Radar TFM April 2020


classic-erectusClassic Homo erectus dari Sangiran-Trinil, Jawa, periode Middle Pleistocene

Bulan April dibuka dengan beberapa penelitian menarik yang mengonfirmasi apa yang telah diulas dalam berbagai tulisan di TFM, dan juga mengoreksi hipotesis yang selama ini mendapat perhatian khusus. Tulisan terbaru yang membahas perihal status kandidat kuat leluhur manusia modern dari Afrika yang terus direvisi, dan Eurasia Timur akan menulis ulang sejarah evolusi manusia modern.

Penelitian pertama dari Rainer Grün dan Chris Stringer bersama kolega tentang Dating the skull from Broken Hill, Zambia, and its position in human evolution. Grün bersama kolega berhasil melakukan penanggalan ulang spesies manusia yang selama ini dikenal sebagai Homo rhodesiensis atau versi Afrika dari Homo heidelbergensis, dengan umur barunya sekitar 299000 tahun (274-324 Kya). Umur ini terlalu muda untuk menjadi kandidat leluhur Homo sapiens dan Neandertal, tapi bisa jadi mendukung hipotesis sebelumnya bahwa Homo rhodesiensis adalah bagian dari kelompok ghost archaic yang mewariskan segmen arkaik pada populasi manusia modern di Afrika Barat dan Timur.

Penelitian berikutnya dari Frido Welker bersama kolega, The dental proteome of Homo antecessor, yang menganalisis paleoproteomik dari Homo antecessor dari Gran Dolina berumur ~860000 tahun, dan juga Homo erectus dari Dmanisi berumur ~1,77 Mya. Hasilnya menunjukkan bahwa Homo antecessor merupakan sister group dari leluhur Homo sapiens, Neandertal, dan Denisovan. Dengan hasil ini, posisi Homo antecessor sebagai salah satu kandidat terkuat dari leluhur bersama Homo sapiens, Neandertal, dan Denisovan tidak mendapat dukungan secara genetika. Lalu, siapakah kandidat terkuat selanjutnya? Varian regional Homo erectus, baik yang berada di Levant maupun di Asia Timur, selama periode Middle Pleistocene. Sayang sekali hasil analisis protein dari Homo erectus Dmanisi tidak cukup untuk mengungkap relasinya dengan Homo sapiens, Neandertal, dan Denisovan.

Tim peneliti juga mengungkap bahwa fitur wajah modern yang menjadi faktor penting dijadikannya Homo antecessor sebagai kandidat leluhur Homo sapiens merupakan fitur yang telah ada sejak awal periode Middle Pleistocene. Fitur tersebut juga terdeteksi pada Homo erectus di Asia Timur seperti Yunxian, Nanjing, dan Zhoukoudian, serta mungkin di Levant (Zuttiyeh). Sedangkan fitur braincase yang dimiliki Neandertal adalah fitur turunan. Implikasi dari hipotesis ini adalah bahwa sebagian besar early Homo sapiens di Afrika periode Middle Pleistocene seperti Jebel Irhoud, Eliya Springs, Herto, dan Omo, kemungkinan besar tidak berada dalam garis evolusi menuju Homo sapiens. Atau, bisa jadi mereka adalah hybrid antara early Homo sapiens dan ghost archaic Afrika seperti Homo rhodesiensis. Periode Middle Pleistocene di Sub-Sahara Afrika dihuni berbagai spesies di luar leluhur Homo sapiens seperti Homo naledi, Homo helmei, Homo rhodesiensis, dan keberadaan early Homo sapiens kemungkinan besar setelah 160000 tahun yang lalu jika merujuk pada manusia Herto dan Jebel Irhoud (yang umur awalnya hanya 160000 tahun).

Analysis of Haplotypic Variation and Deletion Polymorphisms Point to Multiple Archaic Introgression Events, Including from Altai Neanderthal Lineage. Populasi Eurasia mewarisi genetik Neandertal Altai dan Vindija. Hal ini mengindikasikan bahwa early Homo sapiens yang bertemu Neandertal Altai masih mewariskan DNA pada populasi Eurasia saat ini, terutama populasi Asia Timur dan Asia Tenggara. Neandertal Altai hidup sekitar 122000 tahun yang lalu, tapi peristiwa admixture keduanya bisa terjadi sebelumnya. Konsensus akademik berpegang pada hanya sekali peristiwa admixture sekitar 54000 tahun yang lalu dengan kelompok Neandertal yang direpresentasikan oleh Neandertal Vindija. Sekarang mereka menemukan segmen DNA yang hilang (genetic deletions) dari populasi Eurasia (Asia Timur dan Tenggara) dan Neandertal Altai. Mereka berkesimpulan, bahwa “Altai Neanderthal lineage ‘represents the ancestral lineage of Neanderthals and was sampled only in Asia and late Neanderthals’, while the other lineage ‘replaced the ancestral Neanderthal lineage in Europe ~50,000 years ago’.”

“Every single ancient genome that is sequenced seems to create a completely new perspective in our understanding of human evolution, and every new genome that’s sequenced in the future may completely change the story again.”Omer Gokcumen

The endocast of the late Middle Paleolithic Manot 1 specimen, Western Galilee, Israel. Analisis rinci ukuran dan bentuk tengkorak bagian dalam dari Manot 1 mengindikasikan fitur tengkorak Homo sapiens, meskipun keberadaan fitur primitif masih teramati di bagian luar. Karakter turunan pada tengkorak bagian dalam meragukan pandangan bahwa Manot 1 memiliki keturunan Neandertal. Tengkorak Manot 1 lebih mirip dengan manusia Upper Paleolithic dibanding dengan pendahulunya di Levant seperti Skhūl/Qafzeh.

Contemporaneity of Australopithecus, Paranthropus, and early Homo erectus in South Africa. Tim peneliti mengungkap keberadaan fosil Homo erectus dan Paranthropus robustus dalam gua karst di Drimolen, Afrika Selatan, berumur 2,04-1,95 Mya. Temuan ini menunjukkan kohabitasi antara Australopithecus, Paranthropus, dan early Homo erectus di Afrika Selatan sekitar 2 Mya.

anton2020

Berdasarkan perkiraan usia untuk penemuan fosil tengkorak terbaru ini menunjukkan bahwa spesies Australopithecus sediba mungkin bukan nenek moyang langsung genus Homo, seperti yang diperkirakan sebelumnya. Ukuran dan bentuk braincase spesimen Drimolen (DNH 134) membatasi afiliasinya dengan dua early Homo Afrika yang ada saat itu (Homo rudolfensis dan Homo habilis). Homo erectus memiliki braincase yang bentuknya berbeda dibandingkan dengan early Homo lainnya, dan yang ini bahkan berumur dua-tiga tahun ketika meninggal; atas dasar ini, peneliti mengklasifikasikan DNH 134 sebagai Homo aff. erectus. Namun, banyak diferensiasi antara early Homo di Afrika Timur didasarkan pada morfologi wajah, bukan bentuk dan ukuran braincase. Mungkin lebih banyak spesies memiliki bentuk otak seperti DNH 134 tetapi berbeda dalam anatomi wajah, sehingga mengaburkan keragaman yang ada. Ini juga menjadi kekhawatiran di sebagian besar Homo erectus Asia yang juga banyak yang tidak memiliki sisa-sisa wajah.

Technological innovations at the onset of the Mid-Pleistocene Climate Transition in high-latitude East Asia.

The spatiotemporal spread of human migrations during the European Holocene. Ekspansi populasi Yamnaya pada zaman perunggu lebih berpengaruh pada perubahan vegetasi di Eropa dibanding ekspansi petani Neolitik dari Anatolia.

Mitogenomes Reveal Rapid Settlement of Sahul and Subsequent Movements between Wallacea and New Guinea, but not Australia. Dalam HUGO Human Genome Meeting 2020, Gludhug A. Purnomo mempresentasikan analisis filogeografis 360 mitogenome baru dari kelompok etnis yang sebelumnya tidak diketahui di kepulauan Wallacea (Ternate, Kei, Aru, Yamdena, Vayu, Rote-Ndao) dan Papua Barat (Keerom, Basman, Sorong), yang dikombinasikan dengan mitogenome yang tersedia dari populasi Aborigin Australia dan Papua Nugini. Selaras dengan penelitian sebelumnya, Purnomo dan kolega menyimpulkan waktu kedatangan leluhur Australo-Papuan ke Sahul sekitar 52-45 kya dan mendeteksi pembagian haplogroup garis maternal yang berbeda antara populasi Australo-Papuan. Tim peneliti mengamati struktur filogenetik yang kompleks untuk mitogenome Wallacea dan Australo-Papuan, dengan sampel Wallacea bersarang di dalam haplogroup yang spesifik dimilik populasi Papua. Secara keseluruhan, hasilnya menunjukkan bahwa proses kolonisasi Sahul cukup cepat, dan kemudian para migran terus bergerak antara Papua dan Wallacea, tetapi pergerakan selanjutnya antara Wallacea dan Australia lebih terbatas, atau tidak ada.

ono2020

Island migration and foraging behaviour by anatomically modern humans during the late pleistocene to Holocene in Wallacea: New evidence from Central Sulawesi, Indonesia. Gua Topogaro di pesisir timur Sulawesi Tengah berpotensi sebagai salah satu situs hunian manusia modern di Wallacea setelah ditemukan alat batu dan alat dari tulang yang setidaknya berumur 30000 tahun, dan mungkin lebih, karena baru digali di kedalaman 3 meter. Kontinuitas budaya di Gua Topogaro berlangsung hingga zaman besi, termasuk bukti keberadaan tembikar khas Lapita.

Human settlement of East Polynesia earlier, incremental, and coincident with prolonged South Pacific drought.

Evolutionary history of modern Samoans. Analisis genome dari 1197 individu Samoa saat ini mencoba menjawab perdebatan terkait sejarah populasi Samoa. Hasil penting yang perlu digarisbawahi adalah bahwa populasi Samoa saat ini rata-rata mewarisi garis keturunan Papua sekitar 25%, dan penutur Austronesia sekitar 75%. Komponen penutur Austronesia tersebut ternyata berbeda dari komponen Asia Timur yang diturunkan sebagian besar dari China Selatan (Dai, Tujia) dan Semenanjung Mekong (Kihn), serta Aborigin Taiwan (Ami). Hal ini konsisten dengan kedatangan pekerja kontrak (huagong) sekitar abad ke-19 (1865-1909) dari China Selatan, dan bukan dari China Utara (Han). Bagaimana dengan populasi Lapita dan dugaan mereka berasal dari Taiwan? Sayangnya terjadi perubahan demografis sekitar 1000 tahun yang lalu, mengindikasikan terjadinya pergantian populasi. Jejak mereka bisa saja menghilang, sehingga potret genome populasi Samoa sebelum 1000 tahun yang lalu merupakan populasi pendatang yang sudah bercampur dengan populasi keturunan Papua (kemungkinan dari Mikronesia; harus dikonfirmasi dengan data DNA kuno), dan bukan merupakan populasi awal Lapita. Sedangkan populasi Samoa saat ini, yang terbaca dominan sebagai komponen penutur Austronesia, sudah merupakan populasi campuran sebelum sampai Samoa sekitar 1000 tahun yang lalu, karena memiliki varian yang berbeda dari populasi China Selatan dan Semenanjung Mekong serta Aborigin Taiwan. Perubahan demografis terjadi lagi sekitar 300 tahun yang lalu, bertepatan dengan kedatangan bangsa Eropa yang juga membawa budak dari Afrika (Yoruba dan Gambia).

Salah satu materi pertemuan tahunan AAPA 2020 yang sedianya digelar 15-18 April di Los Angeles, berjudul Spatial patterning in the evolution and diversity of early modern humans in East Asia, tentang pola sebaran keragaman morfologis early Homo sapiens di 34 lokasi di Asia Timur periode 300-20 Kya, yang dianalisis oleh Lynne A Schepartz, Xiujie Wu, dan Wu Liu. Hasil analisis menunjukkan adanya dua variasi morphotypes yang tersebar di bagian utara dan selatan China.

Identifikasi fitur seperti Neandertal pada dasarnya diatribusikan pada fitur braincase, morfologi supraorbital, grasilitas tengkorak bagian belakang-bawah (occipital) lebar wajah bagian tengah, dan bentuk nasal, pada beberapa spesimen seperti Dali (270-260 Kya), Jinniushan (200 Kya) dan Xuchang (125-105 Kya). Selain itu atribusi bentuk labyrinth Neandertal pada spesimen Xujiayao (240-160 Kya) dan Xuchang, tapi tidak pada spesimen Liujiang (130-70 Kya). Fitur spesifik (turunan) Neandertal tidak teramati pada morfologi gigi Jinniushan, Liujiang dan Tianyuan (40 Kya), menunjukkan arah evolusi menuju manusia modern. Morfologi seperti Neandertal tersebar di bagian utara China, memunculkan pertanyaan tentang adanya adaptasi terhadap iklim dari fitur craniofacial di Eurasia bagian utara terkait dengan adanya aliran gen dari Neandertal yang telah dibuktikan dengan analisis DNA kuno.

Kemiripan manusia Middle Pleistocene Asia Timur dengan manusia modern sebagian besar konsisten teramati pada morfologi gigi seperti pada spesimen Zhirendong (190-130 Kya), Fuyan (120-80 Kya), Huanglong (101-81 Kya), Panxian Dadong (296-233 Kya), Tongzi (240-172 Kya), dan lainnya. Dan juga terkait perkembangan gigi pada Xujiayao hominins, Tianyuan, dan Liujiang. Menarik sekali ketika Panxian Dadong, Tongzi, dan Xujiayao mengikuti tren evolusi menuju morfologi gigi manusia modern. Kontinuitas karakter gigi manusia awal Asia Timur mendukung adanya pola bentuk gigi early Homo sapiens yang mengalami modifikasi, terutama mahkota gigi seri dan taring, yang secara spesifik dimiliki manusia modern Asia Timur, dan tidak terpengaruh oleh proses adaptasi terhadap iklim serta tidak adanya aliran gen dari Neandertal seperti yang teramati pada fosil-fosil di bagian utara China. Pola ini juga tercermin pada morfologi manusia modern di bagian selatan China yang memperlihatkan morfologi ancestral jika dibandingkan dengan manusia modern bagian utara.

Fitur gigi modern pada spesimen Panxian Dadong memberi petunjuk keberadaan garis keturunan Homo sapiens yang cukup awal di Asia Timur, bahkan lebih awal dari Jebel Irhoud di mana fitur giginya masih berada pada fase Neandertal, dan kemungkinan adanya multiple paleodemes, dari garis evolusi late-surviving Homo erectus yang direpresentasikan oleh manusia Changyang (196-194 Kya) dan Hexian (437-387 Kya), serta garis evolusi non-erectus yang direpresentasikan oleh Panxian Dadong dan Tongzi, di Asia Timur selama pertengahan hingga akhir periode Middle Pleistocene.

Masih dari materi AAPA 2020, Milford H Wolpoff, paleoantropolog penggagas hipotesis Multiregional Evolution, dalam studi yang belum dipublikasikan mencoba mengangkat kembali status manusia Ngandong, Sambungmacan, dan Ngawi, sebagai bagian dari early Homo sapiens, berdasarkan kemiripan morfologi dengan manusia Wilandra Lakes (WLH 50) di Australia yang hidup sekitar 40000 tahun yang lalu (dalam materi lain, ada kemiripan antara spesimen Lake Mungo yang berumur sekitar 40000 tahun dengan spesimen rahang bawah dari Ginora, di Spanyol, yang berumur 66000 tahun). Wolpoff dan kolega juga menegaskan adanya kontinuitas regional dari Homo erectus Jawa dengan populasi modern Australo-Papuan. Dengan demikian transisi dari Homo erectus menuju Homo sapiens melalui Homo soloensis seperti manusia Ngandong, Sambungmacan, dan Ngawi, mungkin terjadi jika mereka adalah bagian dari garis evolusi Homo sapiens (tapi tidak melalui proses anagenesis). Jika tidak melalui proses anagenesis, maka variasi morfologi tengkorak manusia Ngandong, Sambungmacan dan Ngawi serta Aborigin Australia lebih dipengaruhi oleh isolasi genetik / drift atau adaptasi terhadap lingkungan lokal (geographical isolation) daripada adanya aliran gen atau tekanan seleksi konvergen yang terjadi di Sunda dan Sahul.

grimaud-herve2020 PCABentuk endocranial dari Dominique Grimaud-Hérve et al. (2020)

Dari studi Grimaud-Hervé bersama kolega terlihat dalam PCA bahwa beberapa representatif dari classic erectus (Trinil 2, Sangiran 10, 12, dan 17), dan Homo soloensis (Ngandong 7 dan 12) berada dalam rentang variasi early Homo sapiens. Sambungmacan 3 dan Sangiran 2 agak menjauh karena karakter primitif yang mungkin lebih dominan. Sayang sekali studi ini tidak mengikutsertakan tengkorak Ngawi 1. Namun, kita perlu menunggu analisis kemiripan antara fragmen parietal Denisova 13 dan Ngawi 1, sebelum mengambil kesimpulan bahwa Ngawi 1 termasuk early Homo sapiens. Proses transisi ini bisa saja terjadi dalam konsep spesies biologis. Namun tetap harus menyertakan bukti secara genetik. Atau analisis paleoproteomik, jika memungkinkan.

Large mammal hunting and use of aquatic food resources in the Early Palaeolithic (finds from Early Acheulean sites in the southern Azov Sea region). Manusia purba pembuat teknologi Early Acheulean di situs Kermek, Semenanjung Taman, sekitar 2,1-1,8 juta tahun yang lalu sangat bergantung pada sumber pangan akuatik dengan kandungan protein yang tinggi seperti kerang, bangkai hewan laut, lumba-lumba, dan ikan. Perlu diperhatikan, manusia purba di perbatasan Eropa Selatan, Rusia, dan Kaukasus tersebut hidup 100000-200000 ribu tahun sebelum Out of Africa 1.

Salah satu materi AAPA 2020 yang patut ditunggu publikasinya adalah penelitian Tood Wood, An expanded character set for evaluating the phylogenetic position of Homo floresiensis. Penelitian ini melanjutkan analisis filogenetik dari Debbie Argue et al. (2017), berdasarkan 133 karakter dan sebelas taksa yang mengimplikasikan kedekatan afinitas antara Homo floresiensis dan Homo habilis. Selain itu, Mana Dembo et al. (2016) juga melakukan analisis filogenetik berdasarkan 391 karakter dan 24 taksa yang menempatkan Homo floresiensis pada posisi basal percabangan clade Homo, atau bisa dikatakan sebagai representatif dari early Homo. Wood mencoba meneruskan upaya tersebut dengan menambahkan 29 karakter dari Argue ke dalam supermatrix dari Dembo, sehingga menghasilkan 55 karakter Homo floresiensis untuk dianalisis ulang menggunakan supermatrix yang telah update. Sekarang karakter Homo floresiensis meningkat tiga kali lipat dari 42 menjadi 126 karakter dalam supermatrix yang telah diperbaharui dengan menambahkan 48 karakter Ardipithecus ramidus dari Carrie S Mongle et al. (2019), 50 karakter dari Australopithecus anamensis dari Yohannes Haile-Selassie et al. (2019), dan satu karakter Homo antecessor dari Francesc Ribot Trafí et al. (2018). Analisis filogenetik awal dari supermatrix yang diperbaharui ini tidak mengubah posisi clade dari analisis Dembo bersama kolega, bahkan hampir seluruhnya sesuai. Posisi Homo floresiensis, Au. anamensis, dan Ar. ramidus tidak mengalami perubahan. Homo floresiensis masih berada pada posisi basal early Homo, dan menjadi representatif dari leluhur genus Homo yang masih bertahan hingga 50000 tahun yang lalu di Kepulauan Wallacea, Indonesia.

dembo2016

Satu lagi materi AAPA 2020 tentang Homo floresiensis dari Robert B Eckhardt dan Maciej Hanneberg, yang masih bertahan dengan hipotesis bahwa Homo floresiensis adalah bagian dari Homo sapiens yang mengalami kelainan. Penelitian dengan judul Confirmation of dynamic adaptive evolutionary changes in normal human body size over time on the island of Flores, Indonesia ini didasarkan pada hasil analisis dari José Alexandre F Diniz-Filho, et al. (2019) yang meneliti evolusi adaptif dari ukuran tubuh populasi Rampasasa, yang berada tidak jauh dari Liang Bua. Materi ini pernah dibahas oleh mendiang Professor Teuku Jacob bersama kolega (2006) yang menyimpulkan bahwa Homo floresiensis pada dasarnya adalah populasi manusia modern Pygmoid-Australomelanesoid. Karena selama ini fokus penelitian Hanya pada tinggi badan Homo floresiensis, Eckhardt mencoba menganalisis berat tubuh populasi Rampasasa dan estimasi berat tubuh Homo floresiensis setelah tinggi badannya direvisi berdasarkan perkembangan abnormalitas. Estimasi baru Eckhardt berkisar antara 19-31 kg. Simulasi yang dilakukan Diniz-Filho menunjukkan reduksi dari 45-55 kg menjadi 25-30 kg terjadi selama 2250-10125 tahun. Selain itu, melihat spesimen Mata Menge yang lebih kecil dari Homo floresiensis (~15% lebih kecil), tetapi masih sama dengan Homo luzonensis dari Filipina, Eckhardt menduga ada peningkatan ukuran badan terjadi di Flores. Populasi Rampasasa rata-rata memiliki berat badan 40-45 kg, meskipun leluhur mereka bisa jadi berada di Flores lebih dari 10000 tahun yang lalu (berdasarkan genomenya, populasi Rampasasa memiliki keturunan Australo-Papuan sekitar 23-25%), dan ada kemungkinan tidak mengalami reduksi tinggi badan. Migrasi dan rekolonisasi sangat mungkin terjadi di Flores, mengingat keturunan proto-Melayu dan petani Neolitik dari daratan Asia Tenggara juga terdeteksi dalam genome populasi Rampasasa. Tren yang non-linier dari ukuran badan mengindikasikan adanya perbedaan berat tulang selama periode Holocene, sehingga spesiasi berdasarkan komponen tinggi dan berat badan menjadi kecil kemungkinannya. Hal ini mendasari Eckhardt untuk mempertanyakan atribusi Flores hominins sebagai keturunan Homo erectus atau sebagai spesies baru representasi dari early Homo. Populasi Rampasasa adalah representasi dari Pygmoid-Australomelanesoid, sebagai kontinuitas dari Homo floresiensis yang jejaknya ditemukan di Liang Bua ~200-50 Kya.

skov2020

The nature of Neanderthal introgression revealed by 27,566 Icelandic genomes. Laurits Skov bersama kolega menganalisis fragmen arkaik pada 27566 populasi Eslandia dan menemukan sekitar 56388-112709 fragmen arkaik yang unik (84,5% mirip fragmen Neandertal: 50,8% Vindija Neandertal, 13,1% Altai Neandertal, dan 20,4% Neanderta-Denisovan; 3,3% fragmen Denisovan; dan 12,2% yang masih misterius atau bukan dari Neandertal maupun Denisovan). Hasil ini cukup menarik, karena populasi Eslandia mewarisi DNA Denisovan lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya, dan bukan produk dari incomplete lineage sorting. Ini adalah indikasi kuat adanya aliran gen dari kelompok manusia Denisovan ke leluhur manusia modern Eurasia, dan fragmen Denisovan tersebut bukan bagian dari peristiwa introgresi Neandertal yang sebelumnya bertemu dengan Denisovan. Skov dan kolega secara intensif menginvestigasi populasi Neandertal yang mewariskan fragmen DNA ke leluhur manusia modern untuk melihat apakah Neandertal tersebut merupakan populasi campuran Neandertal dan Denisovan. Karena asumsi selama ini adalah introgresi Neandertal, yang berkerabat dekat dengan Neandertal Vindija (umur 60000 tahun) ke leluhur manusia modern, tidak mewarisi DNA Denisovan. Dan berdasarkan temuan terbaru dari Taskent dan Gokcumen (2020), introgresi Neandertal juga berasal dari kerabat dekat Neandertal dari Altai (Denisova 5; umur 122000 tahun). Fragmen-fragmen panjang yang terdeteksi pada populasi Eslandia ternyata lebih dekat kekerabatannya dengan genome Neandertal Altai dan Denisovan. Penjelasan yang mungkin adalah adanya introgresi dari kelompok manusia arkaik yang berkerabat dengan Denisovan dan Neandertal Altai ke kelompok Neandertal lain yang bertemu dengan leluhur manusia modern.

Alternatifnya, Neandertal yang bertemu leluhur manusia modern adalah kerabat dekat kelompok Neandertal Vindija yang masih mewarisi haplotype kuno yang lebih mirip dengan genome Neandertal Altai dan Denisovan dibanding genome Neandertal Vindija. Untuk menjawab asal-usul fragmen arkaik tersebut serangkaian simulasi dilakukan. Simulasi yang dilakukan mengindikasikan fragmen Denisovan yang ada berasal dari kelompok Denisovan yang telah terpisah dari Denisova 3 (Altai, umur 80000 tahun) sekitar 300-350 kya. Berdasarkan kemiripan fragmennya, introgresi Denisovan berasal dari kerabat dekat kelompok Denisovan dari Altai. Selain itu, simulasi menunjukkan bahwa tidak ada admixture antara Neandertal dan Denisovan karena waktu rekombinasi yang dibutuhkan akan lebih lama untuk mengakomodasi fragmen dari Neandertal dan Denisovan.

skenario admixture skov2020Skenario admixture dari Skov et al. (2020)

Hasil penelitian Skov dan kolega mengindikasikan karakteristik fragmen yang mirip Denisovan pada populasi Eslandia tidak kompatibel dengan skenario introgresi dari Neandertal Vindija atau kerabat dekatnya tanpa sebelumnya mengalami admixture dengan kelompok kerabat Denisovan. Skenario yang juga menarik diinvestigasi lebih lanjut adalah adanya admixture antara kerabat kelompok Denisovan dengan leluhur populasi Eurasia sebelum peristiwa admixture antara Neandertal dengan leluhur manusia modern sekitar 50000-60000 tahun (54 kya). Ini artinya, hipotesis migrasi manusia dari Afrika sekitar 60000 tahun yang lalu dan bertemu Neandertal sekitar 54000 tahun yang lalu menjadi tanda tanya. Apakah ada kelompok Denisovan di sebelah barat pegunungan Altai? Atau, leluhur manusia modern menyebar dari Eurasia Timur dan bertemu Denisovan dan Neandertal di Pegunungan Altai? Seperti skenario pertemuan early Homo sapiens dengan Neandertal Altai sebelum 122000 tahun yang lalu, bahkan kemungkinan sekitar 250000 tahun yang lalu.

isshiki2020Admixture plot dari Mariko Isshiki et al. (2020)

Admixture and natural selection shaped genomes of an Austronesian-speaking population in the Solomon Islands. Perhatikan sharing komponen keturunan antara Ami (aborigin Taiwan) dengan Pasifik. Komponen minoritas Ami telah diterjemahkan berbeda-beda berdasarkan laboratorium genetika yang ada. Anda bisa menginterpretasikan komponen minoritas Ami sebagai komponen Hoabinhian-like hunter-gatherers (CC Wang et al. 2020), atau East Asian farmers (McColl et al. 2018). Jika komponen mayoritas Ami dipandang sebagai first farmers dari lower Yangtze seperti hipotesis David Reich bersama koleganya, maka komponen keturunan yang sampai ke Pasifik adalah komponen Hoabinhian-like hunters atau populasi pemburu daratan Asia Tenggara yang masih dekat kekerabatannya dengan populasi Proto-Malayo-Polynesian, dan mengonfirmasi bahwa penutur Austronesia di Pasifik bukan migran dari Taiwan.

Extensive ethnolinguistic diversity in Vietnam reflects multiple sources of genetic diversity. Dang Liu, Mark Stoneking bersama kolega menganalisis data genome SNP terbaru dari populasi Kinh dan 21 kelompok etnis lainnya di Vietnam, mencakup semua lima keluarga bahasa utama di Daratan Asia Tenggara, bersama dengan data yang sebelumnya dipublikasikan dari populasi saat ini dan sampel kuno.

dang liu2020

Mereka menemukan bahwa kelompok etnolinguistik Vietnam memiliki banyak sumber keragaman genetik yang terkait dengan profil leluhur yang heterogen yang sama di setiap keluarga bahasa. Namun, keragaman linguistik tidak sepenuhnya cocok dengan keragaman genetik; ada interaksi yang tersebar antara kelompok penutur Hmong-Mien dan Tai-Kadai, dan kemungkinan kasus difusi budaya di mana beberapa kelompok penutur Austroasiatik berubah menjadi penutur bahasa Austronesia. Kasus ini banyak terjadi pada populasi di Indonesia bagian Barat, di mana populasi dengan komponen keturunan Austroasiatik bertutur bahasa Malayo-Polynesian bagian Barat.

Dalam kelompok populasi Vietnam saat ini, individu dari keluarga bahasa yang sama sebagian besar berada di lokasi yang relatif berdekatan. Dalam keluarga bahasa tersebut, kelompok penutur Sino-Tibetan, Hmong-Mien, dan Tai-Kadai sebagian besar terpisah dari kelompok penutur Austroasiatik dan Austronesia. Kelompok etnolinguistik Vietnam secara keseluruhan cenderung menunjukkan kekerabatan yang dekat dengan kelompok populasi Taiwan dan Cina Selatan. Namun perlu diperhatikan bahwa penutur Austronesia di Vietnam (Giarai atau Jarai, dan Ede) ternyata lebih jauh secara genetik dari populasi Atayal (Aborigin Taiwan) dibanding kelompok etnolinguistik Vietnam lainnya. Ini membuktikan bahwa komponen genetik keturunan Austroasiatik lebih menentukan kekerabatan penutur Austronesia di Indonesia bagian Barat.

Isotopic evidence for initial coastal colonization and subsequent diversification in the human occupation of Wallacea. Penelitian Patrick Roberts bersama kolega ini pada dasarnya ingin menunjukkan secara langsung bukti kemampuan adaptasi manusia modern di habitat hidup yang cukup menantang, yaitu Wallacea. Tim peneliti menggunakan isotop karbon stabil dari fosil gigi manusia Wallacea untuk merekonstruksi diet atau sumber makanan seperti apa yang dikonsumsi dalam jangka panjang di masa lalu. Hasilnya, manusia paling awal yang digali dari situs Asitau Kuru (Jerimalai, ~42000 tahun yang lalu) di Timor-Leste, memang bergantung pada sumber daya laut, menunjukkan adaptasi yang baik untuk kehudupan di wilayah pesisir. Namun, sekitar 20000 tahun yang lalu, pola makan manusia tampaknya telah beralih ke daratan, menuju sumber daya hutan tropis di pedalaman pulau tersebut. Sumber daya pesisir seperti kerang dan ikan karang mudah dieksploitasi dan tersedia sepanjang tahun, tetapi populasi yang terus bertambah kemungkinan memaksa penghuni awal Wallacea untuk mencari daratan ke sumber daya lainnya.

Berangkat dari ‘we are what we eat’ para peneliti menyimpulkan bahwa spesies kita bisa menjadi the last hominins standing karena paling mampu beradaptasi dengan berbagai lingkungan di seluruh muka bumi. Mereka lupa bahwa kita mampu beradaptasi dengan berbagai habitat hidup ekstrim karena kontribusi dari para pendahulu kita seperti Homo erectus, Denisovan, dan Neandertal, dalam gen kita.

Ikuti terus update-nya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s