak saat itu, perkembangan analisis DNA purba mengalami perkembangan yang sangat signifikan, terutama ketika dibandingkan dengan analisis DNA manusia modern, dan terungkap bahwa apa yang kita dapat dari data genetika populasi manusia modern yang tidak menggambarkan realita yang ada tersebut, dikonfirmasi oleh data hasil analisis DNA purba baik manusia modern maupun manusia arkaik lainnya yang telah punah. Sejak saat itu pengetahuan kita tentang sejarah manusia modern, meskipun lambat karena keterbatasan sample fosil manusia purba yang bisa dianalisis, mulai memperlihatkan gambaran yang mendekati realita. Konsekuensi dari kemajuan penelitian genetika populasi adalah mulai munculnya pertanyaan-pertanyaan yang bertentangan dengan hasil konsensus akademik yang juga berdasarkan analisis DNA manusia modern. Walau tak jarang kita jumpai  banyak penelitian DNA purba yang masih mendukung kesimpulan konsensus akademik. Namun yang bisa kita cermati dari perdebatan panjang ini, kita bisa melihat konsensus akademik mulai menggeser paradigm lamanya, mulai dari manusia berasal dari Afrika dan menyebar ke seluruh dunia menggantikan manusia arkaik lokal, menjadi manusia berasal dari Afrika dan berasimilasi dengan manusia arkaik lokal dalam persebarannya ke seluruh penjuru dunia. Akan tiba saatnya konsensus akademik mulai mempertimbangkan bahwa yang terjadi adalah evolusi regional disertai hibridisasi dengan manusia arkaik.

Dan tahun 2017 adalah tahun yang sangat menarik khususnya perkembangan terbaru sejarah evolusi manusia modern. Beberapa temuan penting yang mulai membuat ‘gerah’ konsensus akademik mengenai asal-usul manusia modern dan kapan waktu sebaran manusia di Eurasia, dan mulai menggeser paradigma yang selama tiga dekade terakhir mendominasi narasi sejarah evolusi manusia modern.

Diawali dengan temuan manusia Jebel Irhoud (Maroko) yang dahulu diduga termasuk dalam taksa archaic Homo sapiens (manusia yang belum sepenuhnya modern secara anatomis karena beberapa ciri arkaik yang masih dimilikinya), bahkan sempat didapuk sebagai Neandertals berdasarkan bentuk dan morfologi tengkoraknya, diestimasi umurnya sekitar 315 ribu tahun, dan berada pada garis evolusi Homo sapiens berdasarkan bentuk dan morfologi wajahnya. Temuan ini menggoyang posisi Afrika Timur dan Selatan sebagai kandidat lokasi asal muasal Homo sapiens menurut konsensus akademik. Berdasarkan estimasi umurnya, manusia Jebel Irhoud lebih tua 100 ribu tahun dibanding manusia Omo dari Omo Kibish, Ethiopia, di Afrika Timur, dan sekitar 60 ribu tahun lebih tua dari manusia Florisbad, archaic Homo sapiens tertua di Afrika Selatan. Kemudian, manusia Jebel Irhoud ternyata juga memiliki beberapa kemiripan morfologi dengan manusia Dali dari provinsi Shaanxi di China, dengan estimasi umur terbarunya sekitar 270 ribu tahun. Manusia Dali dulunya juga diasumsikan sebagai archaic Homo sapiens, bahkan pernah diklasifikasikan ke dalam taksa Homo heidelbergensis Asia Timur.

Analisis terbaru dari manusia Dali sendiri memperkuat pandangan sebelumnya bahwa di Asia Timur, khususnya, dan Eurasia pada umumnya, sudah hadir manusia yang secara anatomis modern (seperti Luijiang, Xuchang, Fuyan/Daoxian, Huanglong, Lunadong), atau secara genetik modern yang terdeteksi pada genome Neandertal Altai berumur 122 ribu tahun, dan garis evolusi yang sangat tua dari populasi Papua Nugini dengan sekuens ambigunya, dst., yang mendahului persebaran manusia modern menurut konsensus akademik dengan hipotesis out of Africa 3b (Recent African Origins, RAO) yang terjadi sekitar 60 ribu tahun yang lalu. Lalu beberapa bulan terakhir, sekelompok paleoantropolog mulai mengumpulkan bukti-bukti arkeologi di Asia dan menganalisis ulang fosil yang ada di jalur migrasi dari hipotesis out of Africa, yang pada akhirnya menyimpulkan bahwa manusia modern sudah berada di luar Afrika setidaknya 120 ribu tahun yang lalu, walaupun sebagian mereka mengusulkan Out of Africa 3a sebagai pengganti out of Africa 3b, saya berpandangan bahwa migrasi dari Afrika tidak diperlukan lagi karena manusia proto Eurasia tidak berasal dari Afrika, dengan kata lain sejak awal telah ada dua garis evolusi yang berbeda antara Eurasia dan Afrika (bagaimana penjelasan dari argumen ini, Anda perlu membaca tulisan-tulisan terdahulu di laman The Forgotten Motherland).

Update: Temuan fosil manusia modern di Misliya Cave di Mount Carmel, Israel, setidaknya menyulitkan skenario yang sedang dibangun oleh hipotesis out of Africa 3a. Umur Misliya berkisar antara 177-194 ribu tahun yang lalu, mendahului hipotesis out of Africa 3a sekitar 60 sampai 75 ribu tahun. Secara morfologi, fosil Misliya secara anatomis merupakan manusia modern, tidak tercampur dengan fitur Neandertals atau manusia arkaik lainnya, sehingga secara meyakinkan diklasifikasikan ke dalam garis evolusi Homo sapiens. Keberadaan H. sapiens tanpa fitur arkaik di Levant 177-194 tahun yang lalu cukup telak membantah skenario out of Africa 3a, sekaligus memperkuat bukti bahwa Levant merupakan salah satu lokasi penting dalam menelusuri sejarah manusia modern awal, di samping Maroko dan Eurasia Timur (termasuk Siberia, China dan Indonesia). Manusia Omo dan Herto memang diklasifikasikan sebagai manusia modern, namun masih memiliki fitur arkaik. Hal ini menjadikan manusia Misliya sebagai manusia yang secara anatomis modern tertua di luar Afrika. Perlu digarisbawahi, proses evolusi H. sapiens didahului oleh bentuk wajah dan gigi yang modern, namun batok kepala bagian dalam (braincase) belum sepenuhnya modern sampai setidaknya 35 ribu tahun yang lalu. Jika fitur arkaik pada braincase dijumpai pada manusia modern, tetap diklasifikasikan dalam garis evolusi H. sapiens. (Baca terkait Jebel Irhoud dari Hublin et al. 2017 dan Neubauer et al. 2018)

Terlepas migrasi dari Afrika atau wilayah Eurasia yang lain, fakta bahwa manusia modern sudah berada di luar Afrika sebelum Out of Africa 3b membuktikan bahwa hipotesis ini tidak bisa dipertimbangkan lagi sebagai konsensus. Bahkan dengan bukti bahwa mtDNA L3 yang menurut konsensus akademik merupakan leluhur dari manusia modern Eurasia (mtDNA M dan N) terbantahkan dengan analisis terbaru yang menyimpulkan garis maternal L3 menuju Afrika dari Eurasia sekitar 70 ribu tahun yang lalu (Cabrera et al. 2017). Hal ini sesuai dengan migrasi garis paternal haplogroup E, yang merupakan bagian dari clade paternal Eurasia CDEF. Jika Anda kembali melihat hipotesis out of Eurasia, dengan mempertimbangkan data-data terbaru, maka Anda akan mulai mengerti kenapa hipotesis tersebut dibangun. Hipotesis ini mendapat dukungan dari sebaran varian haplotype di mana terdapat haplotype langka yang menghindari populasi Afrika dan banyak ditemukan pada populasi Eropa dan Asia (Eurasia). Ada juga haplotype yang tersebar merata antara Afrika, Eropa dan Asia di mana Afrika terdeteksi dengan persentase lebih dari Eropa dan Asia walaupun tidak terlalu besar (Dutta et al. 2017).

Temuan berikutnya yang tak kalah menarik adalah fosil gigi manusia Lida Ajer dengan umur sekitar 68 ribu tahun (73-63 kya) di dataran tinggi sekitar Payakumbuh, Sumatra Barat. Dengan ciri gigi double-shoveling shape, ciri khas gigi manusia modern yang banyak dijumpai pada populasi Asia Timur dan penduduk asli Amerika Utara, yang juga dimiliki oleh manusia Huanglong berumur 101-81 kya. Gigi manusia modern Lunadong setidaknya berumur antara 70 hingga 126 ribu tahun. Fosil terbaru dari Tam Pa Ling (TPL 3) berumur 71 kya juga sudah dilaporkan, bahkan TPL 4 kemungkinan lebih tua dari 120 ribu tahun, kontemporer dengan manusia Daoxian. Belum lagi gigi manusia modern Punung (143 sampai 128-115 kya) yang mulai mendapat tempat dalam narasi sejarah manusia modern. Di Australia, ditemukan dugaan hunian manusia berumur 65 kya di Madjedbebe II di Arnhem Land, bagian utara Australia Utara. Meskipun masih diperdebatkan siapa yang menghuni Madjedbebe II, namun sulit rasanya mengkaitkan situs arkeologi tersebut dengan manusia arkaik lainnya, seperti Denisovans, karena praktis kita tidak tahu seperti apa budaya tinggalan Denisovans. Untuk saat ini, umur Madjedbebe masih diperdebatkan, dan Denisovans sedang digiring untuk berada di Sahul sebelum migrasi manusia modern dari Sunda sekitar 65 ribu tahun yang lalu. Bukti yang diajukan untuk scenario ini adalah berdasarkan data genome populasi Aborigin Australia dan Papua Nugini yang menunjukkan bahwa peristiwa admixture antara leluhur kedua populasi tersebut dengan sejenis Denisovans terjadi sekitar 44 ribu tahun yang lalu. Dengan estimasi tersebut, maka leluhur manusia modern sudah berada di Sahul ketika mereka bertemu dengan sejenis Denisovans.

Namun benarkah demikian?

Kita tahu, beberapa temuan penting terkait keberadaan manusia modern di Wallacea semuanya berumur >50 kya. Jejak manusia modern di pegunungan Maros-Pangkep dalam bentuk stensil tangan di dinding-dinding gua Leang Timpuseng berumur 40 kya (van den Bergh 2015) atau 30-22 kya di Leang Bulu Bettue (Brumm et al. 2017) atau Leang Burung (31 kya). Kehadiran manusia modern di Liang Bua, Flores dalam rentang 46-24 kya dengan bukti penggunaan api dan alat-alat batu yang mirip dengan apa yang ditemukan di Timor, seperti Jerimalai dan Lene Hara (42-38 kya), serta temuan hunian manusia dari gua Laili di Timor-Leste berumur 44.6 kya (Hawkins 2017).

Di jalur migrasi utara, umur hunian di Leang Sarru di kepulauan Talaud (35 kya) tidak banyak membantu seperti apa budaya dan tinggalan manusia yang hidup periode tersebut. Jejak-jejak keberadaan manusia modern tersebut tidak memberikan banyak informasi tentang pendahulu mereka 20 -30 ribu tahun sebelumnya. Setidaknya, adanya jejak keberadaan manusia arkaik di Maros 194-118 kya masih perlu dibuktikan untuk menguji adanya keberlanjutan evolusi manusia di Wallacea. Karenanya, apa yang bisa kita lakukan adalah mencari jejak garis keturunan berumur lebih tua dari 40 kya, melakukan ekstrapolasi berdasarkan umur molekuler sehingga kita bisa mengestimasi garis keturunan mereka yang masih tersisa di populasi Wallacea saat ini.

Judul di atas saya pilih karena pandangan konsensus akademik tentang leluhur populasi Australo-Papuan mengalami bottleneck seiring migrasi menuju Sahul. Bottleneck adalah kondisi di mana sebuah populasi baru mengalami pengurangan jumlah dalam periode waktu tertentu relatif terhadap populasi leluhur, sehingga keragaman genetik menurun dibandingkan keragaman genetik populasi leluhur tersebut. Untuk bisa menentukan apakah populasi Australo-Papuan mengalami bottleneck, maka harus berangkat dari asumsi ‘berapa jumlah populasi efektif yang dibutuhkan untuk menghasilkan keragaman genetik populasi Australo-Papuan saat ini’. Setelah jumlah populasi efektif ditentukan, baru bisa menentukan jumlah populasi efektif dari populasi induk tadi. Ekstrapolasi seperti ini sering digunakan dalam analisis genetika populasi, dengan bias yang tidak menentu karena banyak faktor yang mempengaruhi keragaman genetik populasi saat ini, seperti frekuensi admixture, isolasi, inbreeding, drift, bahkan bencana alam atau perang antar suku yang terjadi dari generasi ke generasi.

Jika kita mengikuti asumsi bahwa terjadi bottleneck ketika leluhur populasi Australo-Papuan migrasi dari Sunda ke Sahul ~65 ribu tahun yang lalu, maka jumlah populasi efektif dalam rentang waktu 70-40 kya adalah sekitar 2000 individu (Malaspinas et al. 2016). Dengan sejumlah 2000 manusia migrasi dari Sunda ke Sahul, maka diperlukan jumlah populasi efektif sebelum 70 kya sekitar 7000 individu mungkin tersebar di Sunda dan daratan Asia Tenggara. Anda bisa bayangkan 2000 individu migrasi menuju Sahul, yang jaraknya kurang lebih 2500 km, terlepas jalur mana yang diambil. Sebagai pembanding, pada manusia, estimasi jumlah populasi efektif masa lalu sangat bervariasi, mengikuti estimasi waktu peristiwa demografis seperti migrasi di luar Afrika. Gronau dan kolega (2011) menggunakan pendekatan berbasis koalesen (proses divergensi gen dalam satu garis keturunan) dengan enam genome diploid masing-masing dari populasi yang berbeda, dan memperkirakan bahwa populasi Eurasia dan Afrika terpisah sekitar 38-84 kya, dan bahwa jumlah populasi efektif manusia saat itu ~9000 individu. Gravel dkk. (2011) menggunakan data genome dengan cakupan rendah dan data exome dengan cakupan tinggi agar sesuai dengan model satu bottleneck diikuti oleh pertumbuhan eksponensial pada populasi Eropa dan Asia. Mereka memperkirakan bahwa waktu migrasi di luar Afrika adalah ~51 kya, dan bahwa jumlah populasi efektif di masa lalu adalah ~7300 individu, yang diekstrapolasi menjadi ~ 14.500 individu pada ~150 kya. Anda bisa lihat ada ketidak-konsistenan antar metode yang dipakai dalam mengestimasi jumlah populasi efektif masa lalu.

Tentang kondisi Wallacea pada periode Pleistocene tersebut, saya berpandangan bahwa migrasi tidak sulit untuk dilakukan, meskipun konsensus mengikuti logika saat ini bahwa ada perairan luas yang harus diseberangi dan ada begitu banyak pulau-pulau kecil yang harus disinggahi, namun saya berpendapat bahwa jika terjadi glasiasi selama ribuan tahun dan permukaan air laut surut sampai 80-120 meter, maka kecil kemungkinan perairan dangkal tersebut akan tetap dialiri air laut baik dari Pasifik maupun Samudra Indonesia. Mungkin ada beberapa perairan dalam yang masih terdapat air seperti Laut Banda, yang mungkin pada saat ini menjadi sebuah danau mahabesar, namun tidak akan mengganggu jalur migrasi manusia dan binatang era Pleistocene. Bahkan jika Anda menyertakan bukti bahwa Varanus Komodoensis (Komodo raksasa yang saat ini hanya dijumpai di pulau Komodo, Flores) berasal dari Australia sejak era Pleiocene, maka diperlukan jembatan darat yang memungkinkan mereka migrasi ke Timor, Flores dan Sumba, bahkan pada akhirnya sampai ke India.

Menurut beberapa penelitian tentang pulau Timor dan wilayah sekitarnya, pada periode Pleistocene terjadi pengangkatan (uplift) tektonik yang cukup signifikan di sebagian wilayah di Wallacea seperti kepulauan Halmahera, meskipun dampaknya masih perlu diinvestigasi lebih lanjut. Namun dari data pergeseran tektonik yang ada, (Kealy, Louys, and O’Connor 2017) bisa membuat model jalur migrasi yang mungkin diambil oleh leluhur Australo-Papuan. Persegeran tektonik yang memungkinkan adanya jembatan darat, ditambah dengan perubahan iklim yang sangat ekstrim, bisa menjadi faktor pendorong perpindahan populasi 50-70 ribu tahun yang lalu. O’Connor et al. (2017) menambahkan faktor lain, yaitu strategi mencari penghidupan maritime, menjadi salah satu sebab pergerakan populasi di Wallacea, yang akhirnya sampai di Sahul. Jika disimpulkan dari skenario ini, perpindahan populasi tidak secara sengaja dilakukan. Awalnya menghindari kondisi lingkungan akibat perubahan iklim yang sangat buruk, bisa jadi karena efek letusan supervolcano Toba yang menyebabkan iklim dingin selama ribuan tahun, pergeseran tektonik di sebagian wilayah di Wallacea, dan mulai sulitnya mencari sumber makanan di sepanjang jalur perpindahan, akhirnya mengantarkan leluhur populasi Australo-Papuan sampai di Sahul.

Gangguan yang mungkin ada adalah binatang-binatang yang mungkin dijumpai manusia ketika menyusuri pulau-pulau yang ada. Jika melalui Sumba, ada kemungkinan manusia akan bertemu Varanus komodoensis yang selama ini kita tahu hanya ada di pulau Flores. Tikus raksasa juga mungkin ditemui di Sumba. Melihat kemiripan fauna langka di Sumba dan Flores, dengan jarak kurang lebih 50 km, Anda juga pasti akan berpikir, bagaimana mungkin Komodo bisa berada di dua pulau yang dipisahkan perairan yang cukup luas? Jawabannya tak lain adalah adanya jembatan darat pada era Pleistocene yang memungkinkan fauna langka tersebut berpindah habitat tanpa harus mengarungi perairan sepanjang 50 km. Ketika manusia sampai Timor pun masih harus bertemu dengan spesies Komodo yang sama. Jika Komodo dengan mudah menyeberang dari Flores ke Timor (dan sebaliknya), maka tidak sulit bagi manusia untuk sampai ke sana. Mengingat kesamaan fauna purba antara Sumba dan Flores, tidak ada alasan secara biogeografi yang jelas untuk menduga bahwa spesies hominin endemik regional ada di Flores namun tidak ada Sumba. Kemungkinan adanya hominin purba di Sumba juga lebih besar dengan adanya artifak Palaeolitik yang ditemukan pada lapisan Pleistocene.

Ini salah satu indikasi bahwa turunnya permukaan laut selama puluhan ribuan tahun akan menciptakan jembatan-jembatan darat yang menghubungkan pulau-pulau di Wallacea. Dengan demikian konsensus akademik tidak perlu berasumsi bahwa manusia memerlukan teknologi membuat perahu sederhana atau bahkan rakit pun tak diperlukan. Intervisibilitas antar pulau juga tidak menjadi hambatan ketika permukaan laut turun puluhan meter di bawah permukaan laut saat ini (Kealy et al. 2017), sama halnya seperti ketika kita berjalan di sebuah lembah yang maha luas dan bisa melihat kontur tanah nun jauh di depan mata. Dengan memahami biogeografi masa lalu, kita bisa memahami proses evolusi yang terjadi di Wallacea, bagaimana populasi fauna yang telah punah atau bertahan hidup, dan kita juga bisa membayangkan skenario yang mungkin dialami oleh manusia ketika menghadapi berbagai ekosistem dalam perjalanannya menuju Sahul.

Skenario yang terbayang di kepala saya adalah dua jalur migrasi diambil (lihat Kealy et al. 2016, 2017; O’Connor et al. 2016): jalur selatan, dimulai dari ujung timur Sundaland di sekitar Jawa Timur dan Madura menuju Sumbawa, sebagian kearah Sumba, sebagian terus menuju Flores, dan keduanya bertemu di Timor lalu menuju pesisir utara Australia. Migrasi berikutnya melalui jalur utara: melalui Sulawesi Selatan, terus ke timur, sebagian menuju utara ke Filipina, sebagian menuju Maluku dan kepala burung Papua, kemudian terpisah menjadi dua sebaran, satu kearah selatan menuju timur laut Australia dan menyusuri pantai timur sampai ke Australia bagian selatan (Wilandra), sebagian lain menuju ujung timur Papua Nugini dan melanjutkan ke kepulauan Melanesia. Pertanyaan kemudian, apakah Wallacea merupakan wilayah di mana terjadi diferensiasi populasi? (Oppenheimer 2014) dan apakah semua berhasil sampai di Sahul?

Dengan bukti uniparental markers (penanda genetik yang diwarisi dari bapak dan ibu; garis paternal dan maternal) yang ada pada populasi Wallacea saat ini, saya berpandangan sebagian imigran Sunda berhenti di Wallacea (dengan bukti adanya tradisi hidup bergantung pada kehidupan maritime di beberapa wilayah di Wallacea; Rintaro Ono 2016), yang kemudian menjadi leluhur populasi Sumba, Flores, Sulawesi, Maluku, Timor dan Papua Barat, dan sebagian lagi hilang di perjalanan menuju Sahul karena faktor alam atau belum terdeteksi jejaknya karena belum dilakukan penelitian yang menyeluruh di wilayah Wallacea. Dengan asumsi gegabah bahwa proses migrasi dari Sunda ke Sahul tanpa meninggalkan jejak di Wallacea, menuntun beberapa peneliti berpendapat terjadi migrasi dari Sahul ke Wallacea terjadi >28 kya (Out of New Guinea). Namun dari analisis lebih rinci atas penanda genetik di Wallacea (yang sering diasumsikan berasal dari Sahul), menunjukkan bahwa mereka bisa jadi muncul pertama kali di Wallacea. (lihat uniparental markers populasi Adonara, Sumba, Flores, Timor)

Bagaimana menentukan uniparental markers yang hilang di Wallacea?

Saya menduga, uniparental markers yang selama ini autochthonous (pribumi) Wallacea dianggap merupakan markers keturunan Papua, atau bagian dari markers keturunan Asia. Sebagai contoh, ketika Alfred Russel Wallace melakukan observasi terhadap populasi Gilolo (Jailolo, Halmahera) dan Minahasa, dia mendapat informasi bahwa keduanya adalah populasi Alfuros (Alfurs, Alfures, Alifuru, Harafora, Arafura, Alfoeren), dengan perbedaan perawakan yang cukup signifikan. Alfuros yang di pedalaman Halmahera (Halefuru di Tobelo/Togutil, Galela, Tobaru, Sahu dan Jailolo), dan sekitarnya (Bachan dan Waigeo) dan pulau Seram-Buru lebih hitam dan tinggi besar dibandingkan dengan Alfuros yang hidup di Minahasa. Wallace berkontemplasi terkait apa yang terjadi dengan populasi Alfuros yang notabene bisa dibedakan dari populasi Papua dan populasi Melayu. Jika ada sedikit campuran dari Papua, maka akan terlihat seperti Alfuros di Halmahera. Jika banyak terjadi campuran dengan populasi Melayu, maka akan terlihat seperti Alfuros Minahasa. Bagaimana menentukan apakah satu kelompok etnis tertentu merupakan populasi Alfuros? Saya bisa contohkan populasi Negrito Mamanwa, yang komposisi genetiknya dua per tiga keturunan Australo-Papuan (Australasian), dan sepertiga Asia Timur. Sama seperti proto-Melayu di Semenanjung Melayu dengan keturunan Orang Asli (Semang/Sakai) hanya sepertiga, dan dua per tiga keturunan Asia Timur. Derajat perbedaan fisik populasi Alfuros sepertinya mengikuti seberapa besar persentase keturunan Australo-Papuan dibanding keturunan Asia Timur.

Sayang sekali, Wallace tidak memiliki data dari Flores, Sumba, Pantar dan Alor. Wallace juga mendapatkan laporan bahwa populasi Alfuros juga terlihat di Mindanao, hidup berdampingan dengan populasi Sama-Bajau, namun bisa jadi laporan yang diterima Wallace saat itu merujuk pada populasi Mamanwa atau Manobo yang notabene berperawakan seperti populasi Papua. Dan jika melihat sebarannya, populasi Sangihe-Talaud bisa jadi juga bagian dari populasi Alfuros. Perbedaan perawakan Alfuros yang menginspirasi Wallace mengusulkan garis pemisah selain garis pemisah flora dan fauna antara Asia dan Papua (Lihat gambar di bawah).

Dari deskripsi Wallace, yang saya bisa pikirkan adalah, bahwa populasi Alfuros merupakan populasi proto Melayu dataran tinggi yang tersebar di Wallacea dengan sedikit campuran keturunan populasi Papua, mereka banyak hidup di pedalaman (seperti populasi Alune dan Wemale di Seram), terpisah dari populasi Melayu yang mendiami pesisir pantai, karena mereka bisa dibedakan dari populasi Papua, dan tidak mirip dengan populasi Melayu. Mereka seperti transisi dari populasi Asia ke populasi Papua, namun bisa dibedakan dari keduanya. Persentase keturunan belum terpikirkan oleh Wallace saat itu, namun tidak terlalu jauh jika dibandingkan dengan hasil observasi Wallace. Jika dilihat dari uniparental markers, maka populasi Alfuros adalah populasi dengan garis paternal mayoritas populasi Wallacea (garis keturunan C-RPS4Y dan C-M38 serta garis keturunan K-M526 seperti S-M254, M-P34, P-M45 dan mungkin proto Melayu O-M119), sedangkan garis maternal sepertinya didominasi oleh garis keturunan macrohaplogroup M (E, M21, M22, M73, M74, M42a, M17a, dll.), namun tidak menutup kemungkinan garis keturunan haplogroup R (B4a1, R22, R23, R14, R24, N21, N22, N23 dll.). Ada kemungkinan kekerabatan populasi Alfuros dengan Sama-Bajau, Kadazan-Dusun, Murut, Dayak pesisir timur Borneo seperti Lebbo’ dan kemungkinan Dayak yang praktik head-hunting, Negrito Aeta/Atta/Agta dan Igorot di Luzon, Mamanwa-Manobo di Mindanao, Tolage dan To Pamona di Sulawesi Tengah, Toala dan Toraja di pegunungan Maros, Alfuros di Sumba-Flores-Timor, serta populasi awal Lapita di Pasifik, yang akan saya telusuri sembari menunggu data genome populasi Rampasasa Flores, atau jika hasil penelitian populasi Tanimbar jadi dipublikasikan. Jika satu populasi masih memiliki uniparental markers dari era Paleolithic, bisa dipastikan mereka tergolong populasi Alfuros. Sebaran mereka sangat luas di Indonesia, khususnya yang hidup di dataran tinggi (highlanders, uplanders).

 

Tulisan mendatang akan menelusuri siapa sebenarnya populasi Alfuros, budaya dan sebarannya…

 

Update: Februari 2018

Penelitian dari Hantoro (2018) menyimpulkan satu point penting tentang perubahan pada keseimbangan hidrologis air tawar dan kelembaban di atmosfer. Yang terjadi pada air tawar ketika permukaan air laut surut adalah terperangkap dalam akuifer (batuan berpori, batu patahan, atau material yang tidak terkonsolidasi di lapisan bawah tanah) yang kemudian tertutup oleh sedimen aquitard (zona di mana pergerakan air dari satu akuifer ke aquifer lainnya terhambat) selama proses sedimentasi ketika permukaan laut kembali ke posisi semula (naiknya muka air laut). Sumber air bawah tanah ini sangat penting sebagai persediaan air tawar masa depan. Tentu saja proses ini tidak hanya disebabkan karena perubahan iklim yang ekstrim, gempa tektonik juga memiliki peran yang signifikan terkait proses terperangkapnya air tawar maupun air laut. Jadi ketika periode glasial, banyak air tawar tersimpan dalam tanah selama ribuan tahun. Dengan turunnya muka laut sampai 135 m di bawah muka laut saat ini, dan sebagian besar kondisi ini terjadi dalam periode 1 juta tahun, maka bisa disimpulkan banyak air tawar dan air laut terperangkap di lapisan bawah tanah, tidak ada aliran air laut selama ribuan tahun menyebabkan perairan di Wallacea praktis absen, kecuali mungkin Laut Sulawesi, sebagian kecil Laut Flores dan Laut Banda. Laut China Selatan dan Laut Flores adalah drainase terbaik ketika periode glasiasi. Kondisi ini memungkinkan fauna dan hominins untuk menyeberang dari Sunda ke Wallacea dan pada akhirnya menuju Sahul tanpa harus mengarungi perairan bebas atau pun tersapu tsunami sebagaimana dispekulasikan konsensus akademik di banyak jurnal penelitian. Sekarang kita bisa berargumen bagaimana Stegodons bisa menyeberang dari Sunda ke Sulawesi Selatan, dan kemudian ke Flores, Sumba dan Timor. Atau sebaliknya, bagaimana Varanus komodoensis bisa menyeberang dari Sahul ke Timor-Sumba-Flores dan bisa sampai ke India. Masih perlukah manusia Mata Menge dan Wallaceanthropus manggaraii (sebutan lain untuk Homo floresiensis) membuat rakit untuk sampai ke Flores? Atau menunggu tersapu tsunami, ketika mereka bisa melenggang santai ketika muka air laut surut ketika periode glasial?

You decide.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s