Pertama


Sejarah Populasi Indonesia – tahap pertama

Kita harus melihat sejarah dan migrasi manusia modern di kepulauan Nusantara sebagai proses berkelanjutan, rangkaian pertukaran gen antar populasi dari berbagai garis keturunan. Secara morfologi dan genetik, sangat tidak mungkin bahwa sejarah populasi kepulauan yang sering terlupakan ini sebagai akibat dari persebaran populasi tunggal pada akhir kala Pleistosen oleh sekelompok manusia modern yang migrasi dari Afrika timur. Kita senantiasa tetap membuka pikiran untuk menerima bahwa sejarah populasi yang lebih kompleks terjadi yang mungkin lebih konsisten dengan data-data, termasuk informasi dari bukti arkeologi dan fosil manusia. Dan kita harus tetap terbuka terhadap berbagai kemungkinan bahwa setiap skenario tentang asal-usul manusia modern harus melibatkan perkawinan campur, baik dengan manusia purba ataupun antar manusia modern dari berbagai garis keturunan.

Y chromosome tree 2016

Asumsi awal sejarah populasi Indonesia berdasarkan genetik dimulai dengan tahap awal prasejarah Indonesia, yang merupakan bagian dari sebaran populasi Eurasia sekitar 70.000 tahun yang lalu. Tahap awal yang melibatkan migrasi populasi yang membawa Y-DNA (garis keturunan pria) haplogroup C-RPS4Y711T dan F-P14*, yang diasumsikan melewati jalur utara pegunungan Himalaya, kemudian menyusuri Siberia bagian selatan dan Cina bagian selatan, yang akhirnya mencapai Sundaland, dan gelombang awal ini juga terekam dalam mtDNA (garis keturunan wanita) haplogroup N* dan keturunannya (N21, N22, R21, R22, R23), dimana populasi Indonesia timur dan Melanesia mewarisi proporsi ini dengan frekuensi cukup tinggi, dan dari Y-DNA haplogroup C-M38, K-M526*, M-P256 dan S-M230 (yang tergabung dalam K2b1).

Gelombang yang datang kemudian, terjadi setelah sebaran awal orang kemudian mendiami Australia dan Melanesia (masih dalam Marine Isotope Stage (MIS) 4, ketika zona padang pasir Afrika dan Arab ditinggalkan, dan zona yang lebih menguntungkan di Timur Tengah seperti Levant dan dataran tinggi di utara Iran diduduki oleh Neandertal, manusia modern sukses memasuki India dan terjadi perubahan besar dalam catatan Palaeolitikum India).

Sebaran kedua ini, melalui sepanjang pantai selatan Arab, kemudian menuju India dan akhirnya mencapai semenanjung Malaysia dan Kepulauan Andaman, mereka adalah nenek moyang sebagian besar keturunan di Asia Tenggara, termasuk masyarakat pemburu-pemulung di daratan Asia Tenggara dan manusia pribumi Kepulauan Andaman (Y-DNA D dan mtDNA M* dan keturunannya (M21a, M21b, M21d, M45, M45a dan M46, yang kebanyakan dari mereka mendiami semenanjung Malaysia dan Kepulauan Andaman. Khusus M46, basal haplogroup, tersebar di Nusantara dan menjadi minoritas di kepulauan Mergui sebagai Orang laut Moken, dan mereka yang menuju Madagascar).

Beberapa garis keturunan yang lebih tua muncul terlacak kembali di Asia Tenggara. R21 (populasi Negrito terisolasi di Malaysia barat) yang hanya ditemukan di Mentawai (0,8%), terpisah dari leluhurnya, haplogroup R, sekitar 60.000 tahun yang lalu. Garis keturunan mtDNA lainnya (N21 dan N22) terdapat, walau dalam frekuensi yang sangat kecil, pada penduduk Indonesia (Sumatra dan Sumba) dan Orang Asli semenanjung Malaysia yang berumur lebih tua dari haplogroup R (kemungkinan datang bersama gelombang pertama dari Eurasia ke Timur jauh pra-letusan Toba, dan bersama pribumi Kepulauan Andaman (D-M174, M21). Lima puluh satu haplogroup teridentifikasi, dengan semua garis keturunan jatuh ke dalam mtDNA makro-haplogroup M (47.05%) dan N (52,95%).

Apakah asumsi tersebut akurat berdasarkan data-data genetika terbaru? Jawabannya disini.

Informasi ini akan sangat berguna untuk mempelajari sebaran haplogroup populasi Indonesia, sebagai sarana menguji hipotesa dari kolonisasi paparan Sahul, karena hal tersebut muskil terjadi jika mereka tidak melewati kepulauan Indonesia. Variasi frekuensi Neandertal dan Denisovan pada populasi di timur Wallace’s Line saat ini juga dapat dijelaskan oleh sebaran awal manusia modern di Sundaland dari utara melalui Cina selatan, daripada menyusuri pantai selatan India. Kita masih harus mencari tahu sebab sangat sedikitnya garis keturunan Denisovan pada populasi Indonesia di sebelah barat Wallace’s Line. Kita mengharapkan tahap kedua tersebut bisa memberikan jawaban, dan mengingat keragaman populasi saat ini, tahap kedua tersebut cukup panjang rentang waktunya, tahapan yang mendahului ekspansi populasi di jaman Neolitik. Kita juga harus ingat bahwa setiap migrasi manusia, termasuk pendatang baru, pasti akan berinteraksi dengan penduduk lokal. Kita mungkin akan menjumpai migrasi manusia yang terus-menerus di seluruh penjuru Sundaland dimasa lalu. Dan kita masih harus berpegang pada satu-satunya fakta bahwa saat ini populasi yang mewarisi material genetik Denisovan jumlahnya sangat sedikit, bahkan nihil di wilayah yang menghubungkan Asia daratan selama era Pleistocene Akhir. Jika fakta ini ternyata salah, maka kita harus meninjau kembali seluruh informasi ini.

Secara garis besar, komposisi populasi Indonesia saat ini adalah seperti diagram di bawah:

Haplogroups in Indonesia

Haplogroups in Indonesia

One response to “Pertama

  1. Ping-balik: Restrukturisasi Haplogroup K-M526 | The Forgotten Motherland·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s