Ketika Para Saksi Bisu Mulai ‘Bicara’


Konsensus akademik terkait asal-usul manusia modern (anatomically modern humans, AMH; Homo sapiens sapiens) telah menetapkan bahwa semua manusia modern berasal dari Afrika dan kemudian pada pada satu saat mulai menyebar keseluruh penjuru dunia, menjadi leluhur manusia saat ini dengan variabilitas yang ada dikarenakan berbagai faktor seperti mengalami seleksi seiring beradaptasi dengan lingkungan barunya, namun tidak mengalami perkawinan serta tidak ada aliran gen dari manusia arkaik. Untuk bisa diklasifikasikan sebagai manusia modern ada prasyarat yang harus dipenuhi oleh manusia modern seperti bentuk wajah, morfologi bagian dalam batok kepala (globular), tempurung otak lebih bulat, dagu menonjol, morfologi gigi yang unik dan tidak memiliki kesamaan dengan manusia arkaik seperti Neandertals, Denisovans atau pendahulu ketiganya (Homo erectus, Homo antecessor, Homo heidelbergensis, Homo rhodesiensis tergantung dari mana Anda melihatnya), dan ciri khas manusia modern lainnya dari perspektif genetika (mtDNA, NRY, dan autosomal). Konsensus ini sudah bertahan hampir tiga dekade dan tidak bergeming meskipun banyak bukti-bukti baru mulai menggoyahkan kesepakatan tersebut.

Alasan kenapa konsensus akademik terkait evolusi manusia saat ini bisa bertahan dalam kurun waktu cukup lama adalah karena bukti-bukti yang menentangnya muncul secara perlahan-lahan. Namun seiring dengan temuan-temuan baru mulai muncul, argumentasi tradisional asal-usul manusia modern mulai terlihat terlalu sederhana, meskipun tidak sepenuhnya salah, hanya saja model yang terlalu sederhana itu kemudian menjadi konsensus yang sering tidak mengindahkan bukti-bukti yang tidak selaras dengannya. Bukti-bukti baru terus mendorong mundur permulaan evolusi manusia jauh ke masa lampau, menjauhkan garis evolusi Homo sapiens lebih cepat dari kemampuan kita menyusun rangkaian peristiwa yang mengikuti garis evolusi tersebut, sehingga buku teks akademik pun mengalami kesulitan ketika mencoba mengikutinya.

Kita tahu tahun 2017 merupakan annus horribilis, tahun yang buruk bagi konsensus akademik terkait evolusi manusia modern. Kronologi konvensional tentang evolusi dan migrasi manusia mulai goyah ketika dipresentasikan temuan-temuan baru, seperti posisi Homo floresiensis dalam pohon kekerabatan manusia, garis evolusi Homo sapiens yang tidak lagi dimonopoli Afrika Timur dan Afrika Selatan, namun juga di Barat Laut (Afrika Utara, seperti Maroko sampai Libya), bukti ditemukannya alat-alat batu pra-Mode I berumur lebih dari 2 Ma di luar Afrika (sekitar Kaukasus, Pakistan, dan China), keberadaan manusia modern sebelum Out of Africa 3 (MIS 3, ~58 kya) di Levant, Kaukasus, Pakistan, India, Siberia, China, Laos, Vietnam, Sunda dan Sahul. Kemudian jejak hominins Trachilos di pulau Kreta yang berumur 5.7 juta tahun, dan fosil hominins Graecopithecus freybergi di Yunani dengan estimasi umur 7,2 juta tahun, yang lebih tua dari Sahelanthropus tchadensis, yang diduga leluhur hominins namun tidak jelas keberadaannya. Dan tahun yang bikin gelisah ini akan terus belanjut dengan perluasan klasifikasi manusia modern.

Di tahun 2018 ini sepertinya konsensus akademik tidak akan terbebas dari ‘krisis’ tahun 2017 yang lalu, diawali dengan penelitian tentang perubahan bentuk tempurung otak manusia yang mengalami evolusi lebih lambat dibandingkan bentuk wajah maupun perkembangan post-cranials (semua tulang yang bukan bagian dari tengkorak). Bahkan perubahan bentuk tempurung otak manusia menjadi bentuk modern seperti kita sekarang ini baru muncul 100 sampai 35-40 ribu tahun yang lalu, bersamaan dengan munculnya teknologi alat-alat batu yang lebih modern (mulai munculnya Aurignacian Upper Paleolithic di Eurasia, atau Later Stone Age jika di Afrika, atau bisa juga bersamaan dengan munculnya gambar-gambar di dinding gua di beberapa wilayah Eropa dan Wallacea, serta mungkin mulai dibuatnya alat penangkap ikan yang sederhana di Timor-Leste). Jika tempurung otak mengalami evolusi lebih lambat di banding wajah atau gigi, maka apa yang bisa kita simpulkan tentang Homo floresiensis atau Homo soloensis? Selain itu, bagian tulang rahang atas beserta gigi manusia modern Gua Misliya di Levant yang diperkirakan berumur 177-194 ribu tahun yang lalu (ditemukan oleh seorang mahasiswa arkeologi tingkat pertama yang baru pertama kali mengikuti ekskavasi pada tahun 2002), secara definitif adalah gigi manusia modern tanpa ada campuran morfologi Neandertals atau manusia arkaik pendahulunya. Bahkan gigi Misliya lebih modern dibanding manusia Qafzeh yang masih overlapping dengan gigi Neandertals, meskipun manusia Qafzeh diklasifikasikan ke dalam Homo sapiens. Temuan ini sesuai dengan hasil analisis terbaru manusia Jebel Irhoud (~315 kya; Hublin et al. 2017), bahwa ada keterkaitan antara early Homo sapiens Afrika Utara dan Levant (Skhul/Qafzeh).

(Catatan: untuk membedakan manusia modern saat ini (semua prasyarat modernitas terpenuhi) dan manusia modern awal (yang anatominya belum semuanya modern), maka digunakan AMH untuk manusia modern saat ini, dan early Homo sapiens untuk manusia modern awal.

Kemudian analisis ulang tengkorak manusia Dali (258-267 kya) oleh Sheela Athreya dan Xinzhi Wu (2017) mengungkap fakta baru yang cukup membuat pusing konsensus akademik karena analisis tersebut berseberangan dengan hipotesis out of Africa. Hasil analisis menunjukkan bahwa bentuk wajah dan neurocranial manusia Dali memiliki kemiripan dengan manusia Jebel Irhoud, meskipun keduanya berjarak lebih dari 10000 km. Dengan fitur turunan Homo sapiens sudah berada di Asia Timur, kontemporer dengan manusia Florisbad di Afrika Selatan (260 kya), memberi implikasi bahwa fitur manusia modern tidak muncul dari satu lokasi tertentu (Afrika Timur, seperti manusia Omo ~195 kya dan Herto ~160 kya). Masalahnya adalah narasi standar konsensus akademik menyatakan bahwa manusia modern muncul sekitar 200.000 tahun yang lalu di Afrika Timur Laut, dan baru menyebar ke seluruh dunia sekitar 60.000 dan 70.000 tahun yang lalu. Narasi standar konsensus tersebut mulai kacau dengan temuan-temuan baru. Fakta ini menegaskan bahwa model sebaran manusia mengikuti hipotesis Out of Africa perlu direvisi. Kenapa saya bilang hipotesis, karena teori yang tidak mengakomodasi fakta-fakta baru yang berseberangan, dan hanya memilih fakta-fakta yang sesuai dengan teori tersebut, maka akan mendegradasi teori tersebut menjadi teori yang tidak valid dan hanya sebatas hipotesis. Pendek kata, hipotesis out of Africa sedang mengalami krisis kepercayaan.

Selain memiliki kemiripan dengan manusia Jebel Irhoud, manusia Dali juga mirip dengan early Homo sapiens dari Levant (Skhul/Qafzeh; 110-92 kya). Athreya dan Wu menegaskan teori Wu terdahulu dengan beberapa revisi bahwa sebaran H. sapiens mengikuti hipotesis Continuity with Hybridization (kadang dikenal dengan leaky replacement model) yang menyatakan terjadi kontinuitas manusia arkaik menuju manusia modern di China, serta terdapat aliran gen dari manusia arkaik lain dari Eurasia Barat/Timur (Neandertals). Model Continuity with Hybridization pertama kali diusulkan Wu (1998, 2006) dengan pokok usulan:

1) manusia Asia Timur mengalami kontinuitas evolusi sejak keberadaan Homo erectus, tanpa adanya interupsi atau pergantian populasi dalam skala besar;

2) isolasi relatif secara geografis menyebabkan manusia purba China memiliki fitur berbeda dari populasi Eurasia bagian barat;

3) pertukaran gen antara manusia purba China dengan populasi sekitarnya makin meningkat seiring waktu dan semua populasi tersebut tetap berada dalam satu species;

4) pertukaran gen dengan populasi dari luar wilayah (manusia purba Eurasia barat) merupakan proses sekunder dibanding kontinuitas regional, sehingga yang terjadi adalah integrasi antara populasi lokal dan pendatang dalam skala kecil, bukan pergantian (replacement).

Kita bisa menyusun argumen bahwa evolusi bentuk modern wajah manusia sudah mulai sejak 315 ribu tahun yang lalu, atau mungkin lebih awal lagi, namun bagian atas dan belakang tempurung otak (braincase) masih harus mengejar ketertinggalan sampai setidaknya 250 ribu tahun kemudian. Sedangkan morfologi post-cranials (gigi, rahang, dan semua tulang selain tengkorak) mengalami evolusi tak lama setelah bentuk wajah atau mungkin juga bersamaan. Sebagai ilustrasi, manusia Misliya sudah memiliki gigi modern sejak 200 ribu tahun yang lalu, maka jika kita menemukan fitur gigi manusia modern campuran dan arkaik di Asia Timur berumur lebih dari 100 ribu tahun, hal tersebut tidak bisa dibantah begitu saja. Contohnya, jika manusia Huanglong, Xuchang, Liujiang dan Daoxian memiliki fitur gigi Homo sapiens, berarti salah satu leluhurnya sangat mungkin adalah H. sapiens awal, terlepas dari mana asalnya, yang kemudian kawin dengan manusia arkaik lokal Asia Timur. Jika gigi Huanglong sudah modern, maka gigi Lida Ajer secara definitif adalah gigi manusia modern (keduanya sharing morfologi gigi seri double shovel-shaped). Penelitian gigi Misliya memberikan informasi yang sangat berharga terkait beberapa manusia arkaik Eurasia yang belum diklasifikasikan secara gamblang, seperti manusia Qesem, Zuttiyeh di Levant. Dan manusia dari Rabat Maroko yang morfologi giginya masih jauh dari morfologi manusia modern, lebih condong berada dalam garis evolusi gigi Neandertals, atau bahkan campuran antara keduanya. Sekarang kita mendapatkan sedikit petunjuk akan keberadaan Neandertals awal di Levant dan Maroko, sesuai dengan sebaran teknologi batu Levalloiso-Mousterian yang ditemukan di kedua tempat tersebut. Bahkan di Gua Misliya terknologi tersebut berada pada lapisan yang sama (250-160 kya) dengan lapisan di mana gigi Misliya ditemukan (194-177 kya).

Untuk memastikan apakah ada early Homo sapiens yang lain di Afrika Utara dan Levant, sebuah penelitian dilakukan oleh Bailey et al. (2017) mencoba menganalisis apakah ada misklasifikasi antara early H. sapiens dan Neandertals di kedua wilayah tersebut. Seringnya misklasifikasi terjadi pada early H. sapiens Afrika Utara terjadi karena mereka memiliki fitur turunan Neandertals pada gigi geraham pertama atas atau premolar keempat bagian atas. Semakin banyak misklasifikasi antara Neandertals dan early H. sapiens menunjukkan kandidat lokasi terjadinya admixture antara keduanya. Dalam kasus Afrika Utara, manusia Rabat kemungkinan besar berada dalam garis evolusi Neandertals berdasarkan morfologi giginya. Sedangkan manusia Jebel Irhoud memiliki tempurung otak (braincase) berada di antara Homo erectus dan Neandertals, namun bentuk wajah lebih cenderung berada dalam garis evolusi Homo sapiens, walaupun ukuran gigi lebih besar dibanding manusia modern saat ini dan cenderung mirip early H. sapiens daripada Neandertals. Minimnya sinyal morfologi gigi modern di Afrika Utara menunjukkan bahwa gigi early H. sapiens Afrika Utara masih berevolusi menuju morfologi modern, sebagaimana tempurung otaknya yang mengalami proses evolusi yang berbeda dari bentuk wajahnya.

Di Levant sendiri hanya manusia Skhul 1 yang mengalami misklasifikasi sebagai Neandertals, sehingga ada kemungkinan admixture terjadi di Skhul, dibandingkan klasifikasi early H. sapiens Qafzeh yang secara keseluruhan berada dalam garis evolusi H. sapiens. Skhul sendiri berjarak 12km di sebelah selatan Gua Misliya yang juga ada kemungkinan hunian Neandertals sejak 250 kya. Koeksistensi antara early H. sapiens dan Neandertals di Afrika Utara dan Levant juga ditunjukkan adanya teknologi alat batu Levalloiso-Mousterian (300-65 kya di Jebel Irhoud dan 250 kya di Benzu Cave, Maroko; dan 85-65 kya di Haua Fteah Libya; dan ~250-160 kya di Mt Carmel Levant). Teknologi Mousterian buatan Neandertals yang mengalami reduksi (teknologi Levallois) bisa jadi dibuat oleh early H. sapiens. Karena itu peneliti Gua Misliya berkesimpulan bahwa perkembangan Levalloiso-Mousterian ditandai dengan munculnya early H. sapiens. Teknologi ini ada di Kharga Oasis di sekitar lembah sungai Nil dan pulau Sa’i di Sudan sekitar 220 kya serta situs MSA Gademotta di Ethiopia ~276 kya, menjadikan Maroko dan Levant lebih dulu berkembang dibandingkan wilayah di timur laut Afrika (sebaran MSA dan kemungkinan lokasi early H. sapiens di Afrika Utara bisa dilihat pada gambar di bawah).

Locations of Middle Stone Age sites in North Africa (Scerri et al., 2017)

Dari gambar berikut Anda bisa melihat kluster geraham atas pertama Misliya-1 bersama manusia modern (begitu pula dengan early Homo sapiens Herto dan Jebel Irhoud; baca White et al. 2002, dan Hublin et al. 2017), sedangkan kluster Neandertals berada di kanan-bawah. Di antara keduanya adalah kluster Homo antecessor dan Homo heidelbergensis. Yang menarik di sini adalah manusia Xujiayao, Chaoxian, Hexian, Daoxian berada di antara kluster AMH dan early H. sapiens Levant (Qafzeh). Penjelasan yang mungkin adalah adanya sinyal morfologi gigi modern pada manusia arkaik Asia Timur. Berdasarkan giginya, manusia Liujiang benar berada dalam kluster AMH. Secara umum, gigi Misliya berada dalam garis evolusi Homo sapiens dengan kombinasi gigi taring dan gigi seri menempatkannya secara unik dalam garis evolusi manusia modern. Untuk early H. sapiens Afrika lainnya seperti Omo masih belum menunjukkan sinyal morfologi gigi modern, sehingga menempatkan Misliya sebagai AMH tertua di luar Afrika mendahului early H. sapiens Eurasia lainnya seperti Skhul/Qafzeh di Levant, Daoxian dan Liujiang di China.

Hershkovitz et al., (2018)

Sekarang mari kita lihat perubahan bentuk dan ukuran tempurung otak (endocast) dari beberapa early Homo sapiens yang dibandingkan dengan para pendahulunya (Homo erectus, Homo heidelbergensis, dan Neandertals) serta AMH. Proses globularisasi menuju manusia modern mengikuti pola: daerah dahi (frontal) menjadi lebih tinggi/vertikal, bagian ubun-ubun (parietal) menonjol, sisi-sisi samping makin sejajar, dan bagian kepala belakang (occipital) menjadi lebih bulat dan bagian bawahnya makin lurus/tonjolan berkurang. Selain itu, cerebelum relatif membesar besar dan lebih menonjol, dasar tengkorak lebih tertarik ke atas, dan temporal pole lebih sempit dan berorientasi pada anterior-medial.

Gambar di bawah ini menujukkan hasil perubahan bentuk dan ukuran tempurung otak early H. sapiens dan relasinya dengan AMH atau para pendahulunya.

Modifikasi dari Gunz et al., (2009)

Pertama, kemiripan antara Jebel Irhoud 1 dengan Skhul 5 ditunjukkan dengan relasi dua arah dalam gambar adalah sharing bentuk wajah, morfologi gigi, dan teknologi alat batu diperkuat oleh perubahan bentuk dan ukuran otak yang memiliki kemiripan. Meskipun Jebel Irhoud 1 dan Omo 2 tidak memiliki bentuk globular sebagaimana syarat AMH, kapasitas otaknya sudah melebihi rata-rata AMH (Irhoud 1 1375 cc, Irhoud 2 1467 cc, Omo 2 1491 cc, sedangkan manusia modern rata-rata 1328 cc). Kapasitas otak manusia lebih dulu besar sebelum mengalami globularisasi, dan dari sebagian contoh tadi, sejak kemunculannya manusia memiliki otak yang lebih besar dibandingkan rata-rata otak manusia saat ini. Namun demikian, dengan sebagian besar early Homo sapiens tidak memenuhi syarat globularitas pada bentuk tempurung otak, tidak serta-merta me-negasi statusnya sebagai early H. sapiens. Proses globularisasi terjadi secara gradual dan memakan waktu lebih lama jika dibandingkan dengan proses evolusi pada morfologi gigi yang relatif lebih cepat. Manusia Levant Skhul/Qafzeh memiliki bentuk tempurung otak lebih globular dibanding manusia Jebel Irhoud atau Omo. Proses globularisasi sepertinya terjadi pasca periode hidup early H. sapiens Skhul-Qafzeh sampai sekitar 35 ribu tahun yang lalu setelah divergensi antara populasi Eurasia bagian barat dan timur. Bentuk otak globular parallel dengan kemunculan perilaku dan budaya yang terekam oleh artefak arkeologi. Teknologi Middle Stone Age (MSA) di Afrika muncul bersamaan dengan early H. sapiens Afrika dengan kapasitas otak besar namun morfologi tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan. Bentuk otak globular pada AMH terjadi pada transisi dari MSA to LSA (Later Stone Age) di Afrika dan MP (Middle Paleolithics) ke UP (Upper Paleolithics) di Eurasia. Data genetik secara parallel mendukung perkembangan modernitas manusia dengan analisis DNA purba yang menyimpulkan adanya seleksi dan fiksasi gen yang berperan penting dalam perkembangan sistem syaraf dan fungsi otak.

Kecenderungan proses globularisasi bisa dilihat dari gambar berikut:

Modifikasi dari Neubauer et al. (2018)

Perhatikan arah perubahan globularisasi dari early Homo sapiens Jebel Irhoud 1 menuju early H. sapiens Levant (Skhul/Qafzeh) dan pada akhirnya menuju kondisi AMH. Seperti gambar sebelumnya, relasi Omo 2 dan LH18 dan populasi Aborigin Australia terkonfirmasi dari proses globularisasi. Sayang sekali penelitian ini tidak melibatkan lebih banyak spesimen dari Ngandong (seperti Ngandong 1, 7, 11, dan 12) yang seharusnya berada dalam kluster yang sama dengan early H. sapiens Levant (Skhul 4, 5, dan 9; serta Qafzeh 6 dan 9) di beberapa fitur bentuk dan ukuran tengkorak bagian luar (lihat Radovic et al. 2014). Tapi dari kecenderungan arah evolusi Ngawi, dan bukan Ngandong, mendekati kluster Jebel Irhoud dan Omo 2 menjadi tanda tanya besar. Sambungmacan 3 berada di antara Sangiran 2 dan Ngandong 14 menandakan spesies tersebut lebih tua dibanding Homo soloensis. Beberapa fitur cranial Sambungmacan 3 dan Ngawi berada di antara spesimen Sangiran dan Ngandong (Kaifu, 2017). Sebagai contoh, fitur permukaan tengkorak Sambungmacan 4 mirip dengan spesimen Ngandong. Sedangkan tengkorak Ngawi mirip dengan fitur yang ada pada spesimen Sangiran. Dalam rentang waktu 500 ribu tahun, variasi morfologi antara manusia Sangiran dan Ngandong relatif besar. Terlepas variasi yang besar, manusia purba Jawa (Homo erectus) menunjukkan kontinuitas morfologi yang konsisten sepanjang waktu jika dibandingkan manusia purba China. Jika dilakukan pengukuran ulang metric dan non-metrik pada morfologi manusia purba Jawa, diharapkan akan muncul inferensi yang kuat bahwa terjadi evolusi secara gradual H. soloensis dan kontinuitas evolusi garis keturunan H. erectus di Jawa sejak 1,2 juta tahun yang lalu. Kaifu juga meneliti variasi ukuran tengkorak manusia purba Jawa dan mendapatkan beberapa kesimpulan, bahwa manusia purba Jawa berbeda secara umum dengan manusia purba Afrika yang kontemporer tanpa overlapping. Namun keduanya menunjukkan pola arah evolusi yang mirip: misal di Jawa H. erectus Sangiran → Sambungmacan → Ngandong; sedangkan di Afrika H. ergaster  Turkana Boy → OH9/Daka → Kabwe. Namun perlu digarisbawahi, bahwa di Jawa terdapat dua paleo-demes: satu deme Sangiran sampai Trinil, satu deme lagi Mojokerto (estimasi umur 2.13-1.9 Ma), semua Meganthropus, Sangiran 4, H. soloensis dan Homo floresiensis. Jika H. erectus China lebih dekat dengan H. erectus/H. habilis dari Dmanisi, maka H. erectus Sangiran ada kemungkinan berbeda garis evolusi dari Homo mojokertensis. Saya akan terus menginvestigasi peran dan posisi penting manusia purba Jawa dalam narasi sejarah evolusi manusia.

Modifikasi dari Neubauer et al. (2018)

Kita lanjutkan…

Sharing bentuk dan ukuran endocranial antara early H. sapiens Afrika Utara dan Timur (1) dengan Neandertals (merah) memisahkan mereka dengan early H. sapiens Levant yang sedang menuju globularisasi AMH. Sambungmacan 3 berada di antara Sangiran 2 dan Ngandong 14. Walau secara bentuk dan ukuran otak masih berada di kluster Homo erectus, manusia Ngandong dan Sambungmacan sudah meninggalkan garis evolusi H. erectus di fitur lain seperti morfologi gigi dan bentuk wajah. Secara keseluruhan, individu dalam kluster H. erectus mampu menjaga panjang endocast selama mengalami regresi secara alometrik. Dengan peningkatan ukuran endokranial, serebrum di atas batang otak dan serebelum makin membesar.

Dari dua gambar tadi, bisa dilihat proses globularisasi dari Homo erectus menuju Homo heidelbergensis/proto Neandertals, kemudian menuju Neandertals, di mana bersinggungan dengan early H. sapiens (300-200 kya), berlanjut menuju early H. sapiens periode berikutnya (130-100 kya), dan pada akhirnya menuju globularisasi AMH mulai 100-35 kya. Proses modernisasi morfologi gigi sepertinya terjadi setelah 200 kya, dan bentuk wajah modern sudah muncul sejak 300 kya atau bahkan lebih awal (jika kita mempertimbangkan bentuk wajah Homo antecessor). Bentuk dagu menonjol (positif) juga mulai muncul pada early H. sapiens Skhul/Qafzeh, Omo 1 dan Dar-es-Soltane. Bukti tersebut menunjukkan adanya peristiwa spesiasi yang membedakan garis evolusi H. sapiens dengan garis keturunan H. heidelbergensis/proto-Neandertals. Kombinasi dari data morfologi bentuk wajah dan perkembangan gigi serta perubahan bentuk dan ukuran tempurung otak mengkonfirmasi bahwa bentuk otak manusia tidak berevolusi sejak awal munculnya garis evolusi Homo sapiens. Proses akhir globularisasi dengan temuan fiksasi gen yang bertanggung jawab atas perkembangan otak manusia kemudian menghasilkan perilaku modernitas manusia dengan budayanya yang berkembang terus sampai saat ini.

Dari beberapa temuan di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa ada kaitan yang kuat antara Afrika Utara dan Levant dari morfologi, teknologi alat batu dan merupakan hunian Neandertals dan early H. sapiens. Afrika Timur (Omo 2 dan Herto) juga terkait dengan Afrika Utara namun umurnya lebih muda, dan cenderung tidak bergerak ke utara, tapi menuju ke selatan (lokasi Laetoli/LH18 di Tanzania). Apakah keduanya merupakan kontinuitas dengan hibridisasi, ataukah koeksistensi keduanya tanpa adanya hibridisasi hanya bisa ditentukan melalui analisis DNA purba. Skenario yang sama juga bisa diaplikasikan pada relasi antara Afrika Utara dan Levant. Dengan Afrika Timur dan Selatan tidak lagi memiliki dasar yang kuat sebagai asal early H. sapiens, yang asumsi tersebut juga dipakai oleh disiplin genetika dalam menentukan asal-usul manusia berdasarkan uniparental markers (L3 sebagai leluhur garis maternal (mtDNA) M dan N di Eurasia; garis paternal (NRY) A dan B sebagai leluhur semua garis paternal Eurasia (Y haplogroup CDEF) dan L0 sebagai mtDNA tertua (padahal Lod baru muncul pada periode LSA ~60-50 kya di Afrika Tengah dan 48 kya di Afrika Selatan), maka tidak ada alasan yang kuat bagi Konsensus untuk mempertahankan hipotesisnya.

Analisis DNA purba Afrika Selatan menempatkan divergensi garis evolusi molekuler Homo sapiens pada 350-260 kya juga tidak secara spesifik menempatkannya keturunan basal H. sapiens berada di Afrika (Schlebusch 2017). Dalam penelitian tersebut, Schlebusch menempatkan divergensi manusia modern awal sebelum 300 kya, sebelum munculnya early H. sapiens Florisbad beserta teknologi MSA di Afrika Selatan (260-279 kya). Bisa saja early H. sapiens muncul di lokasi di mana Levalloiso-Mousterian paling awal berada: yaitu Afrika Utara dan Levant (300-250 kya). Dan juga tidak menutup kemungkinan jika Levaloiso-Mousterian juga muncul di lokasi lain di Eurasia (Iran, Pakistan, India, Kazakhstan, Uzbekistan, Siberia, dan bahkan di China). Di bagian selatan pegunungan Kaukasus, yang selama ini jarang diperbincangkan, juga terdapat perkembangan teknologi litik Levalloiso-Mousterian di Nor Geghi 1 (440-308 kya) dan gua Azokh 1 di Armenia (300-71 kya) di mana juga ditemukan fosil manusia arkaik (300-260 kya, sementara diklasifikasikan sebagai H. heidelbergensis namun gigi gerahamnya memiliki kemiripan dengan early H. sapiens Skhul IV; dan 184-71 kya yang diklasifikasikan sebagai Neandertals. Temuan terakhir di Azokh 2 dan Azokh 5 fosil gigi AMH, namun belum pasti sejauh mana sebaran dan umurnya). Jika sinyal morfologi gigi modern sudah terdeteksi di Kaukasus ~260 kya, maka berdasarkan konsensus yang ada, manusia Azokh sudah berada dalam garis evolusi H. sapiens.

Contoh lain adalah temuan rahang (Tabun C2) di Gua Tabun, berdekatan dengan lokasi Gua Skhul, dengan estimasi umur 135-170 kya. Harvati dan Lopez (2017) tidak bisa mengelompokkan rahang tersebut ke dalam kluster Neandertals, dan tidak juga bisa masuk dalam kluster AMH Upper Paleolithic, namun lebih dekat dengan spesies dari Middle Paleolithic Eropa. Namun pada kesimpulannya, Harvati dan Lopez mempertimbangkan skenario terjadinya hibridisasi antara Neandertals dan early H. sapiens terjadi di Gua Tabun (berdasarkan lapisan Tabun C2). Hibridisasi kedua spesies di Levant memang menjadi norma pada periode Middle Paleolithic. Bailey et al. (2017) mencoba menginvestigasi hal ini dan menemukan bahwa jika Neandertals dan early H. sapiens sering melakukan interbreeding (kawin campur) maka akan terlihat morfologi campuran tersebut setidaknya pada morfologi gigi. Jika morfologi gigi modern diidentifikasi pada early H. sapiens maka manusia tersebut harus diklasifikasikan ke dalam manusia modern (AMH), tidak memandang apakah masih memiliki fitur primitif yang lain atau umurnya terlalu tua sebagai manusia modern. Namun jika morfologi gigi masih primitif, maka fitur yang harus dilihat adalah bentuk wajah, atau sementara tidak diklasifikasikan dalam garis evolusi H. sapiens. Dengan mulai banyaknya Levallois points sejak 170 kya dibanding periode sebelumnya, kemungkinan keberadaan early H. sapiens di Tabun sejak 170-135 kya menjadi lebih jelas. Bukti keberadaan early H. sapiens di Mount Carmel sejak 200-100 kya, mulai dari periode Misliya dan Tabun kemudian sampai pada periode Skhul dan Qafzeh menunjukkan bahwa hipotesis sebaran early H. sapiens yang gagal (failed dispersal) sepertinya tidak lagi mendapat dukungan yang kuat. Kita tunggu sampai ada bukti-bukti baru di Levant dan Kaukasus yang diharapkan mampu mengubah paradigma konsensus akademik terkait asal-usul manusia modern.

Dengan prasyarat Homo sapiens mengalami pergeseran, adakah kita melihat konsensus melakukan perubahan fundamental terkait asal-usul H. sapiens? Globular memang penentu modernitas, namun garis evolusi H. sapiens seharusnya tidak bergantung pada modernitas salah satu karakter penentu. Mengingat divergensi Neandertals dan H. sapiens terjadi lebih dari 500 ribu tahun yang lalu, dan evolusi terjadi secara gradual di beberapa wilayah Afrika dan Eurasia, maka tidak lagi akurat menempatkan Afrika sebagai satu-satunya lokasi evolusi manusia modern, terlebih lagi mengikuti konsensus akademik dengan dasar asumsi early H. sapiens Omo dan Herto sebagai manusia modern tertua. Jebel Irhoud, Florisbad, Misliya (dan mungkin Qesem), Dali, Daoxian, Xuchang, serta kemungkinan juga Azokh di pegunungan Kaukasus dan Homo soloensis di Jawa, merupakan bukti-bukti yang selama ini membisu karena tidak pernah dilibatkan atau bahkan dikesampingkan oleh konsensus. Namun jangan pernah berpikir bahwa ketiadaan bukti sama seperti saksi bisu yang bersaksi tentang sesuatu yang tidak ada, ketika seharusnya ada. Sesuatu ini ada, dan ketika para saksi bisu mulai bicara, diharapkan paradigma konsensus mulai bergeser dan menjadi tidak relevan lagi sebagai narasi utama sejarah evolusi manusia modern. Salah satu pendukung konsensus baru-baru ini berkomentar bahwa untuk bisa diklasifikasikan sebagai AMH maka harus memiliki sebagian besar prasyarat tadi. Jika mengikuti logika tersebut, semua manusia modern yang hidup sebelum 35 ribu tahun yang lalu kemungkinan besar tidak bisa dikasifikasikan sebagaiAMH, karena syarat globular braincase tidak terpenuhi. Manusia Ust-Ishim, Pestera cu Oase, Kostenski-14, Tianyuan, Niah Cave kemungkinan besar belum termasuk AMH. Dengan logika tersebut, seharusnya early H. sapiens Omo dan Herto juga tidak bisa diklasifikasikan sebagai AMH, karena globular braincase dan bagian frontal yang tidak vertikal tidak memenuhi kriteria AMH. Padahal narasi sederhana out of Africa tiga dekade yang lalu mendasarkan hipotesisnya pada early H. sapiens Omo dan Herto.

Sampai kapan kita harus memanjakan konsensus akademik dengan melakukan revisi teori out of Africa secara berkala, atau selalu mencari alasan untuk menghindari bukti-bukti baru, bahkan saat ini dilakukan setiap bulan? Jika konsensus akademik tidak tergoyahkan setelah adanya temuan baru maka harus ada perubahan paradigma yang fundamental meskipun harus dilakukan dalam waktu yang lama. Publik memerlukan penjelasan yang sejelas-jelasnya tanpa ada yang disembunyikan, karenanya perlu digelar sidang gugatan transparansi terhadap konsensus akademik atas monopoli yang tidak sesuai dengan era keterbukaan saat ini. Jika saja di dunia ini ada Mahkamah Evolusi untuk menguji konsensus akademik, mungkin kita bisa lebih mudah memahami sejarah evolusi spesies kita ini. Karena, jika konsensus akademik tidak terlalu sering direvisi atau tidak lagi memakai hipotesis yang tidak terbukti berdasarkan data-data terbaru, maka narasi sejarah evolusi manusia akan lebih memberikan kejelasan dibanding hanya mengundang perdebatan panjang tanpa kesepakatan yang jelas. Bayangkan jika ada Mahkamah Evolusi, dengan Hakim Ketua dan beberapa hakim anggota yang ahli dalam beberapa disiplin keilmuan terkait evolusi manusia namun tidak memilik agenda seperti konsensus akademik, maka setiap manusia berhak mengajukan uji materi ke Mahkamah Evolusi dengan menghadirkan bukti-bukti baru dan saksi ahli di bidang terkait, sehingga ada kesempatan untuk mengurangi monopoli konsensus akademik dalam menyusun narasi sejarah evolusi manusia modern.

Jika saya mengajukan uji materi, maka saya mewakili diri sendiri karena rasa penasaran yang luar biasa, dan mungkin mewakili sebagian publik yang meragukan narasi evolusi manusia modern. Bukti-bukti tersebut di atas adalah temuan baru, kesaksian para ahli dan para saksi yang tidak pernah dikemukakan dalam uji materi, karena para saksi tersebut sebagian besar membisu, atau tidak dilibatkan dalam menyusun narasi sejarah evolusi manusia sebelumnya. Para saksi bisu sudah mulai bicara, dan masih banyak saksi-saksi bisu lain menunggu giliran bersaksi.

Jika diibaratkan sebuah mosaik yang terdiri dari 1000 fragmen, maka kita hanya memiliki tidak lebih dari 50 fragmen untuk melihat gambaran lengkap asal-usul manusia modern secara jelas. Dengan 50 fragmen tersebut, kita hanya bisa melihat gambar tersebut secara samar, dan tidak semua fragmen memberikan jawaban definitif untuk mengubah paradigma konsensus. Untuk bisa melihat relasi dari 50 fragmen tersebut publik harus dibantu oleh para ahli yang menterjemahkan masing-masing fragmen tadi. Dan tentunya masih butuh 950 fragmen lainnya yang bisa jadi tersebar di berbagai belahan bumi; bisa di loker museum, bisa jadi masih leyeh-leyeh di banyak gua-gua terpencil di Eurasia, bisa juga tenggelam ketika zaman es berakhir, atau bisa juga berserakan di bantaran sungai Bengawan Solo, menunggu untuk ditemukan dan diajukan ke Mahkamah Evolusi. Jika uji materi ini dilakukan secara berkala, tidak menutup kemungkinan terjadi perubahan paradigma yang selama ini menjadi monopoli Konsensus.

Pada akhirnya, seperti biasa, Mahkamah Evolusi yang akan memutuskan bahwa DNA purba tetap menjadi penentu akhir.

 

Sampai jumpa di sidang Makmamah Evolusi yang akan datang….

 

Iklan

2 responses to “Ketika Para Saksi Bisu Mulai ‘Bicara’

  1. Ping-balik: Tentang Siapa Leluhur Homo sapiens | The Forgotten Motherland·

  2. Ping-balik: Dari Out of Africa ke African Multiregionalism | The Forgotten Motherland·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s